
Dimensi ini, seperti dunia fantasi yang lain, dihuni juga oleh ras yang bukan manusia. Elf, makhluk dengan paras bagaikan peri dan umur mereka yang sangatlah diberkahi. Dwarf, kurcaci setinggi pinggang orang dewasa yang pandai sekali dalam mengolah mineral logam. Lalu beastman, manusia setengah hewan yang dapat bertransformasi sesuai dengan klan mereka.
Ava sudah tahu tidak ada namanya utopia, semua dunia pasti ada masalahnya. Jadi gadis itu tidak kaget jika marak terjadi diskriminasi antar ras, terlebih beastman. Jenis dan variasi mereka yang bervariasi, menyulitkan mereka untuk bersatu membentuk kekuatan. Berbeda dengan ras lain yang meskipun terpisah masih dinilai setara karena sistem pemerintahan yang terpusat, beastman biasanya membentuk klan sebesar desa sesuai dengan spesies hewan mereka. Karena itulah, dalam tangga kekuasaan, beastman dianggap paling bawah. Hanya ada beberapa figur terhormat yang masih dipuji karena kekuatan individu mereka dalam menghadapi monster ataupun menaklukan gate. Namun untuk penduduk biasa, mereka berujung hidup berkelompok untuk melindungi diri, saat berpergian pun mereka akan bergerumbul.
Jadi akan sangat jarang menemukan sepasang saudara beastman berkelana sendirian.
"Namaku Rina," Ava lebih dulu memperkenalkan diri.
"Kau tidak terlihat seperti "Rina" bagiku," tiba-tiba pria dengan lengan bertato menyeletuk. Ava hanya menaikkan sebelah alisnya, nyaris mengabaikan komentar entah berantah tersebut. "Aku Domasa, adikku Lorah, salam kenal." Si gadis cilik malu-malu menganggukkan kepala dari balik punggung kakaknya.
"Ah, aku River, salam kenal juga."
"Iya, aku tahu kalian. Terlebih kau, penjinak monster. Kelompok kalian terkenal di pesisir Englerock sampai beberapa hari yang lalu. Hanya saja tidak kukira kalian akan berpisah."
Dom pasti merujuk pada Selena, Ezra, Al, dan Roy. Kombinasi mereka memang cukup unik, herbalis yang terus ditemani oleh penjinak monster, pangeran kerajaan dan sepasang pelayan asasin, dan seorang pendeta penyembuh.
"Kami hanya beberapa kali bertemu, lalu berpencar karena memang tujuan yang berbeda," Ava berkilah, tidak sepenuhnya bohong.
"Hah, kupikir orang sombong akan terus berkumpul dengan orang sombong," Dom menyeringai, sengaja menunjukkan taringnya.
Ava bingung dengan olokan yang tiba-tiba ini, "Kau menganggap aku sombong?"
"Lihat saja tadi! Kau sangat arogan karena sedikit pintar!"
"Rina, sebaiknya kau--"
"Kau tidak menyukai orang pintar?" Ava memotong River, tidak mau kalah dalam argumen ini.
"Aku tidak suka orang arogan!" Suara Dom makin keras, nada baritonnya yang dalam menggelitik Ava.
"Kenapa kau menyebut tindakanku sebagai arogansi?"
"Karena aku tidak butuh bantuan!"
"Agresi hanya akan memperpanjang keributan, lagipula masalah tadi terpecahkan karena kehadiran kapten kapal, bukan aku."
Kedua tangan Dom berada di pinggang, wajahnya dengan sengaja membentuk ekspresi jelek, jelas-jelas mengejek, "Nona sok pintar! Nona sok pintar!"
Ava dalam hati menghela napas, membayangkan dirinya mengelus pelipis kepala. Astaga, kekanakan sekali. Ia bahkan mulai merindukan Ezra, partner adu mulut yang sangat bagus.
"Kau mungkin tidak sadar, tapi adikmu terus saja bergetar setiap kali kau berteriak."
Seketika Dom berhenti, menyadari kesalahannya, ia tidak memperhatikan adik yang harusnga ia jaga.
Entah sudah dari kapan, Lorah duduk tenang di samping River sembari mengunyah apel kupas. "Ah, maafkan Kakak, Lor."
__ADS_1
Dari balik bulu mata tebal, Lorah melirik Ava, "Kakak cantik, pintar bukan hal yang buruk!"
Sudut mulut Ava terangkat, setengah alasannya karena Dom yang diabaikan oleh adiknya sendiri. "Tentu saja! Menjadi pintar itu hal yang sangat bagus!" timpal Ava, mengimbangi semangat.
