Hellbent

Hellbent
Bab 56: Safe and Sound


__ADS_3

Rai kembali ke kursinya dengan senyum puas, sudut bibirnya tertarik hingga ke telinga. Berbanding terbalik dengan Hao yang wajahnya memerah, mengerut, dengan urat yang terlihat akan meledak.


"Kau memang adikku, dan aku menyayangimu, tapi kebiasaanmu itu memang menggelikan untuk diceritakan," Yong sampai bergetar menahan tawa.


Jadi cerita itu benar? Rai tidak hanya mengarang?


"Menggelikan? Tadi itu sudah termasuk pelecehan ke orang yang mendengarnya!" Dom masih saja berusaha mengejek meskipun sedetik yang lalu ia masih berguling-guling di lantai.


Ava membiarkan gelombang cekikikan berlalu untuk beberapa lama, setelah reda, hanya menyisakan cekekehan lirih dari satu atau dua orang, Rai dan Dom maksudnya, gadis itu yang pertama membuka lagi obrolan. "Baiklah, Hao, siapa yang akan kau pilih sebagai target?"


"Takahashi-san!"


Oh, inikah waktu balas dendam?


"Aku tantang-- Aku tantang kau--!"


Oh, Hao masih diliputi amarah, otaknya masih belum bekerja. Ava mendorong jus apel yang baru saja diantarkan oleh pelayan di hadapan pria itu, yang sekali teguk langsung habis. Setidaknya Hao tidak lagi bernapas seperti banteng yang melihat kain merah.


"Kutantang kau naik ke podium dan bernyanyi!"


Untuk temannya, Yong ternyata tidak menahan diri, ia tergelak hingga kursinya terdorong ke belakang.


Ada cahaya baru dalam sinar mata Hao. "Kenapa? Takut kalau wanita-wanita di sini akan tahu kalau kau memiliki suara yang sumbang?!"


Dari pagi Rai memang menarik perhatian banyak perempuan. Dengan rambut oranye yang berkilau di bawah sinar matahari, sikap lembut, suara halus, dan rayuan manis, tidak heran jika ia dapat memikat hati dari gadis-gadis malang.


Menggoda memanglah hobi, tapi Rai tidak ingin aibnya tersebar hari ini, ataupun selamanya. Tapi dia juga tidak mau menjadi bahan ejekan Hao ....


Tidak. Harga dirinya lebih penting daripada permainan yang ternyata menjadi batu halang dalam perjalanannya. "Aku akan--"

__ADS_1


"Aku akan menggantikanmu melakukan tantangan tersebut jika kau menjanjikanku satu permintaan," Ava tiba-tiba menyela. Semua yang ada di meja kaget dengan pernyataan gadis itu.


"A-apa?" Hao bahkan tidak menutup mulutnya setelah terbata bertanya.


"Kau bisa melakukan itu?" Dom juga tidak percaya.


"Bisa! Tentu bisa!" Tidak ingin melewatkan kesempatan ini, Rai langsung setuju, dialah yang mengawali permainan ini, jadi peraturan terserah padanya. "Jadi Rina akan menjadi mawar hitamku!"


Ava pernah mendengar sebutan itu dari drama korea yang pernah Lexa tonton, tapi penggunaannya berbeda dari ini. Terserah saja, Ava butuh Rai untuk memenuhi permintaannya.


Hao merasa tidak terima, tapi di sisi lain ia juga ingin melihat wanita pujaannya bernyanyi.


... Ah, biarlah, lagipula dia yakin Rai tadi sudah berniat menolak, meskipun ia kehilangan kesempatan untuk mempermalukan Rai, hukuman sepeti meminum alkohol hanya membosankan dibandingkan performa dari Rina.


Pada malam sebelum badai hitam, di podium akan ada sebuah grup yang memainkan berbagai alat musik yang tersedia di atas panggung sebagai hiburan para penumpang, lantai atas maupun bawah. Namun kini, instrumen musik lainnya rusak, tidak ada lagi pemusik yang memainkannya. Apa yang tersisa adalah gitar akustik tua yang sebelumnya hanya disimpan di gudang, staf kapal mungkin mengeluarkannya hanya sebagai pajangan di panggung yang kosong, serta beberapa item pengeras suara.


