
Saat kesadarannya baru saja muncul, yang pertama Ava rasakan adalah denyut perih dari belakang kepalanya, alisnya refleks berkedut.
"Ava?"
Suara manis Lexa. Punggung tangannya juga dielus oleh jari-jari kasar, Alex.
Ketika membuka mata, Ava melihat langit-langit putih. Dan baru menyadari bau antiseptik di sekelilingnya.
"Ava?" Sekali lagi Lexa memanggil, memastikan kalau temannya itu memang sudah benar-benar sadar. Namun bibir Ava terasa berat dan kering untuk dibuka jadi dia hanya bergumam pelan untuk menjawab, "Hmm."
Perhatian, Alex membawa segelas air kepada Ava yang berusaha duduk. Setengah gelas kosong, akhirnya Ava berbicara, "Terima kasih."
"Kita berada di rumah sakit."
Rumah sakit?
Kenap--
Ah! Kebakaran!
Ava terlonjak dari sandaran ranjang, dirinya langsung melihat keadaan gadis di sampingnya dari atas hingga bawah. Selain beberapa goresan yang sudah diperban, Lexa tidak memiliki luka parah. Namun agar meyakinkan, Ava tetap bertanya, "Kau tidak apa-apa?" Ia pernah mendengar kalau hal yang paling berbahaya ketika kebakaran terjadi bukanlah apinya, melainkan asap.
Suara Lexa masih jernih, tidak ada serak ataupun batuk kering saat dia menimpali, "Hanya luka ringan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Atensi Ava beralih ke Alex, bocah yang sibuk membenarkan posisi bantal agar Ava nyaman untuk duduk. Dalam ambang sadarnya, dia ingat dengan teriakan temannya tersebut. Jadi Alex yang menyelamatkan mereka?
Bukannya Ava berharap kalau Alex terluka, akan tetapi tubuh bocah itu terlalu baik-baik saja jika memang benar dialah yang menyeret Ava dan Lexa keluar dari boiler bawah tanah yang terlalap api. "Lalu kau yang menggotongku?" nadanya setengah ragu.
Sunyi.
__ADS_1
Mendadak suasana menjadi lebih gelap dari yang sebelumnya.
Sensasi ngeri serta muram menggelitik tengkuk Ava. Ia tidak menyukai ini.
"Kenapa kalian tiba-tiba diam?" Ava menekan keduanya untuk menjawab. "Lexa? Alex? Apa ada yang salah?"
Lexa menggenggam erat telapak tangan Ava yang disatukan. Perlahan, ia berujar, "Kakek direktur yang menyelamatkan kita."
Oh.
Hm, mungkin apa yang dikatakan Lexa dulu benar. Akhirnya ada orang dewasa bertanggung jawab yang melihat mereka sebagai anak kecil biasa, bukan produk yang dapat dimanfaatkan ataupun hewan yang harus dijinakkan terlebih dahulu.
Orang dewasa yang baik.
Namun jeda sebelum kalimat lanjutan Lexa, membuat Ava curiga. Apakah sebaiknya dia tidak mendengar ini? "Dia juga yang menyelamatkan dua anak lain yang jatuh bersamamu."
Ah, Ava sempat melupakan mereka.
... Tunggu dulu.
"Jadi ... lukanya parah?"
Lexa menggeleng.
Eh, bukannya bagus kalau begitu? Akan tetapi, sebelum Ava dapat menarik napas lega, apa yang selanjutnya ia dengar membuat ia sepenuhnya membeku.
"Kakek Sven meninggal dunia."
Terdapat rasa pahit di ujung tenggorokan Ava. Mengabaikan bulu kuduknya yang berdiri, gadis itu lebih disibukkan dengan debar jantung yang menggema di kepalanya, memekak di telinga.
__ADS_1
... Tunggu dulu.
Tidak mungkin.
"Tapi direktur baru tubuhnya bugar! Dia mantan komandan tentara! Seharusnya mudah saja--"
"Tidak ada yang bisa memperkirakan sebuah kecelakaan."
Sven berada di tempat yang salah dan di waktu yang salah pula.
"Ava, dengar, aku tahu kalau Kakek Sven ...."
Lexa menenangkan Ava yang jelas-jelas terlihat tidak stabil. Sayangnya, tidak satu kata pun yang masuk ke telinga Ava. Kepalanya kosong.
Hening.
Dia ... Dia bahkan tidak sempat memanggil namanya.
Sven.
Ava selalu saja memanggilnya dengan "direktur", "kakek tua", atau "hei".
Padahal, Sven itu nama yang keren.
Pembunuhannya yang kedua.
Lagi-lagi, tindakan impulsif Ava berujung pada hilangnya nyawa seseorang.
Kali ini, tidak ada alasan yang melindunginya dari rasa bersalah.
__ADS_1
Karen kakek Sven adalah orang yang baik.