
Cahaya rembulan menyinari lembut rumah kecil yang mereka tempati. Bintang berkelap-kelip malu di langit gelap. Angin malam itu juga berhembus pelan, membawa serta kesejukan yang membuat siapapun nyaman tidur berbaring dibalut selimut tebal. Sayangnya, Ava bukanlah salah satu dari golongan tersebut. Mata gadis itu terbuka lebar, di sampingnya terdapat Siwon dan Rose yang telah terlelap jauh di bawa ke alam mimpi. Ellijah masih berjaga di luar.
Pikiran Ava masih terlalu dipenuhi kecemasan yang mencegahnya tertidur nyenyak. Karena dari laporan sementara, wabah zombie yang menyerang apabila dibiarkan akan menjadikan korbannya sebagai mayat hidup, lama kelamaan daging serta kulit membusuk, akal sehat terkikis dimakan oleh kebuasan hewan.
Dan keadaan River sudah mulai memasuki tahap krisis ketika Ava melihatnya. Pria itu diam di sudut kandang dengan kulit kerang dan pecah-pecah. Hanya tinggal menunggu waktu ia bertingkah seperti monster yang kelaparan.
Harapan Ava saat ini adalah Siwon, naga kecil tersebut harus segera dimanfaatkan kepolosannya. Tapi terburu-buru hanya akan membuat bocah itu takut dan menjauh. Dekati dengan hati-hati.
Ava menarik napas panjang, membiarkan udara mendinginkan dadanya yang bergejolak kalut.
Ia kemudian membuka jendela statusnya. Terdapat dua notifikasi yang belum ia baca. Keduanya bukan dari Dom. Ava sedikit lega. Katanya, tidak ada kabar artinya kabar baik, artinya kondisi River masih sama.
Pesan pertama terpampang, dari Bia.
Orderannya sampai.
Ava meng-klik ikon barang yang telah dikirim.
Kling!
__ADS_1
Belasan peluru jatuh, membentuk tekanan di permukaan selimutnya.
Satu lagi item yang ia tunggu-tunggu.
Sebuah pistol mengkilat dalam genggamannya.
Ini adalah hasil dari projek jangka panjang. Ava harus merelakan pistolnya untuk dicermati langsung oleh Bia selama beberapa minggu, selama beberapa minggu itulah juga Ava rentan terhadap bahaya serangan jarak jauh. Untungnya, selain insiden ledakan saat festival--yang kehadiran pistolnya tidak dapat membantu situasi--Ava dilindungi oleh penjagaan istana, Ellijah pun tidak ingin meninggalkan sisinya.
Tentu saja, beberapa minggu tidaklah cukup untuk membuat replika pistol yang sempurna. Karena itulah benda-benda di hadapannya masih berupa prototype.
Sekarang, pistol asli milik Ava telah kembali di tas ransel. Dan pistol baru, edisi upgrade yang menerapkan ilmu dan teknologi sihir siap dicoba.
Roy.
Pelayan milik Ezra itu biasanya hanya memesan ramuan pengganda EXP, bukan mengirim pesan pribadi.
Ada apa dia menghubunginya?
Ehm, Tuan Putri Eve? Saya tidak yakin Anda mengingat orang biasa seperti saya, tapi saya mengingat betul masa-masa indah bersama Tuan Putri yang sedang menyamar kala itu.
__ADS_1
Ah, orang ini rempong sekali.
Mungkin Anda mengingat majikan saya, pangeran ketiga dari kerajaan Igoceolon, Tuan muda Ezra. Majikan saya sedang dipermasalahkan dengan wabah yang bermula di Uflaria dan kini sampai menyebar di Oranera. Tuan Ezra ingin mengajak Putri Eve untuk berkolaborasi dalam mengatasi wabah yang terjadi.
Astaga, apakah dia harus mengikuti format surat formal dari pembuka hingga penutup?
Meskipun begitu, apa yang dilakukan Roy tidak benar.
Roy menghubunginya bukan karena Rina si herbalis, melainkan Eve Weinhamer sang putri Edodale.
Jika Ezra ingin bertukar pesan, ia harus melakukannya sendiri.
Apa Ezra tahu apa yang dilakukan Roy saat ini sama saja merendahkan status (palsu)-nya? Atau memang inilah perintah si pangeran itu akibat harga diri yang ia junjung dengan percuma?
Apapun itu, pesan Roy ia abaikan.
Saat itulah, bunyi yang Ava antisipasi berdering lantang.
Wee woo! Wee woo!
__ADS_1
"Rombongan monster mendekat, bersiap untuk mempertahankan diri!" Suara Ellijah nyaring berasal dari dalam hutan.