Hellbent

Hellbent
Bab 163: Antusias Gadis Kampung


__ADS_3

"Woah!" Bia berseru takjub dengan kereta kuda terbang yang ia tumpangi. Dia nyaris menjatuhkan palu ketika surat undangan mewah bertabur emas dikirim ke toko besi kakeknya yang lusuh dan jelas tidak cocok dengan lipatan kertas harum mengkilap yang tergeletak di atas meja kayu lapuk. Ditambah lagi saat ia baru tahu kalau pelanggan yang selama ini memesan barang padanya ialah seorang putri. Putri Eve Weinhamer dari Edodale.


Sang Putri Eve, putri yang terkenal sebagai ahli alkemi dan inovator artifak modern yang selama ini ia idolakan.


Astaga! Bagaimana bisa ia tidak tahu sebelumnya? Berita mengenai Putri Eve memang kebanyakan hanya berisi artikel pencapaian terbarunya tanpa disertai foto. Tapi Bia sungguh tidak terima dengan kelambanan otaknya yang sama sekali tidak sadar bahwa sang putri pernah menginjakkan kaki di kamar berantakannya.


Dan sekarang, ia diundang ke istana Edodale untuk bekerja sama langsung dengan Putri Eve! Bia sebenarnya berniat untuk mengikuti pameran artifak buatan tahun depan guna memamerkan inovasinya di festival berdirinya kerajaan Edodale. Namun kini ia malah diajak berkolaborasi langsung oleh Putri Eve!


Ya ampun, mimpinya menjadi nyata!


Kaki Bia tidak bisa diam, ketika pintu andong melayang yang ia tumpangi terbuka, gadis tersebut melompat turun sebelum prajurit yang bertugas mengantarnya memberi salam hormat. "Hap!"


"Se-- ... Selamat datang di istana melayang Edodale, Nona Bia," untungnya Harry berhasil melanjutkan sambutan dengan lancar, seolah kelakuan Bia sepenuhnya dimaklumi.


Berbeda dengan Bia yang langsung terpaku di tempat. Ia tidak pernah menyangka akan dijemput oleh kstaria royalti, dirinya terburu-buru merapikan hem serta mengebas rok yang mungkin dihinggapi debu. Bia lalu menunduk canggung, "Ah, iya, Tuan prajurit. S-selamat datang juga."


"Selamat datang juga"?


Apa?!

__ADS_1


Bicara apa kau, Bia?!


Gadis itu mengutuk kalimat tidak masuk akal keluar dari mulutnya. Wajahnya Semerah tomat, terlahap malu.


Untung, dibekali dengan sifat kstaria sejati, Harry tidak berniat mengomentari apapun hal tak jelas yang Bia lakukan atau katakan. "Mari saya antar Nona ke tempat Putri Eve berada."


"Ehem, benar, benar, tolong antar saya."


Selama perjalanan, Bia tidak bisa menahan diri untuk melihat-lihat lingkungan sekitar. Dari luar, istana yang ada nampak sangat-sangat besar. Dekorasi serta furnitur pun berkualitas tinggi dan pastinya mahal. Namun yang paling membuat ia penasaran ialah mekanisme cara pulau yang mencakup belasan bangunan megah ini melayang jauh di udara.


Bia tahu kalau Putri Eve lah yang membuat istana ini terbang, karena itulah alasan pertama nama Eve Weinhamer bisa terkenal hingga seluruh penjuru dunia, tapi tidak ada koran yang meliput berita lengkapnya. Istana Edodale dapat terbang karena apa? Apakah karena artifak? Alkemi? Atau rune sihir?


Bia dan Harry akhirnya sampai di depan sebuah ruangan.


"Masuk."


Sekali lagi Bia menganga. Pertama-tama, ia mencium bau kertas tua yang pekat. Fokusnya kemudian langsung tercurah penuh pada judul-judul buku yang tersusun di rak-rak besar di samping ruangan. "Hubungan Antara Batu Mana dengan Myhthril", "Reaksi Alkemi Jilid III", "Manifestasi Atribut dalam Artifak", ya ampun! Bacaan-bacaan langka yang cetakannya sudah tidak lagi diterbitkan meskipun masih banyak yang mencari ada di hadapannya. Apakah nanti dia boleh meminjam buku di sini? Ah, sekali ia juga ingin melihat item yang membuat istana melayang menjadi mungkin.


"Ekhem!" Bia benar-benar tidak sadar dengan deheman keras Harry yang masih di belakang. "Ehem, Nona Bia."

__ADS_1


Mata Bia berkilauan dengan antisipasi.


"Nona Bia, sebaiknya Anda mulai memberikan salam hormat kepada Tuan Putri."


Oh, tidak! Dia sempat lupa.


"Ah, um, selamat siang, Yang Mulia Tuan Putri Eve." Beginikah seharusnya ia membungkuk?


Untungnya, sang putri tidak mempermasalahkan kecacatan formalitas pada awal pertemuan mereka. "Silahkan duduk, Nona Bia."


Butuh tiga langkah besar untuk Bia sampai di kursi yang ditunjuk, ransel besar pada punggungnya bergemerincing setiap kali ia bergerak.


Tanpa mengatakan apapun lebih lanjut, Putri Eve mengeluarkan setumpuk kertas dan gulungan cetak biru yang familiar. Artifak itu seminggu lalu sudah ia buat prototipenya. Percobaannya berhasil!


"Ini kontrak kerja yang telah saya persiapkan."


"A-ah, iya."


Bayaran Bia memang tinggi, tapi batas waktu yang ditentukan terlalu dekat, akan butuh 7 malam tanpa tidur untuk menyelesaikan 100 artifak yang diminta hingga batas minggu depan. Sayangnya, Bisa terlalu antusias untuk memikirkan kerugian ataupun halangan yang akan ia hadapi. Tanda tangan gadis itu dengan cepat terbubuh dalam dokumen yang ada.

__ADS_1


Senyum bisnis Ava memekar lebar. Kini satu urusannya selesai.


Waktunya fokus terhadap isu lain, pesta ulang tahun Eve.


__ADS_2