Hellbent

Hellbent
Bab 79: Obsesi


__ADS_3

Ava setengah hati mengangguk paham. Apapun yang terjadi, dia sudah lolos tes kejujuran. Dengan lega, ia melepas cincin ungu dari jari manisnya.


Namun sebelum ia berpamitan sekali lagi, pintu ruangan itu diketuk, kemudian pelayan yang sudah beruban masuk sembari mendorong troli yang dipenuhi dengan perlengkapan jamuan teh serta sebuah roti isi.


Waktunya pas sekali, nyaris membuat Ava yakin kalau kebetulan ini disengaja.


"Permisi, Tuan dan Nona." Bertumpu pada pengalamannya sebagai pelayan selama puluhan tahun, Tuug menyajikan suguhan dengan terampil. Teh yang ia tuang juga semerbak akan aroma manis yang menenangkan.


Lavender.


"Selamat menikmati." Dia menghilang lagi. Tuug dengan bebas keluar masuk dari ruangan yang sekarang terasa menyesakkan tersebut, Ava sampai iri.


Ellijah mengambil cangkir tehnya dengan elegan, layaknya seorang bangsawan. Sebagai tanda sopan santun, Ava menirunya, akan tetapi ia hanya berpura-pura menegak isi dalam cangkir tersebut. Ia masih belum tahu sejauh mana pria di hadapannya bertindak hanya untuk tetap menjaga Ava di ruangan itu.


Namun tata krama palsunya sampai disitu saja.


"Kau bebas memakan roti isi di piring, tidak usah sungkan."


"Tidak, Tuan. Roti isi yang ada hanya satu, lebih baik tuan rumah yang memakannya. Lagipula, saya harus segera kembali ke penginapan."


Ellijah diam.


Ava menganggap kebisuannya sebagai tanda setuju, jadi dia bangkit dari kursi besar yang ia duduki, tetapi mendadak kakinya lemas, tidak bertenaga.


Gadis itu berkedip bingung.


Ada apa ini?


Tidak hanya sampai disitu, kini seluruh anggota badannya lumpuh tidak bisa digerakkan. Kelopak matanya tiba-tiba terasa berat, kesadarannya dengan cepat terkikis.


Tapi Ava tidak memakan atau meminum apapun yang disajikan, bagaimana bisa ia diracun?


Oh!


"Kurasa kau lupa, orang yang mengajariku untuk membuat obat bius yang dapat disebar dari udara adalah kau, Eve."


Ah, sial!


Ava seharusnya sudah curiga saat mencium bau lavender tadi.

__ADS_1


Levender hitam, salah satu bahan utama saat ia membuat serbuk bius. Walaupun nyaris tidak terlihat, bau wangi bunga tersebut tidak akan hilang.


Jika doppleganggernya itu berani memberikan satu buku penuh resep obat mujarab kepada orang asing yang identik dengannya, satu atau dua ramuan pasti sudah ia bagikan kepada tunangannya sendiri.


Namun Ava tidak kuasa memprotes, kegelapan telah merenggut kesadarannya. Dia pingsan.


Ellijah menyaksikan dengan tenang. Setelah gadis di depannya bernapas dengan tenang tanpa bergerak, dia melangkah mendekat.


Tidak mungkin ia salah orang.


Dilahirkan sebagai pewaris Dukedom Frost, Ellijah telah mengenal Eve si Putri Edodale semenjak mereka baru bisa berjalan.


Tangannya yang besar dan dingin mengelus halus pipi perempuan yang tidak sadar tersebut, menyingkirkan poni yang menyembunyikan mata dengan bulu lentik, tertutup.


Penampilan Eve memang sedikit berubah, tapi ia yakin akan terbiasa dalam waktu yang cepat.


Empat bulan pencarian yang membuatnya gila.


Tidak mungkin Ellijah akan melepas buruannya dengan semudah itu.


Bukan, tidak mungkin ia akan melepaskan Eve, selamanya.


Mungkin saat mereka kembali ke Edodale, Ellijah akan langsung meminta keluarga kerajaan untuk segera menikahkan mereka.


Benar, dengan begitu mereka akan terikat oleh benang takdir, restu dewa, serta jalan hukum.


Tidak akan lagi yang bisa memisahkan mereka.


Akan lebih baik lagi jika Eve tidak dapat kemana-mana.


Apakah ia harus mematahkan kedua tangan dan kaki tunangannya itu?


