
Rose mual, sedangkan Ellijah belum mau melepaskan dekapannya terhadap Ava yang berusaha menormalkan napas, lebih kepada menjadikan gadis itu sebagai sandaran kepala yang masih pusing.
Berbeda dengan mereka, Siwon masih saja ceria. "Kitha sampai! Di sini, kalian tidhak akan diganggu oleh monshter apapun!"
Akhirnya, mereka sampai juga.
Lampu berdaya mana otomatis menyala. Ava memandangi lingkungan sekitarnya. Selain debu tipis yang menyelimuti lantai dan benda-benda lain, semuanya ... normal, seperti sebuah kantor pada umumnya.
Tidak ada dinding yang terciprat darah. Tidak ada toples berisikan bola mata ataupun otak. Tidak ada mesin mencurigakan yang tahu-tahu akan merubah mereka menjadi mayat gosong. Tidak ada pula tombol merah besar yang seakan memohon untuk ditekan.
Semuanya normal.
Walaupun terlalu luas hanya untuk dijadikan sebuah "kantor", Ava langsung paham kalau meja kerja di tengah ruangan, serta rak-rak buku yang tersusun rapi merupakan tata letak yang meniru kantor Eve di istana Edodale.
... Inikah lab rahasia yang dimaksud?
Memang benar Ava hanya membutuhkan resep ramuan penawar wabah zombie, serta cetak biru artifak yang dapat dijadikan solusi ancaman kelompok anarkis sesuai perintah raja. Dan yang paling penting, tentu saja, hampir terlupakan karena pikirannya yang akhir-akhir ini kacau, item yang disimpan oleh Eve di sini, Necklace of genesis, artifak mistik yang dapat membebaskan individu dari belenggu waktu. Salah satu benda yang ia butuhkan agar Ava bisa pulang.
Asalkan ketiga hal tersebut ada, ia tidak mempermasalahkan estetik yang diterapkan Eve dalam mendekor lab-nya. Mungkin imajinasinya saja yang terlalu liar akibat terlalu banyak menonton film.
Omong-omong, masalahnya sekarang berganti.
"Jangan sentuh apapun!" Siwon mengawasi ketat gerak-gerik mereka, dengan tegas melarang tiga orang yang setidaknya 20 tahun lebih tua darinya untuk menjaga sikap. Daripada naga, Siwon lebih mirip seperti anjing penjaga.
Tapi sepertinya siasat lain Ava harus ditunda terlebih dahulu, sebab Ellijah dan Rose dalam kondisi yang sulit diajak untuk bekerja sama apabila si naga cilik memutuskan untuk melawannya. Keduanya pucat pasi. Ava tahu dari awal kalau Rose memanglah memiliki mental yang lemah, jadi tidak mengejutkan kalau menginap dan menyusuri hutan yang mengerikan menghabiskan setiap sel keberanian pelayan tersebut, ditambah lagi Rose hampir saja muntah. Dan benar saja.
Status anomali: Lelah dan lemas (Pergerakan melambat 15%)
Sedangkan Ellijah ... Hm, melawan monster dan tidak tidur sejak kemarin mungkin menguras stamina pria itu meskipun tidak ada keanehan dalam jendela statusnya. Kasihan juga.
"Baiklah, kita beristirahat terlebih dahulu."
Sudah menjelang sore ketika Ava dan rombongannya sampai di danau, mereka juga belum makan siang. Jadi Rose memaksakan diri untuk bersih-bersih, Ellijah memundurkan meja kerja yang terbuat dari mahoni berat di bawah tatapan Siwon untuk melapangkan tempat yang sudah luas, Ava lagi-lagi memasak untuk mereka.
Ava pikir asap akan segera menyesakkan dada mereka, mengingat dia menyalakan api di ruangan tertutup, tapi untungnya kantor Eve lebih canggih dari dugaannya. Terdapat ventilasi, pemanas ruangan, dan pendingin ruangan. Meskipun begitu, api tetap saja berbahaya jika didekatkan dengan materi yang mudah terbakar, sehingga Ava agak menjauh, di samping elevator kaca yang membawa mereka.
__ADS_1
Kalau Eve memiliki keluhan karena membuat berantakan lab pribadinya, dia sebaiknya segera muncul, karena Ava membutuhkan arahan untuk menemukan daftar benda yang ia cari.
Tapi Ava tidak menyangka kalau pemikiran piciknya akan terkabul dengan cepat.
