Hellbent

Hellbent
Bab 196: Sebelum itu ...


__ADS_3

Ellijah duduk merenung di bar dari siang tadi. Tubuhnya membungkuk dengan kepala tertunduk, jika saja Duke terdahulu masih hidup ia pasti sudah ditampar karena tidak berperilaku seperti bangsawan.


Bangsawan yang selalu duduk tegak dengan dagu pongah terangkat.


Bangsawan yang tidak akan pernah menyesal karena mereka selalu yakin apapun yang mereka lakukan adalah hal yang benar.


Bangsawan yang terus mengedepankan kepentingan sendiri meskipun harus menyakiti keluarga mereka.


Bangsawan yang egois.


Bangsawan yang ... jahat.


Ellijah menghela napas, tenggorokannya terasa panas akibat belasan alkohol yang sudah ia tenggak. Gelas yang ia pegang pun terlihat buram dan berayun-ayun, atau tubuhnya yang malah sempoyongan?


Argh, Elli tidak tahu.


Ia tidak pernah suka dilahirkan di kalangan bangsawan.


Jika harga yang harus ia bayar karena status kebangsawanan adalah dikurung tiga hari tanpa makanan ketika ia salah memegang gelas teh, maka dia tidak mau.


Awalnya Ellijah tidak tahu apa yang ia alami disebut penganiayaan. Sejauh memori yang dapat ia ingat, almarhum Duke selalu sekeras itu ketika mengajarinya. Orang dewasa lain juga membiarkan kekejaman tersebut terjadi.


Para butler dan pelayan selalu berkata, "Inilah yang harus ia jalani sebagai pewaris keluarga Frost yang berwibawa."


Bahkan ibunya, "Seorang Duke harus kuat, bertahan saja."


Dipikir-pikir lagi, Duchess sepertinya tahu ada yang salah dengan cara edukasi di Dukedom Frost diberikan.


Karena ia meminta Ellijah untuk "bertahan".


Dia tahu tapi tidak melakukan apapun untuk mengurangi bebannya.


Mungkin karena nasib Ellijah dengan ibunya hampir sama?


Seringkali ia mendengar lolongan pedih ketika ia ingin mengumpulkan tugasnya yang telah selesai. Yang pertama terlintas dibenak Elli ialah Duke mengadopsi anjing penjaga, dan ia sedang menjinakkannya.


Tidak pernah ia menyangka raungan perih yang ia dengar berasal dari manusia.


Karena teriakan mereka terlalu primitif.


Ketakutan primal yang bahkan membuat Ellijah berkeringat dingin serta jantung berdegup kencang hanya dengan mendengarnya.


Namun apa yang ia lihat di balik pintu bukanlah seekor anjing, melainkan Duchess Frost yang babak belur di lantai. Gaun hijau favoritnya robek dan ternodai darah. Riasan wajah cantiknya tidak lagi terlihat akibat lebam ungu serta air mata.


Ellijah ingat saat itu dia menaruh lembar jawabannya dengan tangan gemetar, tapi ia mati-matian menjaga kontak mata dengan sorotan dingin dari Duke Frost.


Ia ingat kalau dia merasa takut membuat kesalahan, bahkan ia tidak segan untuk bernapas, yakin bahwa ia hanya akan mencium bau anyir dan kesengsaraan.


Jadi, ia tidak menyalahkan ibunya atas penderitaan masa kecilnya.


Mereka berdua adalah korban.

__ADS_1


Namun perspektif lemah dan sempitnya seketika hancur saat ia bertemu dengan sang putri, Eve.


Bagaimana gadis itu dengan percaya diri bergabung dalam percakapan antara raja dan Duke Frost, kontras dengan Ellijah yang berusaha keras tidak membuat suara sekecil apapun. Bagaimana Eve dengan berani meminta ijin kepada dua figur pria tersebut untuk membawanya keluar dari ruangan menyesakkan tersebut.


Ellijah selalu mengira bahwa Duke Frost memiliki badan besar, sosok yang kokoh. Namun untuk pertama kalinya, saat Eve menggenggam tangannya menuju pintu, siluet yang selama ini ia takuti terlihat kecil dibandingkan dengan takhta sang raja yang berada di lantai yang lebih tinggi, dibandingkan juga dengan dua pengawal gagah di kanan-kiri podium, dibandingkan dengan ruangan megah yang baru saja ia lihat sekelilingnya.


Eve juga lah yang memberikannya ruang untuk bernapas.


Duke Frost sangat bersemangat dalam menjodohkannya dengan sang putri. Dan untuk pertama kalinya lagi, ia merasa senang dengan tugas yang ia beban.


