
Tidak ada yang menanyakan lebih lanjut tentang cara kerja cocktail molotov di tangannya. Sekali lagi merasakan bahwa reputasi Eve sebagai inventor jenius sangat membantu Ava dalam meyakinkan siapapun dalam item buatannya.
Masalah utama dari pertarungan mereka dengan Venus King kemarin adalah kurang efektifnya serangan fisik, sedangkan atribut api yang memberikan luka signifikan terlalu cepat padam. Karena itulah Ava memanfaatkan pengetahuan modernnya. Bahaya terbesar dari cocktail molotov bukanlah saat botol yang dilempar pecah, melainkan api yang melekat karena alkohol yang membasahi target. Jadi, Ava mengambil resiko dengan menjadikan sebotol alkohol yang awalnya akan digunakan sebagai pembersih luka, menjelmanya sebagai senjata barbar sederhana yang mudah dibuat.
Namun hal tersebut juga melahirkan masalah baru, satu botol saja tidak akan cukup untuk menangani monster sebesar bunga pemakan manusia itu. Untungnya, Ellijah dengan antusias membantu. Satu jam menunggu, Duke Frost kembali dari markas mereka bersama dengan empat botol alkohol yang Ava yakini sebagai persediaan Raja Dion untuk mabuk-mabukan saat malam. Mungkin dia juga sadar kalo perannya akan berkurang apabila rencana ini bertumpu berat terhadap elemen api, atribut yang 180 derajat berkebalikan dengan elemen es miliknya.
Heh. Sepertinya pria itu tidak lagi menerima omong kosong dari sang raja. Sudah cukup ia diperalat sebagai anjing pemburu selama beberapa hari yang lalu.
Total, lima botol. Bukan angka yang ideal, tapi akan cukup jika Ava memilih titik target yang tepat.
"Baiklah, mari kita mulai sekali lagi." Semuanya mengangguk, siap.
Untuk kedua kalinya, mereka berhadapan dengan Venus King yang langsung menggeram marah begitu mereka mendekat. Luka sayat dari pertarungan mereka kemarin sudah sebagian besar sembuh, hanya goresan tipis serta beberapa titik gosong yang masih ada. Kecepatan penyembuhan diri monster berlevel tinggi memang tidak bisa diremehkan. Dengan begini, progres mereka sama saja kembali ke angka nol.
Kali ini, semuanya mengambil formasi baru.
Ava berlari terlebih dahulu, membentuk pola zig-zag sembari menghindari serangan daun gesit yang tidak bisa menandingi kecepatan serta kelincahannya ketika berada di 100%.
Yang lain tegang di tempat mereka berdiri, masih menunggu waktu yang tepat, sebab dari luar yang mereka lihat hanyalah seorang gadis yang menerjang dengan ceroboh, tapi kemudian ditakjubkan dengan seberapa lincah sang putri menghadapi monster tersebut ... Bukan seperti pergerakan orang dengan level yang direset.
"Grraaah!" Bertarung di garis depan kemarin, Ava sudah mengingat kebiasaan makhluk mengerikan tersebut. Venus King selalu berteriak frustasi ketika tujuh serangan beruntunnya tidak mengenai musuh seperti yang diharapkan. Jadi Ava memanfaatkan kesempatan emas yang hanya beberapa detik tersebut, untuk melempar bom molotovnya ke dalam mulut yang terbuka.
Pyar!
Botol yang ada pecah, api seketika menyelimuti mulut berlendir yang dijajari dengan ratusan gigi runcing.
Ava belum selesai. Sebelum si monster sempat bereaksi, Ava melempar satu lagi molotov pada tanah di mana Venus King itu tertanam, membuat batang hijau tebal yang menyangga kelopak bunga karnivora tersebut terlalap jago merah.
Kali ini, seberapa agresif pun dia bergerak, api akan tetap melekat.
"Serang!"
Itulah tanda mereka.
Siwon memanggil lima prajurit undead dan langsung mengirim mereka ke garis depan.
Meskipun Ellijah sempat pesimistik terhadap kontribusinya hari ini, Ava memiliki peran penting yang hanya bisa ia lakukan. Penjaga keamanan.
Selain Kino yang terbiasa dengan atributnya sendiri, tidak ada orang yang berpengalaman dalam menghadapi api. Jadi, Duke Frost akan ditugaskan sebagai orang yang mencegah mereka resiko terbakar hidup-hidup.
Dua pasangan tombak berlari dengan berani setelah tubuh mereka diselimuti dengan es tipis, begitu juga tiga orang yang lain serta satu serigala, Lig, hewan yang disummon oleh River.
