
"Kau mabuk," Ava menyatakan datar. Kalau saja Elli tidak sadar akan perbuatannya karena otaknya dikabuti alkohol, gadis itu akan mengingatkannya lagi.
Tangan putih menyelinap di antara mereka, Ava berusaha menjaga jarak antara dirinya dengan pria mabuk yang sudah terlalu dekat tersebut. Namun, pergelangan tangannya lebih dulu tertangkap. Ellijah menuntun genggaman pada tangan Ava ke lehernya, membiarkan gadis itu merasakan nadi yang berdengung panas meskipun kabut alkohol belum hilang dari mata yang bersinar tekad.
Semakin ke atas, kini giliran Ava. Pertama-tama, Elli mencium setiap ujung jarinya, lalu memetakan garis biru yang menjulur di sepanjang pergelangan tangannya dengan kecupan ringan.
Tunggu ...
Apakah ...
Apakah Elli merayunya?
Setelah tantrum yang pria itu lempar tadi siang, Ava lebih memilih jika dia meminta maaf terlebih dahulu, bukannya menggoda.
Menemukan fokusnya yang sempat kabur, Ava akhirnya mendorong Elli dengan tangannya yang bebas. "Mundur, sadarkan dirimu terlebih dahul--" Belum sempat berdiri, Ava dipaksa duduk kembali.
Mungkin Elli tidak bisa melihat sorotan laser yang Ava berikan, atau geraman kesal yang berhasil lolos dari indranya yang masih tumpul akibat alkohol. Karena pria itu malah menyodorkan wajahnya lebih dekat lagi, busur cupid pada bibirnya menggores ringan pipi Ava. "Kau tidak boleh menikah dengan orang lain," ungkap Elli, atau setidaknya kalimat itulah yang dapat Ava tangkap dari gumaman tak jelas orang yang mabuk berat.
__ADS_1
Tapi tetap saja, Ava belum bisa memahami konteks yang Elli bicarakan. "Apa yang kau bicarakan?"
"Kau adalah tunanganku." Napas Elli terasa hangat di pipi Ava.
"Tunanganku." Ava baru menyadari keseriusan situasi ini ketika rahangnya dicengkram erat.
"Bukan milik orang lain." Mulut Elli bergerak perlahan, hingga akhirnya membayangi bibir merah yang selama bertahun-tahun hanya berani ia pandang.
"Milikku."
Ava menendang apa yang ada di antara dua kaki Elli, saking kerasnya sampai-sampai gadis itu juga ikut menyepak meja di belakang tunangan palsunya tersebut. Tulang keringnya sudah berdenyut nyeri.
Ellijah mengerang sakit, menggenggam di bawah perutnya dengan harap meminimalisir rasa pedih.
Dalam sekejap Ava bangkit, mengambil langkah lebar untuk kabur dari kamarnya sendiri.
Namun, bahu Ava ditahan oleh Elli meskipun pria tersebut masih setengah membungkuk. "Kau ingin pergi ke mana?"
__ADS_1
Untungnya, posisi gadis itu tidak lagi terjepit dan rentan. Dengan mudah ia menjauhkan diri dari sentuhan pria di hadapannya. "Di mana saja asalkan tidak ada orang mabuk yang berusaha menerkamku."
Kalau Elli tidak mengerti penolakan ini juga, maka dia adalah orang bodoh.
Ava keluar dengan dengusan marah, langsung disambut oleh ekspresi terkejut seorang pelayan yang membawakan makan malamnya.
Ah, satu lirikan ke jendela ia pun sadar bahwa matahari sudah terbenam. "Ikuti aku ke perpustakaan."
Ava tidak mau kembali ke kamarnya sebelum Elli cukup waras untuk pergi sendiri.
Wajah pria itu memang menjadi masalah, terlalu familiar hingga Ava menurunkan kewaspadaannya tanpa ia sadari.
... Berani-beraninya pria itu menggunakan wajah Alex untuk melakukan hal yang tidak ia sukai.
Meskipun Elli dan Eve diikat dengan pertunangan, Ava hampir yakin mereka berdua tidak pernah bersentuhan fisik secara intim. Tidak hanya masyarakat di kalangan bangsawan mengerutkan kening pada public display of affection, mereka juga memprioritaskan "kesucian" sebelum pernikahan. Ditambah lagi, perasaan di antara keduanya jelas sekali bertepuk sebelah tangan, obsesi satu arah.
Kalau saja terdapat aturan yang melarang makanan masuk ke dalam perpustakaan, tidak ada yang berani menegur permaisuri yang terlihat berang.
__ADS_1