
Ellijah kecil duduk tegak di dalam kereta kuda yang ia naiki bersama ayahnya, Duke Frost terdahulu. Meskipun ia berkeringat dingin dan perutnya bergejolak tidak nyaman, berujung pada ketegangan serta rasa mual, Ellijah masih harus tetap mempraktikkan posturnya agar tidak membungkuk untuk menghindari cambukan dari Ayahnya. Karena sudah seminggu Duke Frost mempersiapkan matang-matang kunjungan mereka ke istana melayang.
"K-kita benar-benar terbang!"
"Ellijah!"
Kini antusiasme Ellijah yang dipermasalahkan. Sebenarnya tidak heran kalau anak kecil senang melihat hal-hal baru ataupun bersemangat dan penasaran, begitulah mereka tumbuh. Tapi di mata Duke Frost, perilaku seperti itu tidaklah dibutuhkan bagi pewaris wilayah Frost yang sudah ratusan tahun menjadi bangsawan tinggi di kerajaan Edodale. Setiap anggota keluarga haruslah selalu menjaga martabat serta tata krama. Jadi, merasa gembira hanya karena kereta kuda yang mereka tumpangi melayang tidaklah cocok dengan imej yang mereka bangun.
"Kuharap kau tidak akan mempermalukanku di depan Yang Mulia Raja Dion nanti."
Ellijah kecil mengangguk, pandangannya kosong menatap lutut. Tidak lagi berani sedikit pun melirik ke luar.
Satu hal lagi yang tidak boleh ia lakukan.
Kedatangan mereka sudah dipersiapkan, penjaga gerbang langsung membuka gerbang melihat logo keluarga Frost terpahat di sisi-sisi dokar.
Seorang pelayan senior menyambut di depan pintu depan, segera mengantarkan mereka ke sebuah ruangan luas yang hanya berisikan beberapa kursi megah di ujung lain. Ruang pertemuan sang raja.
__ADS_1
Dengan gerakan hormat yang ia pelajari hingga membuat kakinya sakit, Ellijah kecil berlutut bersamaan dengan Duke Frost, "Salam bagi Yang Mulia Raja Dion."
"Berdiri."
Barulah ketika itu Ellijah melihat sang putri untuk pertama kali. Gadis cilik yang nampak mungil darinya menduduki kursi--yang meskipun kecil tetaplah mewah--di samping pria yang disebut raja oleh ayahnya. Gadis tersebut memandang Ellijah dari ujung kepala hingga kaki, seolah menilai sebuah barang yang dipajang di etalase. Entah kenapa Ellijah merasa ... tidak enak.
"Sepertinya Duke Frost membawa putra Anda untuk bermain dengan saya?" Tiba-tiba gadis cilik itu mengangkat suara.
Ellijah langsung panik.
Tidak ada yang boleh berbicara sebelum dipersilahkan oleh ayah. Apalagi menanyakan maksud tindakannya. Sebentar lagi ayahnya akan marah besar.
Namun yang Ellijah khawatirkan tidak terjadi.
"Benar, Putri Eve. Berhubung kalian seumuran, bagaimana kalau Anda bermain dengan putra saya?" Duke Frost merespon siap.
Hah?
__ADS_1
Ayahnya ... tersenyum?
Sepanjang hidupnya yang masih singkat kala itu, Ellijah tidak pernah melihat ayahnya menaikkan sudut bibir satu mili pun. Tidak kepada ibu, tidak kepada para pelayan yang terus sabar, dan juga tidak kepada anak yang penurut, Ellijah.
Putri Eve, huh?
"Baiklah kalau begitu, saya akan meninggalkan kalian untuk membicarakan urusan orang dewasa." Ellijah masih bengong, bingung. Namun saat tangan yang lebih mungil darinya menggenggam telapak Ellijah yang dingin dan lembab, barulah ia menatap mata gadis tersebut. Hitam. Teguh dan tidak takut.
Berbeda dengan apa yang biasanya ia lihat di cermin.
Ia kemudian sadar tentang hal yang membuatnya tidak enak tadi.
Eve dan Ellijah berbeda.
Meskipun di antara dua pria dewasa yang menakutkan gadis itu tetap mengatakan apapun yang ia mau.
Tanpa rasa takut.
__ADS_1
Tanpa cemas akan dihukum apabila melakukan kesalahan.
Perasaan baru muncul dalam hati Ellijah kecil, damba.