
Komisi untuk membuat power bank sudah teratasi, item itu setidaknya membutuhkan waktu seminggu untuk melakukan percobaan pertama. Artinya, Ava harus berusaha menjaga kestabilan emosinya dengan cara yang lain.
Pengiriman bisa dilakukan melalui [System], jadi dia menjadikan ID toko Bia sebagai akun yang Ava ikuti, begitu pula sebaliknya. Saat itulah River mencolek bahunya, bertanya dengan mata, Ava menunggu apa yang mengganggu pria itu, "Aku ingin mengikutimu juga!"
Oh. Ava kira River sudah melakukannya dari dulu. Jadi mereka juga bertukar ID. River terlihat berseri-seri setelahnya, pria itu langsung melihat-lihat apa yang ada dalam akun Ava, namun isinya kosong.
Layaknya aplikasi sosial media, Ava bisa membuat beberapa akun sekaligus, asalkan dia membayar biaya administrasinya. Peraturan longgar seperti inilah yang memancing banyak penipu. Yang Ava berikan kepada dua orang di depannya adalah akun bernama "Rina_Colby", salah satu identitas palsunya. Ia juga mempunyai akun yang bernama "V-Herbalist" untuk menjual bubuk bius yang tersisa serta ramuan double EXP-nya, meskipun belum ada yang berani membeli karena harga yang ia patok. Kalaupun tidak ada yang membeli, slot toko bisa ia gunakan sebagai slot inventori tambahan, jadi tidak ada ruginya.
Tapi ramuan double EXP tidak berguna bagi Ava yang tidak bisa menaikkan level. Jadi ia merencanakan hal lain.
***
Malam itu adalah malam terakhir Ava di Englerock, kapal penumpang yang ada akhirnya akan berangkat besok setelah penundaan selama seminggu
Ezra dan Ava bermain kucing-kucingan seperti biasa, pangeran itu belum menyerah untuk mengikat Ava dalam perjalanannya mengumpulkan kredit takhta kerajaan. Dan setiap kali ia berhasil lolos dari tipu muslihat Ezra, semakin beku pula tatapan Al kepada Ava.
"Sudah kubilang, tempat tujuan kita berbeda, jadi kau tidak bisa menyewaku sebagai pengawal," kesekian kalinya Ava mengingatkan.
"Maka dari itu, aku bertanya, tempat tujuanmu kemana memangnya? Kau bahkan belum mendengar destinasiku," lagi dan lagi Ezra menyanggah.
"Kapal yang akan kita naiki saja berbeda, tempat singgahnya pasti berbeda pula."
Karena desakan si pangeran dan pelayan tua, River akhirnya membocorkan tiket kapalnya di bawah tekanan. Jadi Ava mengancam Roy agar membeberkan tiket mereka juga. Besok akan ada tiga kapal yang berangkat ke tujuannya masing-masing, untungnya Ava sudah tahu kalau destinasi ketiganya berbeda-beda. Dengan begini, Ezra tidak bisa memakai alasan "kebetulan" sekali lagi.
__ADS_1
"Tujuanku hanya ingin berpetualang, kemanapun aku bisa." Ava menggeram dalam hati. Jadi taktiknya bergeser sekarang? Tapi pangeran seperti dia tidak akan terima jika otoritasnya diancam, jadi Ava yakin Ezra tidak akan benar-benar menurutinya jika dia dan pelayannya tetap bersikukuh ikut serta dalam perjalanannya.
"Sewa saja tentara bayaran yang lebih berpengalaman, aku cuma seorang herbalis, yang bisa bertarung dalam kelompok kita nanti hanya River seorang."
"Aku lebih suka kalau orang yang kusewa adalah orang yang kukenal."
"Kita cuma bertemu dua minggu yang lalu."
"Setidaknya kau tidak berniat mengancam nyawaku."
"Kalau nyawamu memang sepenting itu, lebih bagus lagi kalau kau menyewa orang yang memang bisa menjagamu dari bahaya, bukan orang asing yang kekuatannya belum jelas seperti kami berdua."
"Tapi aku tahu potensi kalian tergolong tinggi, terlebih kau." Ezra menunjuk Ava dengan ujung jarinya.
Inikah petunjuk skill yang dimiliki si pangeran yang membuat dia terobsesi terhadap Ava? Melihat potensi seseorang?
Ava masih belum bisa mengecek skill Ezra secara pasti, kemampuan observasinya untuk melihat skill masih dalam cooldown, setidaknya besok pagi ia bisa menggunakannya lagi.
