
Ava secara praktis melompat keluar dari kereta kuda pada detik mereka sampai. Untuk sekarang ia akan memberikan Ellijah benefit of the doubt hingga Ava bisa mengkonfirmasi informasi tadi secara langsung kepada kepala pelayan. Namun gadis tersebut tetap saja masih marah dengan pengakuannya setelah itu.
Manusia itu terkadang berperilaku seperti binatang. Ava seharusnya sudah terbiasa.
Mungkin saja karena wajah Ellijah yang mirip dengan Alex, sehingga Ava meletakkan ekpektasi yang lebih tinggi dari biasanya.
Para mage yang semula sudah bersiap menyambutnya, otomatis melompat mundur, kaget dengan tindakan sang Putri yang tidak biasa. Mereka saling melirik, menyadari perasaan buruk Putri Eve, karena hal yang pertama kali sang putri lakukan ialah mendengus kesal.
Tidak lama Rose turun dengan panik mengikuti majikannya. Begitu pula Ellijah yang kemudian berdiri tegak di samping Ava, meskipun dagunya terangkat pria itu masih melirik diam-diam ke arah gadis tersebut, mengukur reaksinya. Lebih baik ia membiarkan Eve untuk tenang terlebih dahulu.
__ADS_1
"S-selamat datang, Tuan Putri, Duke Frost" mage yang terlihat paling tua di antara setengah lusin orang yang berbaris maju satu langkah, menyambut dua orang berstatus itu.
Kita selesaikan dengan cepat saja proses ini.
"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan--" Ava mengecek status jendela dengan skillnya, "Tucker. Kami sudah merepotkan departemen sihir kerjaan ketika masih pagi buta seperti ini." Berbeda dengan pebisnis yang mengedepankan uang dan politikus yang menjunjung tinggi kekuasaan, para mage terkenal dengan obsesi mereka terhadap sihir ataupun ilmu pengetahuan, dengan kata lain orang culun. Namun bukan berarti mereka terbebas dari hasrat duniawi, karena obsesi mereka terhadap sihir itulah, diperlukan banyak modal untuk mendukung penelitian yang diadakan. Jadi Ava setengah yakin kalau Tucker menyeret kawan-kawannya yang lain untuk menjilat kepada sang putri dan Duke Frost, berharap agar biaya untuk percobaan mereka dinaikkan.
Karena dengan begitu, artinya sudah terjamin terdapat kebocoran informasi meskipun perjalanan mereka ini seharusnya dirahasiakan. "Namun saya melihat banyak sekali orang yang hadir, Tuan. Bisa dijelaskan?"
Dan benar saja, pupil dalam mata laki-laki tua tersebut bergetar, "A-ah, ini ... anu, karena Tuan Putri berniat menggunakan teleportasi, kami membutuhkan banyak mana."
__ADS_1
"Selain menjadi seorang putri, saya juga peneliti, Tuan. Sihir teleportasi memang membutuhkan banyak mana, akan tetapi bukankah suplai batu mana yang disediakan oleh kerajaan sudah mencukupi? Atau angka yang ada dalam laporan tidak benar dari kenyataan?" Tidak ada yang berani bersuara. Karena yang dikatakan Putri Eve sama saja dengan tuduhan penggelapan modal, topik sensitif bagi para mage yang obsesinya adalah sihir.
Baru setelah berdehem selama setengah menit, Tucker baru menjawab takut-takut, "Ma-maksud saya, untuk berjaga-jaga k-kalau saja ada yang sa-salah." Suara pria tua itu bahkan semakin parah bergetar.
"Bukankah prioritas perjalanan ini adalah kerahasiaan dan keamanan?" Ava yang moodnya sedang buruk tidak henti-hentinya menusuk musuhnya dengan argumen.
"Ten-tentu saja, Tuan Putri." Wajah pucat Tucker hampir seputih dengan uban di kepala laki-laki tersebut. Ava akhirnya mengakhiri interogasi impromptu-nya setelah melihat muka pasi serta tubuh kaku setiap orang yang menyambut mereka. "Saya harap ke depannya Tuan Tucker tidak membuat kesalahan."
Mereka pun sampai di depan pintu tower sihir milik royalti, bertempat di sebelah selatan istana, masih dalam pulau melayang.
__ADS_1