Hellbent

Hellbent
Bab 97: Outing


__ADS_3

Ketika mereka keluar dari ruangan menuju teras balkon, akhirnya Ava bisa bernapas dengan benar. Para bangsawan menjadikan penampilan sebagai salah satu senjata, apabila ada orang yang terlihat lusuh, kuno, ataupun pernah dipakai sebelumnya, tidak akan ada yang segan dalam kritikan mereka. Penampilan di sini artinya dari tatanan rambut, riasan, pakaian, aksesoris, hingga bau badan. Itulah kenapa persiapan Ava memakan hingga berjam-jam lamanya, karena itu juga hidungnya yang sensitif tidak tahan berlama-lama dalam ruangan yang dipenuhi dengan sengat parfum yang bercampur, membuatnya kewalahan padahal status indranya sudah ia turunkan sampai 20%.


Ia sekali lagi menarik napas panjang. Pesta ini memanglah pesta yang penting untuk dihadiri, apalagi Ava yang kini berperan sebagai putri kerajaan Edodale. Akan tetapi Marvin sendiri mengatakan kalau ia hanya perlu menunjukkan wajah sebentar saja sampai pembukaan selesai, lagipula Eve dari dulu memang dikenal sebagai anti sosial yang tidak suka bergaul dengan kalangan atas. “”Berbasa-basi dan mengobrolakan rumor yang tidak penting tidaklah pantas untuk orang sepertinya”, begitulah yang dikatakan Kakak,” Marvin bertestimoni. Pada dasarnya Eve menganggap kalau para bangsawan tidaklah selevel dengannya. Ava yang mendengarnya hanya semakin yakin kalau doppleganger-nya itu memiliki god complex.


“Minum saja ini,” Ellijah yang baru saja menyusulnya ke teras menawarkan segelas cairan ungu. Wine? Tapi nampak terlalu keruh. “Aku tidak ingin meminum alkohol.”


“Aku tahu, ini jus anggur.” Oh. Jadi Ava menerima gelas yang disodorkan, pura-pura menegak. Ia tidak akan lupa kalau Ellijah lah orang yang menculiknya kesini dengan trik obat bius, Ava takkan menurunkan kewaspadaannya terhadap pria tersebut. Bisa saja Ellijah memasukkan obat aneh ke dalam minumannya, atau dengan sengaja membuat ia mabuk. Mengingat kegilaan dan obsesinya terhadap Eve, tunangan yang ingin segera ia nikahi, tidak menutup kemungkinan hal-hal tadi bisa terjadi.


“Jadi, kau ingin membicarakan motifmu yang sebenarnya?”


“Motif apa maksudmu?”


“Ketika mengajakku ... berke- kencan.” Ava berkedip terkejut dengan gagap yang tiba-tiba. Namun ia sudah menyiapkan jawaban, “Apa kau lupa untuk apa pesta berisik ini diadakan?”


“Perayaan 1500 tahun berdirinya Kerajaan Edodale?”


“Benar sekali, artinya akan ada festival.” Ava mendengar kabar itu dari obrolan asyik tiga pelayan yang selalu menemaninya.


Kedua alis Ellijah masih tertaut, masih bingung dengan arah pembicaraan mereka. “Aku berniat untuk jalan-jalan, tapi membawa pelayan dan juga pengawal sangatlah merepotkan, terlebih mereka akan menarik perhatian. Jadi lebih baik kau saja yang ikut.”


Namun Ellijah masih tidak mengerti.

__ADS_1


Ava harus mendorong lebih kuat lagi, “Jadi kau tidak mau?”


Dalam hubungan romantis, orang yang lebih menyukai lah yang akan kalah.


Tentu saja tunangan palsunya itu hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut lagi.


***


“Kenapa kau tidak menolak?!” Marvin dengan panik berteriak, langkah panjangnya berusaha mengimbangi jalan Ava yang cepat dan terburu-buru.


“Apa salahnya? Bukankah Putri Eve dan Duke Frost bertunangan, bukankah wajar saja?”


“Jangan berpura-pura bodoh, kau sadar kalau hubungan keduanya tidaklah setara!”


Karena Marvin terus menghalanginya untuk keluar.


