
"Bagus, seperti itu," Marvin berkomentar saat melihat Ava meminum tehnya dengan elegan. Sesi pembelajaran mereka berbuah manis.
Dengan penyembuhan dari "Embun Pagi Pohon Kehidupan", ramuan berkelas tinggi dan langka yang hanya bisa didapatkan sebagai hadiah dari gate berlevel 100, seluruh bekas luka yang memborok pada kulit Ava selama bertahun-tahun hilang seluruhnya, seketika menjadikan gadis itu persis seperti Eve dengan badan yang putih dan mulus layaknya seorang putri kerajaan.
Ava juga pembelajar yang cepat, semua teori serta ilmu yang Marvin tumpahkan dapat ia serap bak spons meskipun gadis tersebut tidak berhenti bermuka masam dalam prosesnya
"Dengan begini, kau sudah siap menghadiri jamuan teh dari Ratu bersama para bangsawan lainnya," ujar Marvin sembari mengangguk puas. Jamuan teh Ratu, untuk itulah silabus etika mereka sangatlah padat. Modal terbesar Rina adalah wajah yang identik dengan kakaknya, temperamen serta disposisi mereka bahkan menyerupai, jadi mereka hanya membutuhkan sedikit polesan untuk menyulap gadis itu untuk menjadi Eve Weinhamer.
"Ah," meskipun Ava memasang senyum, matanya berbinar gelap, "Sudah terlalu banyak surat yang menumpuk di meja." Tentu saja rumor kembalinya Putri Edodale sudah beredar semenjak makan malam Ava dengan raja terjadi, gerakan politik yang jelas-jelas dilakukan untuk mempertahankan status keluarga kerajaan, dan karena itulah puluhan surat yang isinya menanyakan kabar serta barisan-barisan sanjungan berlebih datang setiap harinya. Sudah waktunya Ava terjun ke lapangan untuk membuktikan kebenaran rumor tersebut.
Tenggelam dalam pikirannya sendiri, Ava baru menyadari bahwa Marvin menatapnya dengan intens. "Kenapa kau memandangku seperti itu?" Apa ada sesuatu di wajahnya?
__ADS_1
Marvin pun berkedip, baru sadar dengan apa yang ia lakukan, kemudian dia menggeleng, "Tidak," beberapa detik merenung singkat, pangeran itu memutuskan untuk berterus terang, toh tidak ada salahnya. "Meskipun tidak pernah berkata langsung, kakak juga sering mengeluhkan adanya acara sosial seperti jamuan teh ataupun pesta, kau hanya mengingatkanku dengannya."
"Oh," Ava mengangkat bahu, tidak keberatan. Artinya berpura-pura menjadi Eve akan semakin mudah.
"Kakak pernah bilang kalau ia tidak perlu bersosialisasi dengan para bangsawan karena pada akhirnya semua orang akan menganutnya."
Ava langsung menangkap maksud dari kalimat tersebut. Apa yang Marvin katakan juga selaras dengan kesaksian Raja Dion saat makan malam.
Eve menganggap takhta Edodale, kerajaan yang paling maju, besar, dan makmur, adalah hal yang terlalu kecil.
Tidak salah lagi.
__ADS_1
Eve memiliki God complex parah.
Astaga.
Ava memutar mata dalam hati.
***
Memperbaiki gaun formal Eve agar muat untuk melingkupi tubuh berotot Ava membutuhkan waktu hingga satu minggu, nyaris tidak cukup untuk menghadiri perjamuan teh yang diadakan oleh Ratu Isabel. Namun untungnya kini Ava duduk tenang di tengah taman kaca yang dipenuhi bunga, tempat pertama yang ia kunjungi setelah bangun di istana, di depannya tersajikan berbagai makanan ringan dan hidangan penutup yang bervariasi dari manis hingga asam.
Ratu Isabel berada di ujung meja dengan gaun merah yang roknya mekar seperti mawar. Kontras dengan apa yang Ava pakai, gaun pastel kuning lembut yang mengesankan kerapuhan seorang gadis, malah menyebabkan efek yang tidak Ava perkirakan.
__ADS_1
"Ya ampun, Tuan Putri, tidak saya bayangkan betapa sakit hatinya Anda."
Gaun itu membuatnya layak untuk dikasihani.