Satu tank, satu pendukung, dan sisanya penyerang.
__ADS_1
Strategi ofensif penuh yang membawa mereka ke jalur kemenangan tidak lama kemudian.
Lima botol molotov telah terpakai, hasilnya ialah Venus King yang termakan api dari ujung akar hingga ujung kelopaknya. Badan yang terbakar tidak dapat dengan mudah disembuhkan hanya dengan kemampuan self-healing. Karena itulah setiap sayatan dan cabikan menjadi tiga kali lebih efektif daripada serangan yang kemarin.
Bersamaan dengan lolongan putus asa yang memantul ke dinding-dinding labirin, monster bunga itu perlahan berubah warna, hitam arang.
Molotov yang memberikan luka berkelanjutan, serta grup penyerang yang memastikan bahwa makhluk tersebut tidak berdaya dari awal hingga akhir pertarungan. Mereka berhasil.
Akhirnya.
Ava berlutut, mengambil napas sebanyak mungkin untuk paru-parunya yang kering. Meskipun es dari Ellijah memberikan pertahanan dari luka bakar, Ava masih tidak bisa bernapas dengan oksigen yang terlalap api di sekitarnya.
Ellijah menghampirinya seraya menggenggam sebotol air persediaan mereka, sepenuhnya menghiraukan orang lain yang bernasib sama tergelatak di sekitar Ava. Tapi bukan berarti gadis itu menolak gestur kebaikan yang ditawarkan tunangan palsunya itu. Dia butuh air untuk membasahi tubuhnya yang seolah matang.
"Wow, aku tidak tahu kalau alkohol dan seutas kain bisa dijadikan senjata penghancur sebarbar itu." Ezra datang, menawarkan senyum puas melihat portal biru terang yang kini dapat mereka masuki dengan leluasa.
Bukankah molotov tidak terlalu sulit jika dipikirkan baik-baik? Namun dunia fantasi ini tentu saja terlalu bertumpu kepada sihir lahiriah mereka, jadi Ava tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang tidak tahu.
Omong-omong, mungkin kalian bertanya kenapa pangeran itu mengikuti tim ekspedisi kalau dia tidak mengambil andil sama sekali kecuali saat pembentukan strategi kasar pada awal-awal kemarin?
[Sinergy]. Skill yang membuat dua orang yang ia hubungkan dapat bekerja sama 10% lebih baik dari biasanya.
Benar. Karena skill itulah. Skill yang sangat berguna ketika situasi krisis seperti ini terjadi lagi secara kebetulan. Lagipula, cara apa yang lebih baik untuk memaksa orang-orang asing berkelahi dengan monster secara kompak daripada sihir?
Walaupun begitu, Ava masih merasa pahit karena Al yang tidak mau berperan aktif sebab kekeuh dalam mengawal Ezra. Kalau saja pelayan tua itu ikut, beban Ava akan terangkat setengahnya.
"Aku tidak menyangka ada manusia yang berhasil mengalahkan monster berlevel 80 ketika level mereka sendiri baru saja direset."
Di balik dinding labirin, sosok pucat yang jangkung melangkah dengan tenang menghampiri mereka.
Wajah bosan yang langsung Ava benci meskipun mereka baru saja bertemu tiga hari yang lalu.
"Kau terlalu meremehkan kami, Lucifer."
Iblis itu mengerutkan dahi, nampak sekali tidak menyukai sahutan Ava. "Aku tidak tahu apa sumber keberanianmu ini, putri dunia mortal."
Namun kali ini gadis itu tidak lagi takut, tidak lagi menyerah sebelum bertarung.
Kalau di luar gate Lucifer memiliki level melebihi 3 digit, di sini mereka terpaksa diperlakukan sama.
Level reset.
Semuanya kecuali, Ava.
__ADS_1
Nama: Lucifer
Ras: Iblis
Level: 19 (1067)
Kecepatan: 13 (198)
Kekuatan: 19(293)
Kelincahan: 12 (176)
Mana: 31 (489)
Koin: 0
Skill:
- Obey Me (VIII)
- Almighty Sword (V)
Walaupun iblis memiliki poin dasar yang tidak sama dengan manusia.
Nama: *** ******
Ras: Manusia
Level: 1
Kecepatan: 42
Kekuatan: 49
Kelincahan: 48
Kecerdasan: 43
Indra: 40
Koin: 263783849
Skill: Observation (VII)
__ADS_1
Lucifer masih kalah dengan eksistensinya yang dianggap sebagai bug di dalam [System] dan gate.
Ia bisa menang.