
Tadi itu ... skill yang impresif.
Hao dapat memotong bersih batang pohon sejauh itu?
Seharusnya Ava tidak kaget lagi, gadis itu secara harafiah sudah melihat orang monster yang dipanggil dari udara kosong, orang yang dapat menciptakan elemen, ada juga yang bisa berubah menjadi bentuk hewan. Dengan begini, Ava juga harus meningkatkan skill observasinya, agar ia bisa tahu lebih jauh dari sekedar level mereka.
Meskipun level Hao masih dalam tahap belasan, kemampuan yang ia miliki tidak dapat diremehkan. Sekali serang, pria itu bisa mencincang tubuh seseorang.
Ava tidak akan berusaha menjadikan Hao sebagai musuhnya.
Selain itu, pria tersebut akan berguna untuk digunakan mengingat perasaan Hao pada Ava. Karena emosi memang menjadi salah satu kelemahan dari manusia.
Dari indra penciumannya yang tajam, Ava langsung mengenali bau darah dan bir. Penglihatan yang tidak terhalangi gelap malam juga menangkap bercak merah pada tangan Hao yang menggenggam erat pedangnya.
"Kau berdarah," Ava berucap lembut.
Hao tersentak, baru sadar dengan denyut perih pada telapaknya. Goresan-goresan pitu pasti dari gelas bir yang ia remukkan tadi. Namun ia menghiraukan lukanya yang pedih, karena masalah lain terjadi. Jantungnya berdebar terlalu cepat. Daun-daun yang gugur bergemerisik ketika Rina berjalan mendekatinya. Seperti yang sebelumnya, Hao tidak bisa mengalihkan pandangan.
Rambut pendek hitam berkilau perempuan itu, kulit putih yang terlihat kenyal. Tubuh mungil namun atletik yang dibalut tunik putih dan celana coklat. Mata hitam dalam yang seolah menghisap jiwanya jika mereka bertatapan lebih dari tiga detik, dibingkai dengan bulu mata lentik nan panjang. Mengingat cerita ketika Rina membunuh seekor banderhobbs raksasa seorang diri juga menambah karisma yang dimiliki wanita itu.
Dia benar-benar tipenya!
"Aku beri obat penyembuh, gratis untuk saat ini, anggap saja sampel." Satu botol pendek berisi gel merah melayang, tertangkap mulus oleh tangan Hao yang tidak terluka.
"Ah, oh! Terima kasih!" Hao langsung buru-buru membukanya, tapi--Krak! Botol itu pecah, isinya otomatis tumpah ke tanah. Laki-laki itu masih membiarkan adrenalin memandu tindakannya, hingga tidak dapat mengendalikan kekuatan.
Ava berkedip tidak percaya. Seharusnya dialah yang masih belum beradaptasi penuh dengan poin status yang terus bertambah setiap harinya. Memang Hao termasuk kategori yang cepat, tapi Ava sudah pada tingkatan ekstrim. Karena itulah dia terus secara sadar memegang apapun dengan lembut serta halus.
"Um, maaf." Kerja bagus, Hao. Mempermalukan dirimu sendiri di depan perempuan yang kau sukai? Kelakuan tidak kerena seperti inilah yang membuatmu ditolak!
"Maaf, aku tidak bermaksud memecahkannya!" Untuk pertama kalinya Hao mengalihkan pandangan ke tanah, tidak berani menatap mata Rina. Hatinya sempat jatuh mendengar helaan napas panjang dari perempuan di hadapannya.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya nyaris menyebabkan jantung Hao melompat senang. Rina dengan hati-hati meraih telapak tangan yang penuh goresan merah, lalu mengolesi luka tersebut dengan obat baru yang ia keluarkan dari inventori.
__ADS_1
... Ini artinya Hao masih memiliki kesempatan.
Rina menolak bukan karena ia tidak tertarik dengannya!
Mereka belum mengenal saja. Karena itulah wanita itu menyarankan untuk berteman terlebih dahulu.
Apabila saat masa berteman mereka terus dekat seperti ini, Hao tidak keberatan.
Lama-lama, perasaan cinta juga akan tumbuh dalam hati Rina.
Pasti begitu!
Dia harus memanfaatkan situasi dengan sebaik-baiknya.
"Sudah," Rina bergumam singkat. Tangan Hao telah diolesi obat, sekaligus diperban untuk menghindari infeksi. Yang disayangkan hanyalah sentuhan Rina yang hilang. Hao memutuskan untuk tidak akan lagi mencuci tangannya yang tersayat. Lagipula area luka harus menghindari basah.
"Ah, iya, terima kasih."
Hao senang.
