Hellbent

Hellbent
Bab 18: Tiga Kali Kebetulan Artinya Takdir


__ADS_3

Ava mengutuk dalam hati meskipun wajahnya menampakkan senyuman. Ezra dengan kemampuan aktingnya yang patut dimasukkan dalam nominasi Oscar berkata dengan antusias kalau 'ternyata' penginapan yang mereka sewa sama. Lagi-lagi sebuah kebetulan, pangeran itu mengangguk-angguk karena pernyataannya sendiri.


Selena memperhatikan interaksi mereka semua dengan mata berbinar-binar, langsung tertarik dengan topik yang secara tidak langsung disinggung tersebut. River, menjadi pria yang ramah seperti biasanya, menerangkan panjang lebar pertemuan mereka, diakhiri dengan tambahan penjelasan Ezra mengenai perburuan sadis Ava.


Sadis. Ava mengernyit terhadap kata tersebut. "Mungkin yang kau maksud efektif," timpalnya tidak setuju. Namun ketidaksetujuannya ditolak oleh si pangeran yang menggelengkan kepalanya. "Cara yang paling efektif adalah memanah mereka, sekali tembak langsung mati, tapi kau membanting burung-burung malang itu ke batu karena mereka memukulmu dengan ekor."


"Kuingatkan saja tailed cannary memiliki ekor sekeras batu."


"Kan, kau pendendam! Sadis." Ava melihat sekelilingnya, mencari pembelaan. Sebenarnya Ava sudah tahu kecenderungannya untuk membalas perbuatan yang berimbas padanya, baik ataupun jahat, manusia atau bukan. Namun sebuah pembelaan akan membuat perasaannya lebih ringan.


River mengangkat bahu, dia tidak bisa berpendapat karena ia tidak ada di sana. Al diam dengan wajah datar, sedangkan keponakannya, Roy, menatap Ava dan Ezra secara bergantian, bingung serta khawatir. Di sisi lain, Selena yang memutuskan untuk menyamakan penginapannya juga, menyaksikan perdebatan mereka dengan senyum jahil. "Kalian tahu pepatah orang, pertemuan pertama dinamakan kebetulan, pertemuan kedua disebut kepastian, lalu pertemuan ketiga adalah takdir. Artinya kalian berjodoh!"


Omong kosong. Namun Ava ahlinya menyamarkan ekspresi wajah, sehingga tidak ada yang tahu jika dia menahan diri agar tidak memasukkan paksa sebatang sabun mandi ke dalam mulut Selena.


Pertemuan pertama mereka memang kebetulan, tapi yang kedua dan ketiga dinamakan menguntit. Stalker.


Mereka berenam duduk melingkar di sebuah meja besar restauran yang ada di penginapan. Suasana di sana riuh, para pelaut yang akhirnya menginjakkan kaki di daratan memuaskan diri mereka dengan bergalon-galon jenis alkohol, wanita, dan permainan. Di sudut matanya Ava dapat melihat sekumpulan orang bermain kartu , di tengah-tengah mereka gunungan koin menjadi taruhannya. Bagaimana kalau Ava mencuri hasil perjudian mereka? Dirasa akan lumayan. Melihat kondisinya, sebagian besar dari kumpulan tersebut mabuk, wajah dan mata yang memerah, badan terhuyung, bahkan sudah ada yang pingsan terlebih dahulu meskipun matahari sore belum sepenuhnya terbenam. Kalau dia dapat mengalihkan perhatian mereka, Ava akan mendapatkan kesempatan untuk--


"Kau ingin bermain kartu? Bagaimana sekalian saja kita bertaruh?" Ezra tiba-tiba memutus rantai pikirannya.


"Aku tidak sepenuhnya mengerti aturan permainannya," jawab Ava setengah berbohong. Di dimensinya, Ava jago sekali berjudi, apalagi jika yang dimainkan adalah poker, permainan kartu yang lebih mengandalkan pembacaan raut wajah serta psikologi daripada keberuntungan. Namun berhubung dimensi ini dengan asalnya memiliki perbedaan di sana-sini, Ava tidak dapat memastikan kemenangannya.


River mengambil alih pembicaraan dengan peraturan permainan-permainan kartu yang ada, "Aku tidak begitu pandai bermain, tapi aku masih tahu cara mainnya," River menutup kalimatnya.


Intinya, black-jack ataupun poker memiliki peraturan yang sama. Dengan kata lain, Ava bisa mendapatkan banyak uang jika berjudi. Tapi pernah ia berjanji pada Lexa untuk tidak berjudi secara berlebihan, jadi dia akan menahan diri.

__ADS_1


Selena ber-"wah" dengan mata yang berbinar-binar, namun Ava yakin kalau wanita itu lebih memerhatikan wajah-wajah rupawan di sekitarnya daripada kagum dengan penjelasan permainan kartu yang dijelaskan. Al masih tidak peduli, sedangkan keponakannya melirik diam-diam Ezra. "Mari kita bermain!" Roy bersorak setelah beberapa saat, mungkin mendapat sinyal dari majikannya.


