
Kekurangan tidur membawa perasaan-perasaan jelek yang tidak ingin Ava bahas. Apalagi ketika pikiran lelahnya disertai dengan nyeri otot yang tidak bisa ia istirahatkan selama seminggu penuh.
Ava sudah mengantisipasi adanya misi gate kedua yang menunggu setelah tim improptunya mengalahkan monster bunga pemakan manusia, sebab dia sudah mendapatkan bocoran dari wanita asing yang Ratu Isabel selamatkan. Namun bukan berarti gadis itu menyambut tambahan quest yang ada.
Dimasukkan dalam sebuah permainan yang memaksanya untuk tidak mempercayai siapapun membuat ia gelisah.
Dan tantrum yang dilakukan Ellijah tidak membantunya tenang.
Satu-satunya orang yang Ava kenal malah menjadi sumber lain dari denyut pusing di pelipisnya. Setidaknya, satu menit penuh yang ia dedikasikan hanya untuk bernapas masih dapat meredakan titik panas pada dadanya.
Huh.
Terserah.
Ava sudah terbiasa sendiri.
Ia bisa menyelesaikan misi pribadinya dengan atau tanpa bantuan siapapun.
Jadi ia memasang wajah Hollywood, tersenyum dengan kemanisan yang menandingi sakarin. Metode utama dalam jalur kriminal yang ia jalani belasan tahun mengajarkan kalau wajah polosnya sangat efektif dalam menurunkan waspada lawan, senjata andalan Ava ketika ingin menipu jutawan sombong. Karena itulah, ketika ia menghampiri belasan pelayan yang mondar-mandir di sekitar istana, meskipun diawali dengan keengganan sebab rasanya tabu membicarakan orang yang meninggal apalagi monarki yang merupakan atasan mereka, banyak yang lama-kelamaan tersanjung dan dengan senang hati memaparkan apa yang ingin gadis itu ketahui.
Informasi ialah hal yang krusial dalam sebuah penyelidikan.
Ava mencermati catatannya sekali lagi.
Siapa yang sekiranya memiliki dendam terhadap raja?
__ADS_1
"Saya rasa Duke Britius benar-benar mencurigakan, Yang Mulia."
"Ah, betul sekali! Duke Britius adalah garis selanjutnya dalam penurunan takhta!"
"Ya ampun, benar! Karena Yang Mulia Raja tidak memiliki keturunan, pria kejam itulah yang akan menjadi raja!"
Ketiganya langsung tutup mulut, terlambat menyadari kalau mereka tidak sengaja menjelek-jelekkan seorang bangsawan sekaligus menyinggung Ava--berperan sebagai permaisuri--yang belum memiliki anak setelah tiga tahun pernikahan dengan sang raja.
Duke Britius. Tersangka pertama.
"Yang Mulia, kalau boleh saya mengutarakan pendapat, sekretaris raja perlu diselidiki."
"Ah, Viscount Punitar? Apakah karena rumor yang beredar itu?"
"Tepat sekali, saya mendengar kabar burung bahwa sekretaris raja memiliki hubungan dengan dunia kriminal. Banyak yang berspekulasi kalau itulah alasannya Yang Mulia Raja berdebat panjang dengan sekretarisnya pada rapat minggu lalu.
"Mungkin kepala penjaga dan kepala pelayan?"
"Raja masih belum merestui hubungan mereka meskipun sudah bersujud-sujud?"
"Yah, walaupun kepala pelayan memiliki kekuasaan di dalam istana, dia pada dasarnya masih memiliki status rakyat jelata, sedangkan kepala penjaga adalah seorang Marquiss."
Ava sudah tahu siapa kepala penjaga, satu-satunya bocah yang menjadi pemain dalam misi kali ini, namun untuk kepala pelayan ia masih belum tahu. Siapapun itu, tersangka ketiga dan keempat ditemukan.
"Saya yakin sekali Viscount Abelot yang menjadi dalangnya!"
__ADS_1
"Ah, tuan yang tertangkap menggelapkan harta karun kerajaan, bukan? Sayangnya dia belum dieksekusi karena ancaman perang dari Kerajaan Aylard lebih penting."
... Jadi ada resiko perang melawan negara tetangga?
Hm. Viscount Abelot, tersangka kelima.
"Eh, bukankah ibu dari Marquiss Isembart adalah putri ke-delapan dari Kerajaan Aylard?"
"Menurutmu, seorang Marquiss mengkhianati tanah airnya dan sekongkol dengan musuh?"
"Bisa saja, bukan?"
Marquiss Isembart, tersangka keenam.
Enam pelaku potensial.
Lima motif yang berbeda.
Ava tahu investigasinya masih belum lengkap mengingat terdapat sepuluh pemain yang dibawa oleh [System]. Yah, sembilan, karena salah satu dari mereka terlebih dahulu direnggut nyawanya.
Ia juga menemukan kalau yang diperankan oleh teman Dion ialah butler pribadi raja, yang mana meskipun ia tulis nama lengkapnya segera Ava coret. Karena orang yang telah mati tidak akan bisa menjadi pengkhianat yang mereka cari.
Sisanya tinggal dua tokoh yang belum ia temukan identitasnya. Secara natural, Ava tidak memasukkan dirinya sendiri dalam rumus "bukti + motif \= tersangka" ini.
Namun ia membutuhkan alibi guna mendukung rencananya. Maka dari itu Ava menggali pula hubungan-hubungan orang-orang yang mencurigakan dengan perannya, sang permaisuri. Sayangnya, senyum manis dan gestur ramah tidak cukup untuk mengupas hal tersebut.
__ADS_1
... Kenapa?
Para pelayan dengan mudahnya memaparkan gerak-gerik jajaran tersangka tadi, kenapa sekarang berhenti saat ia menanyakan benang yang menghubungkannya dengan peran pemain lain?