... Jangan, dia tidak mau dibenci oleh Eve. Lagipula keluarga kerajaan akan murka jika dia menyakiti alkemis genius yang mereka bangga-banggakan. Aset berharga yang tidak boleh rusak, kata mereka.


***


River sedari tadi mondar-mandir di dalam kamar penginapannya tanpa henti, hatinya tidak tenang, khawatir, dan fakta bahwa Rina masih belum pulang membuatnya kecemasannya meningkat dua kali lipat.


Ia sepenuhnya tahu kalau gadis itu memiliki kebiasaan untuk berburu saat malam di hutan, berkali-kali ia mengomeli Rina agar mengubah jadwalnya karena hutan saat malam akan jauh lebih berbahaya daripada pagi hari, tapi nasihatnya hanya diangguki tanpa benar-benar dipertimbangkan. Jadi dia menyerah.

__ADS_1


Tapi untuk malam ini, rasa tidak enak membuncah dari hatinya. Malam ini berbeda dari kekhawatiran yang telah menjadi rutinitasnya. River benar-benar cemas.


Pria itu akhirnya turun dengan tergesa-gesa dari lantai kamar, berniat untuk mencari Rina sendiri di hutan. Ia tidak akan diam sebelum melihat gadis tersebut baik-baik saja.


"Oh, halo, Kak River!" Lorah menyapa saat ia melewati lobi. Meski wajahnya tertekuk khawatir, ia menyempatkan untuk tersenyum dan menghampiri gadis cilik itu. "Hai, Lorah. Apa kau melihat Kak Rina setelah duel tadi pagi?"


Merasakan ada yang tidak beres, Lorah ikut-ikutan mengerut serius, "Tidak. Aku bermain dengan anak-anak yang lain di halaman belakang penginapan sejak siang." Kekecewaan yang jelas membekas pada raut River membuat gadis cilik itu sigap berseru, "Akan segera kutanyakan pada Kakakku dan teman-teman tentara bayarannya!"


"Tanya apa?" Beruntungnya, Dom muncul di belakang mereka bersama dengan lima beastman lain.


"Kak, apa Kakak melihat Kak Rina setelah duel tadi pagi?"


Dengan satu alis terangkat, pria dengan lengan bertato itu pun menjawab, "Kurasa tidak. Bukannya jam-jam segini Rina masih berburu di hutan?"


"Oh, kalau kalian membicarakan gadis manusia yang biasanya bersama kalian, aku melihatnya di pasar tadi sore," salah satu beastman kenalan Dom angkat bicara.


"Ah, sebelum ada pemblokiran jalan?" yang lain menyahut.


"Pemblokiran jalan?" River tidak tahu apa-apa tentang hal ini.


"Benar, tadi sore salah satu jalan sepi menuju pasar diblokir dengan banyak sekali prajurit sewaan seorang bangsawan, katanya dari kerajaan yang kuat. Ternyata ada percobaan pembunuhan yang terjadi di sana. Mungkin karena itu jalan yang sepi, makanya tidak banyak yang tahu insiden itu kecuali yang melihatnya langsung."


Rasa khawatir River semakin tidak karuan, jantungnya berdegup gugup dan napasnya mulai tidak teratur.


Dom melirik ke sampingnya, River terlihat akan runtuh hanya dengan satu senggolan saja saat ini. Ia pun berdecak, pria itu sudah mengalahkannya dalam duel tadi pagi, tapi kenapa bisa nampak sangat lemah hanya karena Rina yang tidak kelihatan selama beberapa jam


Namun kemudian ia memandang Lorah, adiknya yang ekor bertotol hitamnya menegang tidak nyaman. Ia pun membayangkan kalau saja Lorah yang hilang.


... Dia akan bereaksi sama. Yah, mungkin ia akan bersikap lebih agresif dari River.


Ditambah lagi Rina dan River adalah dua manusia yang ... oke-oke saja, Dom tidak akan keberatan jika mereka menemaninya dan Lorah lebih lama.


"Kalau kau memang secemas itu, akan kubantu mencari Rina di hutan. Lorah yang akan berjaga di penginapan, kali saja Rina pulang saat kita masih jauh di dalam hutan."


River mensyukuri gestur baik yang jarang-jarang diperlihatkan Dom. Jadi dengan bantuan Dom dan monster peliharaannya, Lig, River melacak keberadaan Rina dengan bau yang khas dari perempuan itu.


Namun, pencarian mereka harus terhenti saat jejak gadis itu menghilang di dalam jalan pasar yang masih memiliki tanda "Dilarang Melintas".


Jalan yang terblokir.

__ADS_1


__ADS_2