
Ava tidak pernah sekolah, tapi mungkin inilah perasaan seorang siswa ketika mengerjakan tugas dari gurunya. Apalagi keadaan gadis itu sekarang, ia merasa seolah langsung loncat ke perguruan tinggi. Memusingkan.
Setelah bolak-balik membaca jurnal resep serta cetak biru yang Ava buat, ia bingung harus membuat apa untuk memuaskan ambisi si raja. Bukankah tindakan terorisme seperti ini lebih baik ditangani dengan mencabut akar masalahnya? Bukankah Marvin sedang berusaha mencari kelompok radikal dengan logo iblis itu dari kesaksian pelaku yang berhasil ditangkap? Seharusnya cukup. Lagipula modus operandi yang digunakan adalah dengan mengorbankan salah satu anggota mereka untuk meledak bersama orang lain, alias bom bunuh diri. Sedangkan mengidentifikasi orang yang mencurigakan tanggung jawab terbesar seharusnya jatuh kepada penjaga keamanan.
Apa dia diberi tugas ini karena Ava berhasil menangkap pelaku yang menyamar menjadi kusir kereta kudanya? Tapi itu semua berkat perasaan paranoid yang membuatnya mengaktifkan skill observasi secara simultan kepada semua orang.
... Namun si raja tentu tidak tahu hal itu.
Raja Dion menganggap kalau dirinya adalah Eve yang sedang tidak bisa memakai sihir karena jantung mana yang bermasalah, bukan dopplegangger dari sang putri yang meskipun rupa mereka identik set kemampuan mereka jauh berbeda. Jadi pantas saja jika ayah Eve itu salah mengira kalau dirinya memakai sebuah artifak yang bisa dipakai untuk situasi saat ini.
Dan tentu saja hal tersebut memunculkan masalah bagi Ava.
Gadis itu telah behari-hari menghabiskan waktunya di kantor Eve, dia hanya keluar ketika mandi dan makan. Ava pun hampir setiap kali tertidur di sana. Satu-satunya orang yang berinteraksi dengan Ava hanyalah Ellijah yang dengan senang hati mengantarkan makanan semenjak pria itu tahu kalau tunangan (palsu)-nya itu tidak sempat makan di hari pertama.
__ADS_1
Ava menghembuskan napas panjang, bersandar ke kursi, lalu meregangkan tubuhnya. Ia kemudian meminum teh yang masih hangat, Ellijah baru saja menuangi cangkirnya. Entah kenapa pria itu menjelma menjadi pelayannya akhir-akhir ini. Namun tidak ada yang memprotes, mungkin mereka sudah terbiasa dengan sang putri yang bebas menyuruh-nyuruh sang Duke.
Saat itulah ia baru menyadari kalau hari telah menyambut malam. Pandangan Ava kemudian beralih ke sudut ruangan, berpapasan dengan manik biru Ellijah yang sedari tadi diam.
Bagaimana bisa dia setenang itu selama berjam-jam diabaikan.
Kalau memang seperti inilah rutinitas Eve dan Ellijah, bukankah ... menyedihkan?
Gadis itu mengenal dirinya sendiri dengan baik, dan ia tahu mengenai sisi buruknya pula.
Kalau Ava memiliki perasaan intens seperti cinta, obsesi, bahkan benci, ia tidak akan diam. Dengan cara apapun ia akan mendapatkan perhatian dari targetnya, memaksa mereka untuk mengakui keberadaannya setiap saat, setelah itu bertindak menuruti impulsnya, entah itu menyatakan perasan atau membunuh lawan.
Sewaktu Ava masih jauh dalam pikirannya, saat itulah jam tua di ruangan tersebut berdentang, menandakan tengah malam.
__ADS_1
Deng! Deng! Deng!
Mendadak tangannya kejang, cangkir teh yang ia pegang terjatuh karenanya, pecah serta berhamburan di lantai.
Ia tersentak, tapi sensasi yang ada masih familiar.
Ava memandang tangannya dengan horor.
Telapaknya ber-glitching. Lagi.
"Ada apa?" Ellijah yang sedari tadi diam menaikkan suaranya, was-was.
Dengan refleks, Ava menyembunyikan tangannya di balik punggung. "Tidak apa-apa. Kita sebaiknya tidur, sudah tengah malam." Tanpa menunggu balasan, dia mengambil langkah seribu.
__ADS_1