"Tetap saja, rekrut orang yang memang mau. Yang kau butuhkan bukan cuma orang yang kuat, tapi juga yang loyal."
"Aku tahu, aku hanya--" Namun ucapan Ezra terhenti dengan sendirinya. Walaupun keduanya tidak menaikkan suara mereka ketika berdebat, ketegangan terasa menyesakkan dalam ruangan itu. Orang-orang lain yang makan di restoran tersebut pun ikut-ikutan tersenyap, membiarkan kecanggungan panas yang ada memanjang hingga Al memberikan gelas bir yang belum diminumnya kepada Ezra.
Ava menarik napas panjang, sadar bahwa hari ini hampir semua yang terjadi membuatnya iritasi, dan kekeraskepalaan si pangeran itu tidak membantu. Mungkin melihat ujung mulutnya yang kaku, River pun menepuk lembut ujung kepalanya, yang malah membuat Ava merasa seperti hewan yang ditenangkan. Ia pun mendengus, walaupun tidak berusaha menjauhkan tangan River dari rambutnya.
__ADS_1
"Kalau dari yang kudengar, pihak A tidak ingin menjadi pengawal karena destinasi yang berbeda, tapi pihak B bersedia mengikuti pihak A karena tujuan mereka hanya ingin berpetualang. Kemudian alasan yang kedua adalah karena pihak A merasa tidak mumpuni dijadikan sebagai pengawal, namun pihak B bersikeras kalau kekuatan yang mereka miliki cukup, selain itu pihak B lebih nyaman dengan pihak A yang dikenal secara personal daripada tentara bayaran. Bukankah dengan begini alasan yang diberikan pihak A tidak valid untuk menolak?" Selena, sebagai pihak ketiga, mendadak berpanjang lebar.
Wanita itu kaget saat pandangannya bertemu dengan manik hitam yang seakan-akan membakarnya hidup-hidup. Jantungnya melompat keras di dada, detakannya hampir bisa ia rasakan di tenggorokan. Namun dalam sekejap sinar permusuhan sirna dalam sorot Ava, hilang seolah apa yang barusan Selena lihat hanyalah kepingan imajinasi yang bermanifestasi dari suasana tegang saat ini.
"Meskipun kalian ikut, aku punya objektif yang harus kudapatkan, tapi maksud perjalanan kalian adalah berpetualang, dalam artian lain bereksplorasi. Menurut pengalamanku, hal seperti itu membutuhkan komitmen berbulan-bulan, sedangkan aku memiliki seruntutan rencana jangka pendek yang kuperkirakan akan memakan waktu dua minggu per poinnya."
"Bukankah artinya kalau kami ikut kau akan mendapatkan tambahan bala bantuan?"
"Perjalanan ini tidak dimaksudkan untuk bersenang-senang, karena aku punya agenda tersendiri."
"Kau bisa menentukan ke kota mana saja kita akan pergi, biarkan kami yang bersenang-senang sendiri."
Ava tidak percaya pangeran ini masih saja berusaha mati-matian mengikatnya, Ezra pasti merasa terhina karena harus mengabaikan harga dirinya sebagai keluarga kerajaan karena seorang gadis jelata asing yang kebetulan ia temukan dan dianggap berguna sebagai pion dalam catur politik takhtanya.
Namun itulah alasan tambahan Ava semakin keras menolak, karena jika ia menyerah sekarang, balasan Ezra akan semakin besar nantinya.
"Namun artinya masalah yang akan masing-masing kita buat akan juga menyeret yang lainnya." Berbagi tanggung jawab.
"Kami tidak berniat membuat masalah," Roy yang sedari tadi menggeliat tidak nyaman akhirnya angkat bicara.
"Tapi aku yang berniat membuat beberapa masalah." Ava adalah seorang kriminal dengan kecenderungan impulsivitas yang tinggi, dia sepenuhnya yakin perjalanannya nanti akan dihamburi oleh perkara yang dengan sengaja ia ciptakan sendiri. Daftar to-do pertamanya bahkan menjebol masuk ke lab Eve, lalu merampok apapun yang berharga dari sana, buka hanya item yang ia butuhkan. Dan kehadiran Ezra sebagai sosok berwenang tentu saja akan menghambatnya.
Dengan begitu Ezra dan Roy terdiam. Al yang sudah menyerah dari awal mengangguk mengerti. Selena, pihak ketiga yang tidak sengaja hampir menjerumuskannya dalam skema si pangeran masih mematung kaku. Sedangkan River menyoroti Ava dengan tatapan khawatir.
__ADS_1