
Eve masih marah, tentu saja.
Ellijah tahu rumor yang beredar di kalangan masyarakat atas tidaklah cantik, kebanyakan diniatkan untuk menjatuhkan seseorang.
Dia tahu kalau tunangannya itu tidak ingin berhubungan dengan para bangsawan karena tendensi mereka yang sangat merepotkan, karena itulah dia jarang mengikuti pesta yang diadakan di kerajaan. Namun dengan kabar burung mengenai perselingkuhan yang tidak pernah terjadi, apalagi sampai membuat hamil seorang gadis yang tidak ia kenal, perhatian yang tidak diinginkan jatuh kepada Ellijah dan si Tuan Putri Edodale.
Karena itulah ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Eve ketika gadis itu kabur dari istana.
Dan setelah empat bulan mati-matian mencari. Dengan mengerahkan pasukan yang sponsori di dunia gelap, mata dan telinganya ada dimana-mana. Ia juga rela menjadikan seorang Marquess sebagai musuh dan memutus hubungan bisnis dengan para penyebar gosip, berharap Eve membaca beritanya dari koran Anggrek Ungu, menyurutkan kemurkaan gadis tersebut.
Namun percuma, tunangannya sudah berniat penuh untuk menghilang, dan wanita itu tahu betul caranya untuk menghilangkan jejak.
Berbulan-bulan ia menghibur diri dengan opium, karena kalau tidak Ellijah takut pikirannya menjadi makin gila dengan ketidak adanya Eve.
Jadi ketika ia mendengar kabar bahwa seorang gadis yang persis seperti tunangannya itu, Elijah tidak bisa melepas kesempatan untuk bertemu lagi dengan Eve. Dia buru-buru menuju Oranera, kota bebas tujuan dari kapal yang dinaiki oleh gadis tersebut.
Dan ketika perempuan itu mengaku tidak mengenalnya, Ellijah langsung beranggapan kalau Eve masih melampiaskan kekesalannya dengan bersikap seperti orang asing.
Eve benar-benar merubah gayanya secara total.
Rambut panjangnya kini dipotong pendek.
Pakaiannya juga bukan lagi gaun dengan rok praktis, seperti baju-baju yang dikenakan saat masih berada di istana, tubuh mungilnya kini dibalut dengan tunik longgar dan celana kain, lebih mirip seperti setelan laki-laki daripada seorang wanita.
Omong-omong tentang laki-laki, empat bulan menghilang lalu kini ia dikelilingi oleh pria-pria tidak tahu diri.
Dari yang ia lihat langsung saja, Ellijah menemukan lima lalat buah yang mengerubungi bunganya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pada pintu besar yang Ava belakangi memecah keheningan dingin di ruangan tersebut. Seorang pelayan tua, nampak jauh lebih tua dari Al, masuk setelah dipersilahkan oleh tuannya. Dalam pelukan pria tua tersebut terdapat segunung kertas yang nyaris menutupi kumis putihnya.
Ava hanya melihat ketika Ellijah mulai menggapai dokumen yang paling atas. "Rina Hoffman, meskipun banyak orang yang menganggap gadis tersebut berkelas petarung jarak dekat, Rina sendiri mengaku sebagai herbalis."
Oh, dia membacakan biografi Ava sekarang?
"Berjasa dalam insiden outbreak di Englerock dengan temuan serbuk bius yang menyebabkan para monster melambat atau bahkan tidur. Selain itu, Rina Hoffman juga mendapatkan medali atas usahanya menjatuhkan kumpulan Banderhobbs yang menyerang kapal saat fenomena badai hitam terjadi."
__ADS_1
Ava hanya mendengarkan, masih bimbang akan bereaksi seperti apa agar pria itu lekas melepaskannya.
"Sebelum dua kejadian besar tersebut, tidak ada informasi."
Oh.
"Jadi, bisa kau jelaskan bagian ini?" Ellijah menekan, sepenuhnya termotivasi untuk membuka kedok tunangannya satu detik lebih cepat.
"Saya tidak mengerti bagian apa yang harus saya jelaskan. Saya memang berterimakasih Anda sudah membantu saya baru saja, tapi menyelidiki latar belakang dan tindakan penculikan seperti ini, bukan perilaku yang akan saya terima."
"Jelaskan kenapa tidak ada rekaman tanggal dan tempat kelahiran, sejarah masa kecil, dan juga daftar gate yang dimasuki. Seolah sebelum empat bulan yang lalu, "Rina Hoffman" ini tidak ada."
Ellijah benar-benar menghiraukan tolakan Ava.
"Saya tidak akan menjelaskan, karena saya bukan kriminal yang pantas untuk diinterogasi."