Apakah benar orang ini yang menyatakan cinta padanya dengan kepercayaan diri berlebih tadi pagi? Atau penolakannya yang membuat self-esteem pria itu terjun bebas?
***
Rai mengamati adegan yang terjadi di depannya dengan senyum tipis serta mata menyipit, terhibur sekaligus bertanya-tanya.
Kini dia tahu siapa yang membuat Hao sampai patah hati. Seorang rubah betina licik. Tidak ada sebutan yang lebih cocok untuk menggambarkan Eve Weinhamer.
Adik bipolar dari temannya itu sepenuhnya ditaklukan, termakan jebakan madu. Temperamen yang biasanya berapi-api kini berubah lemah layaknya domba di depan wanita tersebut. Hao sudah berada dalam genggaman jari kecil Eve.
Tapi kenapa dia ada di sini?
Apakah Eve adalah salah satu penumpang yang ikut terkena fenomena badai hitam beberapa hari yang lalu?
__ADS_1
Kalau begitu, Eve adalah pemeran utama dalam pertahanan kapal dari serangan banderhobbs?
Yah ..., tidak mengejutkan. Mengingat sejarah gadis itu yang dulu-dulu. Dia pasti memiliki rencana besar seperti yang sedang ia laksanakan.
Namun Rai tetap saja penasaran.
Jadi dia memutuskan untuk diam dalam persembunyiannya, menyimpan rasa ingin tahu untuk saat ini. Selimut kamuflase yang ia dapatkan dengan harga senilai rumah mansion dapat menutupi hawa keberadaan, bau, dan suara, sangatlah setimpal jika bisa mengelabui target amatannya. Badan Rai rileks dan menyandar, diam-diam mengeluarkan kacang untuk mengemil sembari menikmati tontonannya. Di tengah hutan yang disinari bulan penuh bercincin ungu menjadikan apa yang ia lihat cocok masuk dalam genre drama romantis.
"Jadi Hao adalah pemeran pria kedua?"
***
"Oleskan obatnya tiga kali sehari, juga ganti perban yang ada secara rutin," Ava berujar bak pekerja di apotek, menempatkan satu botol pendek gel baru ke dalam tangan Hao yang menadah terbuka, tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. "Oh, dan ini ID toko obatku yang ada dalam [System], beli saja di sana jika kau kehabisan atau memerlukan obat herbal lain." Hao adalah pelanggan potensialnya, sekaligus investasi yang baru saja ia mulai.
Rina memberinya ID!
Kini Hai dapat menghubungi gadis tersebut kapan saja ... Yah, semacam itu.
Artinya hubungan mereka tidak murni hanya pertemanan. Siapa yang mengoleskan obat pada tangan temannya selembut Rina tadi? Hao tidak menyadari bahwa Ava otomatis memperlakukannya dengan lembut karena dia masih harus berlatih mengatur kekuatan barunya. Selain itu, Ava tidak mungkin memperlakukannya dengan kasar mengingat skill mematikan yang baru dia tunjukkan, posisinya sebagai kandidat aset Ava pun mengambil andil.
"Oke, baiklah. Eh, tunggu!"
Belum sempat melangkah mundur, Ava tertahan oleh seruan Hao. "Bisakah kau tidak berteriak? Aku bisa mendengarmu baik-baik saja." Gendang telinga Ava seketika berkedut-kedut.
"Kau tidak suka suara yang keras? Oke, mengerti." Langkah pertama yang Hao harus lakukan untuk membuat Rina jatuh hati adalah menemukan selera wanita itu. Ia tidak akan lagi mengikuti nasihat Rai ataupun kakak besar. Bagaimana bisa ia lupa kalau kakak besarnya sendiri adalah jomblo sejak lahir? Kemudian Rai dikenal sebagai playboy yang secara berkala mengganti pasangannya? Tidak pernah awet hubungan romantisnya?
Menggaruk leher belakang yang tidak gatal, Hao bertanya, "Apa kau ingin sarapan bersama?"
Sebelah alis Ava secara refleks terangkat. Dia mengajaknya sarapan? Setahu Ava hal ini dilakukan oleh sepasang kekasih yang sudah lama berhubungan. Alih-alih makan siang begitu? Lebih cocok dengan tahap mereka saat berteman.
"Kau bisa bergabung bersama kami nanti lagi, aku biasanya sarapan dengan teman sekamarku." Tapi sebenarnya Ava hanya separuh peduli, dia sudah sarapan dengan banyak orang dari minggu-minggu yang lalu.
Hao hanya mendengar sampai "Kau bisa", meleburkan kata-kata selanjutnya tanpa diproses. Tapi dia sudah bersorak senang dalam hati.
__ADS_1
Kencan!