Eve juga lah yang membebaskannya.


Tidak lama setelah pertunangan mereka resmi, Duke Frost mengalami kecelakaan. Ellijah yakin inilah yang Eve rencanakan.


Untuk menuntunnya ke jalan keluar.


Untuk membiarkannya menghirup udara segar.


Untuk memberikannya kebahagiaan.


Saat semua relatif dan pelayan menahan tangis di pemakaman pasangan Frost, Ellijah menahan senyum.


Karena itulah ia membenci kebangsawanan.


Semua nilai dan cara yang ia pelajari sebagai pewaris status semuanya salah.


Semuanya salah kecuali Eve.


Karena ia merasa membuang semua yang tertanam dalam otaknya kecuali keegoisan.


Ellijah sadar penuh bahwa misi yang mereka jalani saat ini berbasis cerita dalam gate, dengan kata lain palsu.


Namun ia benci membayangkan orang lain, walaupun hanya karakter imajiner yang bahkan sudah mati, menikahi Eve.


Elli tidak ingin membagi tunangannya itu dengan siapapun.


Di luar gate, ia sudah mati-matian menahan diri agar tidak membekukan setiap pasang mata yang berani-beraninya melihat ke arah Eve.


Dan saat gadis itu menyebut pernikahan khayalannya dengan orang yang hanya seonggok mayat, ada yang retak dalam dirinya.


"Woah, tenang. Aku tidak menggigit~"


Gerakan tiba-tibanya membawa denyut di kepala Ellijah, tapi kini ia dapat menangkap siluet orang yang mengajaknya berbicara. Meskipun penglihatannya masih buram, ia masih dapat mengenali dua iris tajam pada kedua bola mata tersebut.


Ah.


Si wanita iblis.


"Pergi."


"Yah, tidak~ Omong-omong, kau sebaiknya memeriksakan tanganmu ke healer, hm, kalaupun ada sih~"

__ADS_1


Barulah ia sadar bahwa gelas yang cengkram telah pecah, serpihan kacanya menusuk telapak tangan Ellijah.


Tapi ia sama sekali tidak merasa sakit.


Panas di dada serta pikirannya lah yang lebih membebaninya.


"Di luar gate, kau adalah tunangan dari sang putri ya?"


"Benar." Ellijah langsung menjawab, walaupun ia tidak menyukai premis kalimat pertama. "Di luar gate", seolah statusnya di sini berbeda hanya karena cerita bodoh yang berjalan.


Ia tahu kalau dia seharusnya tidak boleh mendengarkan apapun yang seorang iblis katakan.


Iblis hanya akan mendatangkan mala petaka bagi sekitar mereka.


"Sayangnya, putri manja itu membuangmu karena perannya di sini, huh?"


Namun, seorang iblis juga yang paling ahli dalam menggoyahkan hati manusia.


... Eve membuangnya?


Dia ... dibuang?


"Permaisuri, bukan? Kudengar di dunia manusia, wanita yang suaminya meninggal dunia bisa diklaim lagi oleh keluarga asal mereka~ Mungkin sebentar lagi sang permaisuri akan dinikahkan kembali dengan orang lain~"


Asmo menyeringai di balik tangannya. Melihat Duke Frost yang hanya mematung meskipun mendengar setiap perkataannya, ia sudah tahu rencananya berhasil.


Manusia adalah makhluk yang bergerak menuruti hasrat mereka.


Apalagi ketika mabuk, keinginan jelek ataupun kotor yang terpendam sedalam apapun, bisa keluar hanya dengan beberapa kalimat provokatif.


Manusia adalah makhluk yang mengedepankan emosi daripada rasionalitas.


Ellijah bangkit tiba-tiba, kursi yang ia duduki jatuh mengenaskan di lantai. Pria itu segera berjalan terburu-buru, sempoyongan namun penuh tekad, bertujuan.


Asmo tidak bisa lagi menahan tawa.


Ah~


Manusia itu bodoh.


***


Ava hampir meloncat dari duduknya ketika pintu kamarnya terdobrak terbuka.


Ellijah, bermuka merah dan berbau alkohol, menyongsong gadis itu dengan langkah yang lebar meskipun tidak lurus.


"Apa kau ... mabuk?"


Ava melirik jendela, matahari masih tinggi, paling lambat hari hampir menjelang sore.


Namun sebelum ia berpikir lebih lanjut, wajah Elli sudah tepat di depannya. Hidung mereka bahkan hampir bersentuhan.

__ADS_1


Tubuh Ava terjepit antara kursi megah dan Elli yang sepenuhnya berniat mengurungnya dengan badan kekarnya.


__ADS_2