
Zap!
Ava terpaksa menutup mata, sinar membutakan yang meledak di depan wajahnya seolah membakar retina. Ia membiarkan kelopak matanya berdenyut untuk beberapa saat. Ketika terbuka, pandangannya dipenuhi oleh teks singkat pada hologram biru, serta kegelapan yang menjulur entah sampai mana.
Tuliskan nama pengkhianat menurut Anda!
_____
Kesempatan untuk menuliskan nama hanya satu kali, pilihan tidak bisa diubah.
... Apakah Eve menariknya lagi ke dalam alam bawah sadar? Namun ia tidak melihat dopplegangger-nya dimanapun. Belum sempat melempar kalimat sarkastik guna memancing sang putri yang asli, hitungan mundur dimulai dari angka 60 muncul.
Oh.
Walaupun familiar, Ava bukan berada di domain buatan Eve, melainkan ruang hitam hampa milik [System]. Dan sekarang ia memiliki waktu kurang dari satu menit untuk
menuliskan nama orang yang ia curigai. Namun Ava sudah memutuskan sejak awal, kesempatan ini masih prematur apabila digunakan sekarang.
Mereka hanya boleh menuliskan satu nama saja, tidak boleh diubah.
__ADS_1
Karena itulah ia membiarkan angka di hadapannya berjalan mundur dalam diam.
Ding!
Waktu habis!
Kali ini gadis itu siap, matanya sudah tertutup ketika ia merasakan bahwa tubuhnya lagi-lagi
diteleportasi. Butuh tiga detik untuk Ava sadar bahwa dirinya dipindahkan ke kamar barunya yang masih asing.
Remang-remang, lilin yang digunakan sebagai sumber cahaya telah padam. Ia menoleh ke arah jendela yang terbuka, alasan dibalik angin malam dingin berhembus mengibarkan
Ava mematung.
Meskipun telah dua bulan ia menjalani hidup sebagai putri palsu, kebiasaan belasan tahun hidup mandiri di tengah-tengah lingkungan yang minim pengawasan tidak hilang begitu saja. Sebagai gadis yang tinggal sendirian,
jendela yang terbuka hanya akan menjadikan rumahnya target utama pencurian, bahkan
kejahatan yang lebih buruk lagi. Makanya ia tidak peduli dengan hawa panas atau kamar yang pengap, Ava tidak pernah memilih untuk membuka jendela. Walaupun ia membiarkan para pelayan melakukannya saat ia berpura-pura menjadi Eve, ia menolak secara aktif untuk melakukannya sendiri. Dan sehari penuh berperan sebagai permaisuri, Ava tidak pernah mengijinkan seorang pelayan memasuki kamarnya.
__ADS_1
Kehilangan poin status yang membuatnya memiliki lima indra super, bukan berarti Ava menjadi tidak berdaya. Karena beginilah ia aslinya. Tanpa pengaruh fantasi, Ava merupakan gadis impulsif yang was-was dan observan.
Ia berjalan tenang ke arah meja rias, mengambil kandil besi sebagai senjata pertahanannya. Lalu berbalik, memastikan punggunggnya dekat dan menghadap tembok. Dengan begini apabila ia diserang, penyerangnya hanya memiliki tiga pilihan: depan, kanan, kiri. Manik hitamnya terbuka lebar, meneliti setiap pergerakan yang ia tangkap.
Tapi selain paranoianya terhadap jendela yang terbuka, tidak ada yang mencurigakan.
Tidak ada penyusup yang bersembunyi dalam bayang-bayang.
Tidak ada monster yang menunggu di sudut ruangan.
Debaran konstan di dada menjadi jangkar Ava terhadap kenyataan. Ia melangkah hati-hati menuju jendela, punggungnya masih menempel dinding. Tangan kanan memegang erat kandil lilin, siaga. Kanan kiri terjulur, meraih kusen agar gadis tersebut dapat
menutup sumber kecemasannya.
Klik! Cklek!
Ava memastikan sekali lagi, kini lebih berani. Lemari pakaian, di bawah kasur, kamar mandi. Nihil kehadiran orang asing.
Akhirnya, ia memutuskan untuk berbaring. Sayangnya, sisi paranoid Ava lebih besar dari sisi rasionalnya. Meskipun matanya terpejam, ia tidak bisa terlelap. Sepanjang malam.
__ADS_1