
Kasus yang terjadi di panti asuhan ditutup oleh pihak kepolisian dengan kesimpulan "Pembunuhan Berencana", pelaku dinyatakan masih buronan karena kebetulan direktur yang mati memiliki banyak sekali musuh. Tidak mengejutkan mengingat bagaimana dia mengurus panti asuhan layaknya preman kejam.
"Kita tidak akan ketahuan, kan?" Ava masih khawatir. Ia masih ingat darah hangat yang menodai sekujur tubuhnya.
Karena perbuatannya seseorang meninggal.
Tidak lagi bisa bergerak.
"Tidak ada yang curiga, tenang saja," Lexa sekali lagi menenangkan dua bocah yang saling melirik cemas.
Bukan berarti Ava merasa bersalah tentang apa yang sudah ia lakukan. Direktur jahat itu pantas dihukum. Lexa juga mengatakan hal yang sama, bahwa dia berterima kasih kepada Ava karena sudah menyelamatkannya dari salah satu kekejian si direktur tersebut.
Orang dewasa seharusnya melindungi anak-anak seperti mereka.
Orang dewasa seharusnya mengajari apa yang benar dan apa yang salah.
Sayangnya, tidak ada orang dewasa yang melakukan peran mereka dengan baik di sekitar Ava dan si kembar, Alex dan Lexa.
Benar. Ava melakukan hal yang benar.
__ADS_1
Kalau tidak ada yang melindungi dan mengajari mereka, maka ia akan melakukannya dengan kekuatan sendiri.
"Ck, cepat pel bagian situ!"
Hilangnya kehadiran si direktur bukan berarti keadaan di panti asuhan membaik. Para staf yang dulu secara diam-diam membuat anak-anak untuk melakukan pekerjaan mereka, sekarang melunjak dan terang-terangan menganiaya siapapun yang membantah perintah.
Dan anak kecil adalah makhluk peniru yang hebat.
Dengan cepat, panti asuhan tersebut berubah menjadi arena pertarungan kekuasaan. Para staf yang sudah dewasa menindas anak-anak yatim piatu di sana, lalu anak yang memiliki tubuh yang lebih besar memukuli yang terlihat lebih lemah. Contohnya, Lexa, gadis cilik yang sering sakit-sakitan.
Untungnya, Alex dan Ava pintar berkelahi.
Menyisakan Ava berhadapan dengan pimpinan kelompok penindas tersebut, yang paling tua di antara mereka. Kalau pukulannya ditangkas, Ava menendang. Tendangannya dihindari, gadis itu menggigit. Menjewer, menampar, hingga mencekik, apapun akan ia lakukan agar menang.
Tidak lama kemudian, ketiga bully tersebut jatuh dan menangis.
"Akan kuadukan kalian!" ancam mereka sebelum lari terbirit-birit.
"Wlek!" Ava menjulurkan lidah, meledek.
__ADS_1
Kalaupun memang benar mereka mengadu, mereka lah yang akan dimarahi karena mengganggu waktu istirahat para staf.
Begitulah, tiga serangkai yang awalnya dekat kini semakin rapat hubungannya. Karena pada dasarnya, mereka masih anak-anak yang butuh tempat sandaran. Jadi mereka berjanji untuk saling bersama, saling menjadi tempat sandaran yang mereka butuhkan untuk selamat dalam lingkungan yang busuk.
Tapi tidak lama, keyakinan mereka bahwa tidak ada orang dewasa yang baik tergoyahkan.
Direktur yang baru datang.
Para staf sibuk melatih anak-anak panti untuk tidak lagi membuat keributan di depan direktur yang baru, setidaknya sampai sebulan setelah penempatan.
Awalnya Ava pikir direktur yang baru ini adalah pria menakutkan, melihat reaksi nervous para staf yang kini ia anggap sebagai orang jahat, gadis itu ikut-ikutan takut. Bagaimana kalau direktur yang baru juga akan mencari gara-gara dengan mereka? Apakah Ava harus belajar untuk menggunakan pisau?
Pesta penyambutan diawali dengan kesunyian. Saat mobil mewah mengkilat sampai di depan pintu gerbang panti asuhan, yang keluar adalah seorang kakek berbadan besar dan luka bakar di wajahnya. Banyak anak-anak yang kaget, lalu merengek begitu melihat direktur yang baru. Berbeda dengan tiga serangkai yang telah menguatkan diri untuk menghadapi tokoh penjahat lain yang masuk ke dalam cerita tragis mereka.
"Ah, kurasa wajahku memang menyeramkan." Namun yang keluar dari mulut si direktur yang baru bukanlah bentakan kesal ataupun peringatan dingin. Pria tua itu malah ... sedih?
Detik itulah manik tegar Ava bertatapan langsung dengan mata abu-abu si direktur baru, kemudian dia tersenyum.
Hah?
__ADS_1