Yah, Ava adalah kriminal di dunia asalnya, tapi di dimensi ini semua kejahatannya tidak meninggalkan jejak.
Garis halus terbentuk di dahi mulus Ellijah, ia sudah tidak sabar. "Aku tidak menganggapmu sebagai kriminal, Eve."
"Nama saya bukan Eve, melainkan Rina."
"Kalau begitu saya tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan Anda."
Kursi yang Ellijah duduki berderak ketika pria itu bangkit, langkahnya lebar menuju tempat Ava berada.
Ava sendiri paham kalau dia tidak bersikap kooperatif, karena itu ia mengira akan mendapatkan gebrakan meja atau setidaknya bentakan. Berbalik dengan ekspektasinya, Ellijah yang berstatus sebagai seorang Duke itu malah berlutut di samping kursinya. Lalu tanpa peringatan, menggenggam erat tangan Ava yang bersandar.
"Hentikan saja sandiwaramu ini, tolong. Kau tahu kalau rumor yang ada tidak benar. Ayo, kita kembali. Aku janji akan menuruti semua permintaanmu setelah itu."
Ava tidak menyangka akan mendapatkan permohonan lembut, hampir memelas.
Berbeda saat beberapa menit yang lalu, ketika Ellijah mencengkram lengannya hingga lebam, kini tautan tangannya halus seolah menyentuh kaca antik yang bisa pecah kapan saja.
Kening Ellijah yang dingin menempel di punggung tangan Ava, buku-buku jarinya juga dielus ringan.
Akan tetapi sikap seperti ini yang malah mengingatkan Ava tentang Alex, dan wajah identik yang Duke Frost miliki tidak membantunya dalam memisahkan bayangan Alex pada sosok Ellijah. Ava bahkan nyaris tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk mengelus rambut pria yang berlutut itu.
__ADS_1
Mungkin, perasaan melankolis seperti inilah yang menyulitkan Ellijah untuk menerima kalau Ava bukanlah Eve.
Tetap saja, masing-masing dari mereka berdua tidak menemukan apa yang sebenarnya mereka cari, hanya versi lain dari dunia yang berbeda.
Pada akhirnya, Ava masih harus meyakinkan pria itu kalau dia salah orang.
Hanya saja, mungkin ... sedikit lebih lembut dari yang sebelumnya.
"Sekali lagi, maaf, Tuan. Namun saya bukanlah orang yang Tuan kira."
Ellijah mendongak, hati Ava teriris dengan mata berair pria tersebut, menahan tangis. Ekspresinya persis seperti anak anjing yang ditendang.
"Eve, tolonglah ...."
Ava sudah tidak tahan dengan situasi ini. Emosinya selalu bergejolak tidak menentu jika berhubungan dengan si kembar, dua orang yang menemani hidupnya ketika sedang susah. Jadi wajah Ellijah yang mirip dengan Alex sungguh memberi dampak.
Ia takut kalau lebih lama lagi terjebak disini akan membuat Ava secara impulsif mengaku kalau dirinya adalah Eve.
"Saya bisa membuktikannya, Tuan mungkin memiliki artifak yang dapat digunakan untuk mendeteksi kejujuran?" Ava teringat cincin yang dikeluarkan oleh Rai saat permainan Truth or Dare di kapal. Dengan begitu, dia dapat berkata "Nama saya bukanlah Eve" ketika diminta nanti, karena hal tersebut benar adanya.
"Benar, ada artifak yang dapat mengungkapkan segalanya." Masih ada sinar harapan dalam binar mata biru Ellijah. Sayangnya Ava harus menambah lagi patah hati pria itu agar aman keluar dari jeratan hubungan rumit doppleganggernya.
Akan tetapi yang dibawa bukanlah item yang Ava bayangkan, melainkan sebuah bola kristal yang sering ia jumpai dalam tenda penipuan berkedok ramalan masa depan.
Ia tidak bisa berkutik saat Ellijah langsung menempelkan telapak tangan Ava pada permukaan licin bola tersebut, kecepatan seseorang dengan level 200 tidak bisa ia tandingi untuk saat ini.
Tapi detik-detik berlalu lama, lalu berganti menit, tetap saja tidak ada yang terjadi.
Apakah--
"Artifaknya rusak?"
Dengan enggan melepas genggamannya pada tangan Ava, Elijah lah yang kini menyentuh bola kristal itu. Tanpa menunggu lama kabut biru pucat terbentuk, berpusar dalam item tersebut.
Masih berfungsi.
"Tapi kenapa manamu tidak terdeteksi?"
__ADS_1
"Oh, karena saya memang tidak memiliki mana."
"Apa?!"