Ketika Ava memberitahukan niatannya, pelayan restoran menyambut idenya dengan suka cita, Ava bahkan mendapatkan kupon makan gratis untuk sarapan besok.


Senar gitar tua yang ia pegang sangatlah kaku dan fals, bukti bahwa instrumen tersebut sudah lama tidak digunakan. Jadi Ava butuh waktu untuk menyesuaikan nada pada benda antik itu.


Dan saat ia menghadap ke penonton, Ava tidak menyangka akan mendapat perhatian dari seluruh orang yang ada di restoran kapal saat itu.


Seorang staf dengan sigap menyalakan artifak yang bentuknya seperti ranting gemuk dengan bola di atasnya, sebuah mikrofon.


"Kuharap pertunjukan ini dapat sedikit menghibur, tapi jika kalian ingin melempariku, tolong lempari dengan koin." Tawa membahana di lantai bawah.


Jreng!


"Aku ingat air matamu mengalir di wajahmu ketika aku bilang tidak akan pernah meninggalkanmu." Ava mengawali lagunya dengan suara merdu yang halus. Para penonton bahkan seketika terdiam. River menyaksikan dengan bangga dan kagum, dialah yang paling tahu tentang keahlian Rina dalam bernyanyi, tapi baru kali ini ia melihat gadis itu memainkan gitar dengan pandai.

__ADS_1


"Ketika semua bayangan itu hampir membunuh cahayamu." Lorah serta Dom masih sama terpesonanya ketika pertama kali Rina bernyanyi di kamar mereka saat mati lampu.


"Aku ingat kau berkata, "Jangan tinggalkan aku disini sendiri"." Rai dan Yong saling bertatapan, bertanya-tanya apakah Rina memang seorang herbalis dan bukannya bard ataupun penyanyi.


"Tapi semua itu mati dan hilang dan berlalu malam ini." Hati Hao bergetar. Layar sorot yang menyinari wanita pujaannya itu seolah menciptakan sosok malaikat yang memainkan musik untuk para mortal di dunia. Dengan tangannya yang tremor, ia merasakan detak jantung yang menggedor dada.


"Tutuplah matamu, matahari akan terbenam. Kau akan baik-baik saja, tidak ada yang bisa menyakitimu sekarang." Orang-orang lain pun terhanyut dengan melodi dan irama yang dibawakan gadis itu.


"Datanglah cahaya pagi, kau dan aku akan aman dan baik-baik saja." Terutama liriknya yang menenangkan. Mereka masih ingat kalau Rina adalah seorang dengan medali emas karena perjuangannya. Melihat orang yang melindungi mereka dengan langsung menyanyikan lagu seperti itu, hati mereka sedikit lebih tenang.


Karena sebenarnya mereka masih takut.


"Jangan berani melihat keluar jendelamu, Sayang. Semuanya terbakar. Perang diluar pintu kita terus mengamuk."


Bagaimana jika ada monster yang menyerang mereka lagi?


"Berpeganglah pada pengantar tidur ini meski musik telah pergi, pergi."


Kini kekhawatiran mereka seolah meleleh, akhirnya mereka bisa sedikit bernapas.


"Tutuplah matamu, matahari akan terbenam. Kau akan baik-baik saja, tidak ada yang bisa menyakitimu sekarang."


Bagi mereka, lagi itu adalah janji, janji kalau mereka akan selamat dari perjalanan ini, berhasil melewati samudra yang ganas dan misterius untuk bertemu lagi dengan keluarga mereka.


"Datanglah cahaya pagi, kau dan aku akan aman dan baik-baik saja."


Ava mengakhiri performa dengan iringan melodi yang indah dan damai. Kuku telunjuknya agak terpotong, senar yang kaku juga membuat buku-buku jarinya nyeri. Ia menangkap beberapa kunci yang fals di tengah tadi.


Jadi Ava hanya berkedip bingung saat seluruh orang di lantai bawah, bahkan VIP lantai atas memberinya tepukan tangan meriah dengan berdiri.

__ADS_1


Mungkin mereka tidak menyadari kecacatan dalam pertunjukkannya.


Ava tidak sadar kalau dirinya menjadi sumber harapan yang baru.


__ADS_2