
Sepertinya pertandingan mereka tersebar dengan cepat, sehingga sudah ada belasan orang yang duduk di bangku penonton. Kebanyakan di antaranya hanyalah orang asing yang membutuhkan hiburan, tapi ada juga sosok-sosok yang Ava ataupun Hao kenal.
"Aku tidak yakin cara seperti ini akan membuat Rina jatuh cinta," Rai menggerutu sembari mengipasi pelan wajahnya. Yong yang duduk di sampingnya mengangkat bahu, "Entahlah, karena dari pengamatanku sendiri, Rina bukanlah gadis yang akan membuka hati hanya dengan beberapa undangan makan malam, setidaknya kali ini adikku bisa mengajak gadis itu untuk melakukan sesuatu, meskipun bukan kegiatan yang paling romantis."
Dom dan River berada di bangku yang paling depan, sama-sama berteriak semangat meskipun dengan dua niatan yang berbeda.
"Semangat, Rina!" River memberi semangat.
"Hajar sampai babak belur bocah ingusan itu!" Dom, tentu saja, lebih ingin melihat Hao terkapar lemas.
Barisan wajah-wajah tidak dikenal juga ikut bersorak.
"Jangan sampai kalah, Gadis manis!"
"Aku bertaruh pria berpedang yang akan menang!"
__ADS_1
"100 koin untuk perempuan itu!"
Ava seharusnya memasang taruhan juga, lumayan untuk tambahan uang.
"Mungkin sebaiknya besok-besok kita harus menutup akses agar tidak terlalu berisik," Hao mengomel.
"Tapi biaya sewanya lebih besar."
"Aku punya uang." Ava tidak membalas.
Mereka berdua akhirnya bersiap tegak, kemudian saling membungkuk untuk memberi hormat. Hao mengambil kuda-kuda, kedua tangannya menggenggam gagang pedang. Di sisi lain, Ava langsung menerjang.
Detik-detik pertama sudah sangat intens. Para penonton yang tadi gaduh pun seketika terdiam.
Hao menajamkan fokus, perlahan memperpendek jarak. Ava yang menangkap gestur halus tersebut pun menyongsong dengan agresif. Dengan sigap, puluhan serangan sudah dielak mulus. Gadis itu juga cekatan menahan pedang panjangnya dengan kedua belati.
__ADS_1
Sedangkan dalam hati, Ava mengeluhkan reaksi tubuhnya yang terlalu cepat, saking cepatnya sampai ia sudah tiga kali nyaris jatuh karena tumpuan kaki yang tidak seimbang.
Sekarang giliran Hao yang memulai serangan balik. Dia mengayun ke bawah, atas, lalu samping. Sayangnya semua berhasil dihindari dengan celah tipis, pergerakan efektif dari orang yang sudah berkelahi di jalan selama bertahun-tahun.
Sepertinya, bertarung memanglah cara paling efektif untuk segera berdaptasi. Ava sudah lebih nyaman dengan tubuhnya sendiri. Jadi dia menyerbu lawannya dengan bertubi-tubi, mengincar kepala, bahu, pinggang, dan kaki.
Namun Hao tetaplah seorang ahli pedang meskipun levelnya masih berada di angka 20-an. Latihan keras yang ia tempuh dari kecil membekalinya dengan ilmu pedang yang membuat ia dapat mengalahkan monster berlevel sedang tanpa kesusahan.
Sebaliknya, Ava sudah mulai kelelahan, jadi dia berniat mengakhiri duel ini sesegera mungkin. Ofensifnya semakin sengit.
Hao tidak menyangka kalau lawannya akan berputar, dalam sekejap berada di belakangnya, ia dapat mengelak meskipun tidak sempurna, kuda-kudanya hancur. Ava segera menendang keras kaki Hao, yang langsung membuat pria itu jatuh telentang. Gadis itu menindih lawannya yang terkapar, menekan lengan Hao dengan kedua lututnya, kedua belati kayu tersilang di bawah dagu pria tersebut.
Ava menang.
Penonton menjadi riuh.
__ADS_1
Akan tetapi Hao terdistraksi oleh hangat tubuh gadis itu, kulitnya yang beraroma lavender, serta wajah berkeringat Rina yang tetap memukau tidak sampai sejengkal di hadapannya.
Ia hanya berharap Rina tidak menyadari debar jantung yang secara praktis menggedor tulang rusuknya.