
Sepertinya bukan hanya Ava yang berniat menjadikan perpustakaan sebagai tempat pelarian.
Sesendok kentang tumbuk terhenti di udara, Dion seketika membeku dengan mulut terbuka saat figur Ava memasuki zona fokusnya. Untuk beberapa detik, remaja itu tidak tahu harus bertingkah seperti apa. "Ah, um, uhh ..."
"Kau bisa habiskan makananmu, jangan pedulikan aku." Barulah Dion menyadari seorang pelayan yang mengikuti gadis tersebut, dengan troli yang dipenuhi piring hangat.
10 menit.
Hanya 10 menit sebelum Dion memecahkan ketenangan dalam perpustakaan. Dia terlalu penasaran untuk kebaikannya sendiri.
"Anu, um, apakah benar Anda adalah seorang putri kerajaan, uh, Yang Mulia? Nona?" Dion tidak yakin harus merujuknya dengan titel kehormatan apa.
Ava hanyalah seorang kriminal picik.
Tapi dopplegangger yang ia gantikan memang seorang putri.
"Benar, tapi kau bisa bersikap santai, lagipula kita ada di dalam gate, royalti pun sama-sama tidak berdaya di sini." Walaupun Ava sendiri yang mengungkapkankannya, ia juga tidak akan nyaman.
Lihat saja wajah kecut Dion sekarang.
Di dalam gate atau tidak, orang normal akan merasa terbebani dengan proksimitas individu berpangkat tinggi di sekitar mereka. Tidak ada yang dapat memastikan kalau masalah yang mereka timbulkan di dalam gate tidak akan mengikuti mereka saat di luar. Jadi bersikap sopan merupakan pilihan yang bijak. Itulah yang ia lakukan saat pertama kali bertemu Ezra.
__ADS_1
Tentu saja, kecuali orang-orang yang memang berniat jahat. Contohnya, bangsawan tidak waras yang menyerang Ratu Isabel ketika di labirin kemarin.
"Lalu, Tuan Putri, uh, berarti wanita yang berargumen dengan Anda tadi malam itu memanglah seorang iblis?"
"Seorang"? Ava nyaris mencemooh. "Benar."
"Wah, saya baru pertama kali melihat iblis! Bagaimana Anda bisa tahu? Apakah istana memiliki buku tentang mereka? Soalnya yang saya tahu hanya dongeng-dongeng anak." Dion terlalu ceria dan bersemangat dalam membahas hal ini.
"Aku tahu karena saudaranya menyerang kerajaanku sebelum kami tidak sengaja terhisap ke dalam gate."
"Ah, tapi mereka terlihat lebih normal dari yang saya kira."
"Kalau begitu, bukankah lebih baik kalau kita ... um, ... mumpung status iblis itu terkunci ...."
Ava tahu apa yang ingin Dion katakan.
"Kita tidak bisa." Gadis itu meraih pisau steak, mengayunkannya keras ke leher Dion yang bahkan belum sempat berkedip. Namun barrier tidak kasat mata mengehentikan pergerakan Ava.
Si remaja berkedip tersentak, terdapat gumpalan pahit di dalam perutnya, tulang punggungnya pun terasa dingin. Apakah ... Apakah Tuan putri baru saja ingin ...
Ava sengaja mengabaikan Dion yang terguncang. "Serangan letal yang mengancam nyawa otomatis akan terblokir, namun kontak yang lain masih diperbolehkan." Kali ini Ava mencubit lengan Dion yang seolah lumpuh di sisinya. "Tapi tentu, sang pengkhianat bisa saja melakukan apapun karena peran yang ia mainkan."
__ADS_1
"Sang pengkhianat ..." ulang Dion, masih setengah sadar.
"Sang pengkhianat," Ava berbisik pelan, menanamkan konsep yang baru saja ia jabarkan ke dalam pikiran naif remaja tersebut.
Tik tok tik tok.
6.55.
Waktu untuk berdiskusi hampir saja tiba. Ava merapikan gaunnya, bersiap untuk diteleportasi.
Dion, meskipun remaja itu bersemangat menyelesaikan quest ini, Dion masih belum familiar dengan kondisi dalam gate.
Karena dia hanyalah bocah desa yang terpaksa menjadi peserta karena gate yang menyedot partisipan seenaknya.
Hanya orang yang sudah terbiasa dengan sisi kekejaman dunia yang sempat berpikir untuk menyakiti orang lain sebagai eksperimennya.
"Ah!" Dion berseru di sampingnya. Dan Ava tahu rencana tahap pertamanya berhasil.
Zap!
Sinar yang menyilaukan datang.
__ADS_1