
Semakin tinggi level seseorang, makin susah pula menaikannya. Hukum tersebut juga berlaku untuk kelas skill. Karena itulah, Ava membutuhkan hampir satu bulan hanya untuk membuat skill observasinya menjadi kelas 5.
Banyak perubahan yang terjadi akibat kenaikan ini. Pertama, efek samping dari penggunakan skill yang terus-menerus menjadi lebih ringan. Apabila dulu ia melihat jendela status 10 orang saja tanpa jeda, kepalanya terkena pusing tidak kepalang, akan tetapi sekarang dirinya dapat mengecek 20 orang sekaligus barulah ia merasakan denyut di pelipis. Yang kedua, cooldown untuk menggunakan fungsi dalam melihat skill yang dimiliki orang lain serta status tambahan mereka terpangkas setengah, sehingga kini ia dapat memakai fitur khusus tersebut dua kali dalam sehari. Terakhir dan tidak kalah penting, cabang kegunaan skill-nya bertambah. Ava dapat mengecek inventori orang lain. Meskipun ia cuma bisa melihat 3 slot secara random, bukankah semua hal ini akan berkembang seiring dengan kelas skill-nya yang terus naik?
Dan karena upgrade inilah, Ava dapat melihat artifak yang familiar dalam inventori Duke Frost maupun targetnya.
"A-ah, perkenalkan nama saya adalah Wendy Koliupu," mage wanita berambut coklat itu dengan panik membungkuk hormat.
"Wendy ini sangat rajin dan teliti, jadi meskipun masih enam bulan direkrut, banyak sekali--" Si mage tua dengan semangat menonjolkan kelebihan-kelebihan orang yang ia bawa.
Sayangnya, niatannya tidak akan terwujud.
"Kau, maju." Suasana yang baru saja menghangat kembali turun hingga menggetarkan badan yang hadir di ruangan tersebut. Ellijah menunjuk target Ava.
__ADS_1
"An-anu, maafkan anak muda ini jika mereka--"
"Maju," Duke Frost memotong dingin pembelaan percuma dari si mage tua.
Rombongan tadi saling melirik takut, lalu pandangan mereka berubah menjadi kasihan saat diarahkan pada Wendy, orang yang dipanggil. Namun pada akhirnya mage adalah kelompok yang individualistik. Mereka segera mendesak teman kerja untuk menghadapi sang Duke yang nampak seperti bangsawan yang arogan. Lagipula mereka berkumpul untuk mencari muka agar dana projek pribadi dinaikkan, begitupula sang kepala divisi yang menggupuhi mereka, karena semakin banyak projek yang sukses semakin besar pula kesempatan di mage tua itu untuk naik jabatan.
Kedua tangan Wendy terkatup erat, gemetar. Ia tidak tahu apa yang salah dengan perilakunya, sedari tadi ia sengaja menyembunyikan diri di antara kehadiran mage-mage yang lain. Barulah ketika kepala divisi berniat memperkenalkan mereka satu-persatu, ia membuka mulut, apa yang dia katakan pun hanya kalimat biasa meskipun sedikit gagap di awal, tidak ada yang mencurigakan, bukan?
Ellijah melangkah dengan kaki panjangnya, seketika memperpendek jarak. Tanpa peringatan tangan Wendy dicengkram. Sadar-sadar, sebuah cincin telah tersemat di jari telunjuknya.
"Apakah kau memiliki hubungan dengan kelompok dibalik insiden terorisme seminggu yang lalu?"
"A-anu ..." Wendy langsung pucat pasi, bibirnya kering dan keringat dingin membasahi punggungnya.
__ADS_1
Tidak mungkin dia ketahuan sekarang.
Presensinya di tower sihir kerajaan tidak pernah menimbulkan kecurigaan. Ia sudah bersusah payah membangun imej pekerja keras akan tetapi tidak mencolok.
"Jawab," perintah Duke Frost keras dan tidak tergoyahkan.
"S-saya-"
"Jika kau tidak bersalah, kau tidak akan susah menjawab," Putri Eve yang sedari tadi diam kini menambahkan tekanan.
Kepala divisi beserta anggota lain terkesiap, tidak menyangka. Tuduhan mata-mata!
"Wendy, jawab!" Si mage tua yang nampak kebakaran kakinya. Pasalnya, jika memang benar terdapat penyusup di divisinya, nama baik mereka akan terancam, dengan kata lain dana penelitian semakin menipis.
__ADS_1
"Tidak benar!" Tidak tahan, Wendy berteriak.
Sayangnya, listrik yang terpicu otomatis ketika seseorang berbohong seketika membuat wanita itu terkapar di lantai, kejang-kejang.