"Bagaimana? Poker? Lebih seru jika mempertaruhkan sesuatu juga," Ezra sigap menimpali dengan pandangan arogan yang menantang.


... Hm.


Untuk sekarang ini Ava akan mengikuti skema terselubung si pangeran itu, mengetes situasi, kemudian mundur jika ia mencium hal-hal yang berbau mencurigakan.


"Kita pertaruhkan dulu 30 koin sebagai pembuka." Ezra mengangguk puas akan jawaban Ava.


Dengan begitu mereka berenam bermain poker, setiap giliran memiliki bandar yang berbeda.


Awal permainan suasana masih jinak, tidak ada serangan yang Ava deteksi, setidaknya pada saat itu. Babak pertama dimenangkan oleh Roy, yang memasukkan uang kemenangannya dengan canggung ke inventori.


Babak kedua Ezra fold, menyerah dengan kesempatannya untuk menang pada giliran itu, Ava yang menjadi bandar mengernyit curiga.


Selena ragu-ragu mengikuti arus, Ezra sendiri terlihat lebih bersemangat, cahaya di matanya mulai memanas. Al yang menjadi bandar melihat tanpa berbicara.


"Tambah, 100 koin." Akhirnya Selena mundur, meninggalkan mereka berdua untuk saling bersaing.


"Tambah, 150 koin." River di sampingnya terkesiap. "Rina!" tegur pria itu.


Namun seringai Ava masih saja muncul, sekarang ia balik menggigit.


Kesempatannya untuk menang hanya dengan sepasang kartu 10 sebenarnya kecil, hanya saja poker bukan permainan kartu yang cuma mengandalkan keberuntungan. Perang mental juga termasuk di dalamnya.

__ADS_1


Ava tahu maksud awal Ezra ketika mengajak mereka untuk bertaruh, maka dia manfaatkan celah tersebut untuk memenangkan uang.


Babak tersebut pun dimenangkan oleh Ava.


Pada giliran selanjutnya juga mengikuti pola yang sudah ditata sebelumnya. Berbekal alasan "keberuntungan pemula", Ava terus menaikkan taruhan yang ada, terlebih jika kartu yang ia miliki berkesempatan tinggi untuk menang. River bermain dengan aman, bertaruh jika memang ia merasa unggul lalu mundur saat kartu yang ia dapat jelek. Selena hanya ikut-ikutan, terlihat masih belum paham benar aturan permainan poker. Al terlalu banyak fold, jadi secara natural ia akhirnya mengundurkan diri dan rela menjadi bandar tetap. Sedangkan Roy terlalu mudah dibaca, kemampuan aktingnya masih payah, mungkin karena itulah saat drama "bandit hutan" kemarin dialog yang ia terima tidak banyak. Ezra seperti yang diperkirakan, menantang sampai akhir. Tentu saja ada waktu ketika Ava harus mundur, untuk menyeimbangkan winning rate-nya agar pemain lain tidak mudah menyerah, dengan begitu mereka akan merasakan kalau ada peluang untuk menang. Karena semakin banyak yang ikut, semakin besar uang kemenangannya.


Hingga akhirnya babak ke-21, Ezra berkata, "Ah, uangku sudah menipis, tapi aku masih ingin bermain."


Pembohong. Ava tahu betul terdapat belasan digit koin pada inventori pria itu.


Saat inilah kemungkinan besar Ezra mengungkapkan niatan yang sebenarnya ia punya. Dengan Al, pelayannya, yang menjadi bandar, kemudian Roy yang akan menjadi hype-man, menyetujui apapun kata Ezra, akan menggoyahkan Selena ataupun River sehingga yang apapun pangeran itu katakan akan menjadi keputusan mayoritas. Rencana yang telah disusun akan segera dilaksanakan.


"Bagaimana kalau jika aku kalah, aku akan menuruti permintaan dari sang pemenang?"


"T-tapi kalau begitu tidak adil, mungkin kita bisa mempertaruhkan hal yang sama? Jadi pemenang bisa membuat permintaan untuk kita masing-masing."


Ah, jadi ini desain jebakan mereka.


Selena hampir saja mengangguk ketika Ava segera menguap. Tindakan gadis itu langsung mengalihkan perhatian River, pria tersebut berkata, "Oh, kau sudah lelah? Memang sudah malam, sih."


"Aku akan tidur saja, kalian boleh lanjut bermain."


Ezra terlihat terpaku, mungkin tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Yah, wajar saja jika Ava yang mengaku sebagai pemula, berada dalam kemenangan besar pada permainan pertamanya, akan diasumsikan terus bermain setidaknya sampai jalur keberuntungannya berhenti.


Namun pangeran itu salah perhitungan. "Loh, tunggu!" River juga setia mengikuti Ava kali ini, meninggalkan meja mereka dengan satu kalimat terakhir, "Kalau uang yang kau miliki sudah habis, aku bisa meminjamkan beberapa koin, tapi jangan sampai kecanduan berjudi."

__ADS_1


Rasakan.


__ADS_2