Omong-omong, Ava ingin memastikan hewan jenis apa mereka berdua, apakah benar cheetah? Tapi dia kira ini adalah topik yang sensitif, mengingat tindakan diskriminasi yang baru ia saksikan. Jadi Ava menggunakan skill observasinya, meskipun tidak sopan, dia tidak akan ketahuan.
Nama : Domasa Acinonyx
Ras : Beastman Cheetah
Level : 38
Koin : 75437
Kekuatan : 7
Kecepatan : 13
Kelentukan : 11
Stamina : 9
Skill : Dash (II)
Mengingat karakteristik cheetah yang secepat lamborghini, status seperti itu cocok baginya.
Ras : Beastman Cheetah
Level : 8
Koin : 784
Kekuatan : 1
Kecepatan : 3
Kelentukan : 3
Stamina : 2
"Omong-omong kami sudah klaim tempat tidur ini, kalian bisa memakai yang satunya." Dom segera memperhatikan ranjang bawah yang dipenuhi dengan buku, "Pfft, cupu." Apa masalah pria satu ini? "Tapi kami ingin dua ranjang bawah," lanjutnya tanpa malu, yang langsung membuat Ava terpancing. "Tidak, dengan pembagian seperti ini, alokasi penempatan barang juga adil." Dengan kamar sekecil ini digunakan untuk 4 orang, esensial sekali memisahkan tempat untuk masing-masing dari mereka.
"Tapi aku ingin ranjang bawah, adikku juga akan bahaya jika dibiarkan di ranjang atas."
"Tapi aku bisa kok tidur di ranjang atas." Gadis semanis itu entah kenapa bisa memiliki kakak menyebalkan seperti ini.
__ADS_1
"Jadi kau yang tidak ingin memberikan ranjang bawah kepada adikmu sendiri," seperti biasa, Ava pintar sekali berdalih.
"Apa?! Tidak, kalian yang--"
"Kukira kau adalah kakak yang penyayang, ternyata bukan," Ava menyerang lagi tanpa membiarkan Dom membela diri.
"Kakak yang baik seharusnya mengambil ranjang atas untuk kebaikan adiknya sendiri." Tanpa ampun. Tidak lupa Ava memperingati River dengan matanya untuk tidak menyela, membiarkan perdebatan ini terjadi, karena ranjang bawah ada miliknya, haknya. Ava bukan seorang yang penurut.
"Astaga, apa ini artinya kau tidak sepenuhnya menyukai adikmu?"
"Apa? Kakak ...?" Melihat Lorah yang sudah berkaca-kaca, sepertinya Ava terlalu jauh.
Tapi karena itulah, Dom mengalah, nyaris berteriak karena frustasi. "Argh, baiklah! Kami ranjang sebelah sini. Lorah, kau ranjang bawah."
Ava memeletkan lidah saat Dom berbalik, River dan Lorah diam-diam tertawa melihatnya.
Tidak lama setelah itu, klakson kapal berbunyi nyaring menusuk gendang telinga Ava yang sensitif. Lantai juga sempat bergoyang. Akhirnya mereka berangkat.
Namun perjalanan ini sepertinya tidak akan berlalu dengan tenang.
"Kutu buku sepertimu buat apa sih berpetualang jauh?"
"Jangan sembarangan menyentuh bukuku."
Ava kembali merebut buku yang secara acak dibuka halamannya oleh Dom.
"Hanya orang lemah yang membutuhkan obat penyembuh."
"Orang lemah lebih baik daripada orang yang mati karena infeksi."
Dom langsung berkomentar melihat Ava mengoleskan salep untuk luka-luka kecil yang masih belum sembuh.
"Apa itu? Topeng untuk menutupi wajah jelekmu?"
"Diam atau suatu saat minumanmu akan kuracuni."
Ava nyaris melempar masker gas yang tengah dia cek ke kepala Dom. Berharap benturan bisa mewaraskan laki-laki yang hobi sekali mencari gara-gara tersebut.
"Um, apa kita tidak sebaiknya melerai mereka?" hati-hati Lorah bertanya pada River.
"Hanya teman yang benar-benar akrablah yang bisa bertengkar." Di sisi lain, River malah lega. Setelah berpisah dengan Ezra dan Selena, ia takut Rina tidak akan mempunyai teman yang seumuran dengannya.
"Astaga, kupikir ciri khas cheetah adalah lari mereka yang cepat, bukan mulut mereka yang cerewet!"
"Hah, tidak akan ada yang mau meladeni perempuan bermulut pedas sepertimu jika bukan aku!"
__ADS_1
Ava dan Dom saling mencubit pipi, tidak mau melepas pipi lawannya sebelum River harus turun tangan.