Meskipun dalam kontrak Ava secara spesifik membuat klausa untuk tidak ikut campur di luar tugas peran yang diembankan padanya, Marvin tetap bersikeras untuk menutup jalannya dengan alasan “persiapan pesta dansa”. Namun Ava tidak semena-mena percaya kalau rintangan ini akan hilang setelah pesta dansa usai, jadi dia membuat tindakan pencegahan. Dengan memakai Duke Frost sebagai alasan serta tamengnya, Ava akan dengan mudah mendapatkan ijin keluar istana sebab yang mengetahui isi perjanjian mereka hanyalah Marvin, lagipula Raja dan Ratu tidak akan menolak.


Dirinya mengerti kalau Marvin mencemaskan kalau identitas Ava sebenarnya akan terbongkar jika ia tidak langsung berada di bawah pengawasan. Mencoba untuk melekatkan seorang penjaga juga usaha yang membahayakan, karena hal itu mengidikasikan kalau sang Duke tidak dipercaya untuk menjamin keamanan sang putri, Marvin sendiri takut menyinggung pria berstatus tersebut, karena itulah ketidaksukaannya selalu saja ditampilkan di balik punggung, belum jelas di permukaan. Meskipun keluarga kerajaan secara otomatis dijunjung tinggin, akan tetapi pangeran sepertinya belumlah mendapakan pengakuan secara resmi dalam dunia politik, berbeda dengan kakaknya yang dielu-elukan sebagai seorang jenius yang tiap semesternya berkontribusi dengan penemuan-penemuannya. Sayangnya Eve tidak tertarik dengan takhta, bukankah sudah seharusnya Marvin yang mendapat gelar putra mahkota dengan begitu? Namun Raja Dion, ayahnya, tidak dengan segera menobatinya.


Ava yang langsung menangkap arah politik kerajaan berhembus pun memanfaatkannya.

__ADS_1


“Kalau kau masih ingin mengeluh, langsung saja di hadapan orangnya,” Ava akhirnya bedesis, mengancamnya dengan halus.


Marvin diam.


***


“Bukankah sudah kubilang kalau kita akan berkencan?”


“Benar,” Ellijah menjawab polos.


“Kalau begitu kenapa banyak sekali prajurit yang ikut?”


Pria itu kemudian memandang dua pengawal yang secara khusus ia panggil untuk hari ini. “Bukankah sudah wajar?”


“Kau lupa kalau alasanku untuk mengajakmu adalah agar keberadaanku tidak mencolok di festival nanti? Kalau dalam urusan mengawal, bukannya kau selalu memiliki assasin-assasin yang pintar bersembunyi, begitu saja rasanya sudah cukup.”


Kini giliran Ava yang dipandangi oleh Ellijah, alis tunangan palsunya tersebut terangkat, ekspresinya jelas sekali mengatakan “Tumben?”. Jadi Ava segera memutar matanya dengan sengaja, “Tentu saja. Ayo, cepat kita berangkat.” Gadis itu juga buru-buru menaiki kereta kuda yang sudah menunggu mereka, tidak memperhatikan tangan Ellijah yang terjulur sebagai gestur seorang pria terhormat, pria tersebut pun menarik kembali telapaknya yang terbuka dengan seutas senyum pahit, kali ini terbiasa.


Kereta kuda yang mereka berdua akhirnya berjalan diiringi dengan irama “Tuk! Tak! Tuk!” yang lembut, lima belas menit kemudian Ava dan Ellijah sampai di perbatasan istana.


Persis seperti yang buku yang ia baca, istana Edodale adalah pulau melayang, sejauh mata memandang hanya awan yang Ava tangkap. Di ujung pulau, belasan penyihir milik kerajaan ditempatkan, lima diantararnya menggumamkan mantra yang dibuat khusus untuk naik-turunnya andong ke istana, dengan begitu orang yang tidak berkepentingan nyaris tidak bisa keluar-masuk dengan seenaknya. Jelas saja ada pengecualian, Eve, mengingat kertas mantra yang digunakan saat ini adalah salah satu dari hasil inovasinya sendiri, itulah alasan utama doppleganggernya itu bisa dengan mudah kabur dari istana. Namun Ava bukanlah Eve, jadi dia memerlukan sedikit bantuan.

__ADS_1


Setelah ajaban panjang, kereta kuda mereka terbang, kemudian meluncur halus ke bawah. Rasanya persis ketika Ava berada dalam ayunan, terombang-ambing ringan, hanya saja skala ayunan kali ini lebih besar, dan jika mereka jatuh, sudah dipastikan ia akan mati. Untungnya tidak lama, mereka mendarat dengan lancar.


Ava sudah melihat banyaknya orang-orang yang bersenang-senang di festival.


__ADS_2