
Ava menang, tentu saja. Gadis itu bangkit berdiri, mengibaskan tanah yang mengotori bajunya. Dia harus mandi lagi setelah ini.
Barulah setelah itu ia menyadari kalau Hao masih telentang dan tidak bergerak. Ava yakin kalau dia sudah menahan diri, berusaha tidak melukai pria itu dengan parah mengingat ini cuma latih tanding, selain itu bar HP tidak muncul dari Hao saat mereka bertarung tadi, artinya dia tidak benar-benar ingin melukainya. Ava tidak akan berbuat jahat kepada orang yang tidak mengganggunya.
"Kau baik-baik saja?" Ava berjongkok, mengetuk dahi pria tersebut dengan kuku telunjuknya.
Seolah baru sadar, Hao berkedip-kedip. Kemudian dengan wajah memerah ia menjawab, "A-ah, iya. Hanya ... menenangkan diri sebentar."
Menenangkan diri?
Yah, kalah dari seorang wanita dalam perkelahian biasanya memang menjadi pukulan telak pada ego seorang laki-laki.
Jadi Ava hanya mengangguk mengerti.
Namun bukan martabat Hao yang bermasalah, melainkan hatinya.
__ADS_1
Jantungnya tidak henti-hentinya berdebar keras. Untuk beberapa menit yang ia rasakan adalah euforia, arena yang berdebu tiba-tiba terlihat dipenuhi hiasan bunga, langit yang sedikit berawan kini biru cemerlang dan cerah di matanya, sorakan penonton pun menjelma menjadi lonceng gereja. Fokus Hao tidak teralihkan dari Rina.
"Bangun, orang payah." Untuk kali ini saja Hao memaafkan kelancangan Dom.
"Em, tidak ada yang terluka?" Sementara waktu, dia juga bisa mentolerir keberadaan River yang selalu ada di samping wanita pujaannya.
Tanpa sadar dia tertawa kecil.
Saat Hao tersenyum dengan tidak jelas sekaligus terkekeh, Ava yakin ada hal yang tidak beres. Kemungkinannya ada dua. Pertama, Ava tidak sengaja memukul kepala Hao sampai membuat pria tersebut kehilangan akal. Atau, Hao memang sesenang itu dikalahkan olehnya.
***
Jam sewa mereka masih berlaku hingga tengah hari. Pertandingan Ava dengan Hao ternyata berlangsung tidak sampai setengah jam lamanya, 26 menit. Meskipun secara objektif, durasi tersebut sudah panjang, Ava pernah harus terus berkelahi selama tiga jam penuh. Sekarang, dua puluh enam menit dan Ava sudah mulai kelelahan. Staminanya jelas perlu ditingkatkan.
Ia tidak akan menjamin kalau monster atau orang-orang yang ia hadapi di masa depan akan seringan latih tanding kali ini, atau memastikan level dan kemampuan lawannya tidak lebih tinggi dari yang bisa Ava lawan, tidak menjamin juga musuhnya selalu sendirian. Buktinya saja ia nyaris dikeroyok malam kemarin, untung saja ia hanya melawan penjahat kelas teri.
__ADS_1
Untuk itulah ia mempelajari habis-habisan jurnal yang Eve berikan, karena di sana banyak sekali resep ramuan-ramuan yang tidak ada di pasaran. Ava juga rajin mengumpulkan uang untuk membeli senjata yang lebih baik.
Namun masih terdapat satu halangan.
Level persyaratan.
Senjata dengan kelas langka atau di atasnya seringkali memiliki persyaratan minimal untuk membuka opsi tambahan item tersebut, paling rendah kelas langka level minimalnya adalah 5. Sayangnya, sistem peningkatan level Ava rusak. Ia masih terjebak di angka 1.
Memang benar, tanpa opsi tambahan pun Ava bebas mengayunkan senjata di tangannya, tapi tidak ada orang waras yang mau membayar tiga kali lipat untuk pisau biasa. Karena itulah ia menimbun puluhan belati normal, selain efektif dalam biaya, durabilitas yang pendek bisa dikompensasi dengan jumlah.
"Baiklah, kita lihat siapa yang lebih kuat!" Lorah bersorak semangat bersama dengan teman-teman yang ia bawa dari penginapan, mereka baru saja selesai bermain.
Berbeda dengan Dom yang membusungkan dada percaya diri, River merasa terbebani akan puluhan mata yang menontonnya dari bangku arena. Duel antara Rina dan Hao tadi mengundang lebih banyak perhatian sehingga kursi-kursi perlahan terisi.
Kali ini Ava bisa mengikuti taruhan, akan tetapi ia belum memutuskan untuk siapa koin taruhannya jatuh.
__ADS_1
River atau Dom?