***
Setelah makan, Siwon menunjukkan kamar mandi dan toilet yang dengan pintar tersembunyi di balik dinding. Rose yang telah memulihkan sedikit tenaganya, kembali membersihkan tempat tersebut dengan lebih cermat. Ava yang pertama mengambil giliran untuk mandi, dua hari tanpa membersihkan diri membuat tubuhnya lengket dan bau keringat. Saat ia keluar, merasa segar, Ava dapat melihat Ellijah yang gelisah dengan wajah merah.
... Pria itu mengingat memori yang tidak seharusnya, bukan?
Omong-omong, mereka semua sepakat untuk tidur lebih awal. Bagaimanapun juga, mereka sekarang berada di markas rahasia di bawah danau. Tidak akan ada yang tahu bedanya langit pagi ataupun malam, jadi mengapa tidak langsung menuju kasur saja berhubung mereka bertiga membutuhkan tidur untuk mengistirahatkan diri.
Namun Ava menatap langit-langit dengan cukup lama, pikirannya kosong.
Mungkin lebih baik seperti itu daripada malam-malam yang lalu ketika otaknya carut-marut karena cemas.
... Hal gila ini akan segera berakhir, bukan?
Ia sudah sangat dekat salah satu item yang ia butuhkan untuk kembali ke dunia asalnya. Benda yang tersisa akan ia terima saat kontrak kerja yang membuatnya menyamar sebagai seorang putri kerajaan terselesaikan beberapa bulan mendatang, dan kalau tidak ada insiden spesial, ia yakin Marvin yang mati-matian mencari muka kepada raja akan mengurus bisnis yang seharusnya ia tangani atas nama Eve. Singkatnya, setelah ini Ava bisa bersantai dan berhura-hura. Masih dua bulan saja, koin yang tersimpan dalam jendela statusnya melimpah secara berkali-kali lipat hanya dari secuil uang saku. Uang negara memang terasa nikmat.
Sayangnya, takdir tidak mengijinkannya rehat. Tangan gadis itu terasa berkedut-kedut di bawah selimut. Apakah dia terkilir saat jatuh tadi?
Namun yang ia lihat adalah jemari yang berwujud hologram transparan.
Tunggu dulu!
Bukankah ia masih memiliki waktu seminggu lagi sebelum glitch selanjutnya? Cincin bulan yang ia lihat kemarin juga masih hijau gelap!
Ava seolah melayang saking cepatnya ia berlari ke kamar mandi, mengunci pintu. Ia menunggu saat-saat kepedihannya dengan tangan yang gemetar. Seberapakalipun ia merasa sakit ketika kejadian ini berlangsung, Ava tidak akan pernah terbiasa.
Ia merasa dikuliti tipis demi tipis, dagingnya pun dicacah halus, serta tulangnya digilas. Semua sensasi tersebut ia rasakan secara sadar.
Akan tetapi otak Ava melindungi kewarasan gadis itu, dengan cara membawanya ke alam bawah sadar saat proses selanjutnya mengambil alih.
Sinkronisasi.
__ADS_1
***
"Kau seharusnya membiarkan Siwon memanggilmu mama."
"Senang bertemu lagi denganmu," Ava membalas sarkastik. Dia memang butuh bertemu dengan Eve, tapi hal yang mendahului selalu saja tidak menyenangkan. Lama-kelamaan, Ava akan mengasosiasikan Eve dengan rasa sakit setengah mati yang ia rasakan.
"Kujamin, naga kecil itu akan menjadi lebih penurut nantinya," Eve tetap melanjutkan, mengabaikan respon kasar dari doppleganggernya.
Ava pun juga tidak menggubris. "Katakan saja dimana aku bisa menemukan tiga hal kucari."
"Ah, benar. Kau diam dulu di sini."
Jelas sekali, meskipun berdialog, percakapan mereka masing-masing hanyalah satu arah. Tidak ada yang memperhatikan kalimat lawan bicaranya.
Dan saat Ava menunggu jawaban atas permintaannya. Eve tiba-tiba menghilang, meninggalkan Ava sendiri dalam domain gelap yang sepi tersebut.
"Halo?"
Tidak ada sahutan.
***
Gadis cantik berambut hitam pendek yang pingsan di kamar mandi perlahan membuka matanya, mengekspos kedua manik arangnya dengan cahaya menyilaukan dari lampu yang bersinar terang.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terketuk panik. Badan dan lantai keramik di sekeliling perempuan tersebut dipenuhi dengan darah.
Ugh, berantakan sekali.
Dia berdiri, lalu melangkah mendekati cermin.
Hm, tubuh Ava terasa ringan, setengah penyebabnya adalah sinkronisasi yang baru saja terjadi, dan alasan sisanya ialah karena memang badan itu terlatih dengan alami di dunia asalnya.
Eve menyeringai, tidak keberatan dengan tubuh yang ia rasuki.
__ADS_1