Hellbent

Hellbent
Bab 17: Wanita Genit


__ADS_3

Tujuan Ava saat ini adalah Crimsonwood, sebuah pulau yang daratannya dipenuhi dengan pepohonan, termasuk dalam jajaran kepulauan Feretrum Sanctus. Untuk itulah ia membeli dua tiket kapal kelas ekonomi yang akan berangkat seminggu lagi. Persiapan dibutuhkan karena jarak perjalanan mereka yang jauh, melintasi samudra untuk sampai di benua lain membutuhkan setidaknya tiga bulan jika kapal hanya mengandalkan kekuatan angin, untung saja dunia fantasi ini menerapkan ilmu sihir pada kapal mereka yang bisa mempercepat laju hingga hanya membutuhkan seminggu saja.


Ava secara sengaja berpisah dengan River yang sibuk mencari penginapan untuk mereka, gadis itu menjual semua hasil jarahannya untuk mendapatkan uang, kemudian membeli stok makanan sebagai simpanan selama mereka berada di atas lautan.


Pemandangan taman kota menarik perhatiannya. Mengingat Englerock adalah sebuah kota maritim yang memiliki pelabuhan untuk kapal-kapal yang melintasi laut secara internasional, banyak sekali turis dan orang asing di daerah itu, usaha hiburan serta pariwisata di sini bervariasi karena campuran dari kebudayaan negara lain. Contohnya saja pertunjukkan yang sedang ia lihat, tari perut. Tabuhan gendang yang khas Timur Tengah melantun secara ritmik seiring gerak gemulai dari perempuan yang wajah bagian bawahnya tertutupi sehelai kain, kulit gelapnya bermandikan cahaya emas matahari sore yang terpantul oleh tubuhnya yang berkeringat. Banyak sekali yang menonton, bersorak, beberapa pria bahkan bersiul menggoda.


Terdorong oleh kebiasaannya, Ava menggunakan skill observasinya pada gerombolan tersebut. Padahal sudah diperkirakan, akan tetapi penggunaan skill yang berlebihan dalam rentan waktu yang pendek memang membenaninya. Kepalanya seolah ditekan batu, pandangannya pun sempat kabur, hidungnya mengernyit mencium bau gosong, berasal dari otaknya sendiri yang overload. Namun karena itulah ia berhasil menaikkan level observasinya lagi, meskipun caranya yang tidak sehat. Mungkin Ava terlalu terburu-buru.


Ia ingin segera mencoba pencapaian baru skillnya, akan tetapi tubuhnya tiba-tiba terhuyung, seketika Ava kehilangan keseimbangan setelah diterpa oleh lautan penonton yang masih riuh. Ia terjatuh.


Tapi badannya dengan sigap ditangkap, membuat kepala Ava bersandar pada dada empuk orang yang menopangnya. Gadis itu segera menegakkan diri, mendapati figur wanita bertudung hitam yang tidak melakukan fungsinya dengan baik karena Ava jelas-jelas melihat rambut perak yang mecolok di sekitar wajah cantik wanita tersebut.


“Ah, terima kasih,” Ava menundukkan kepala.


“Kau kelihatannya tidak sehat, lebih baik duduk saja.” Terdengar masuk akal, Ava menuruti perkataan orang asing tersebut. Ia berjalan dan duduk di salah satu bangku di taman tersebut, lalu menarik napas panjang.


Wanita tadi ternyata masih ada di dekatnya, mengambil tempat di sebelah Ava. Melihat wajah yang masih pucat, alisnya menukik khawatir, “Biar kutangani.”


Tanpa izin, tangan kanan Ava sudah ada di cengkraman wanita tersebut. Sebelum ia dapat memutuskan untuk menarik diri, cahaya putih menyelimuti telapak mereka yang bersentuhan. Sensasi hangat mengalir dari ujung tangan hingga ke kepalanya yang kini terasa ringan, akan tetapi proses terakhir membuatnya otomatis memekik karena nyeri yang tiba-tiba pada tubuh bagian atasnya. Sekejap kemudian, semua rasa sakitnya menghilang.


“Wah, kau seorang healer?” Ava bertanya, memastikan. Akan tetapi lawan bicaranya tersenyum paksa, “Semacam itu.” Bohong, namun sebagai bentuk rasa terima kasih, Ava tidak bertanya lebih lanjut. Melainkan, berhubung kondisinya sudah segar kembali, Ava mencoba menggunakan skill observasinya lagi.


Nama : Selena Nahaliel

__ADS_1


Ras : Manusia


Level : 38


Kekuatan : 4


Kecepatan : 4


Kelentukan : 3


Energi suci : 30


Ava berkedip, memproses. Meskipun secara fisik wanita itu berkemampuan rendah, tapi status tambahannya yang dinamakan energi suci mencapai hingga 30. Wow, artinya disposisi wanita di hadapannya lebih termasuk ke dalam kategori priest daripada healer. Perbedaannya ada pada sumber kekuatan mereka dan aplikasinya, healer yang bermodalkan mana biasanya memiliki yang dapat menyembuhkan luka atau meningkatkan status targetnya secara temporal, sedangkan priest yang didasari oleh kekuatan suci berkemampuan untuk menyembuhkan luka dan menangkal kutukan. Namun meskipun begitu, orang yang memiliki skill untuk menyembuhkan luka masih dianggap langka meskipun terdapat dua kategori yang beririsan mengandung kemampuan tersebut. Karena itulah, pihak gereja yang memiliki prioritas mengakuisisi individu yang berenergi suci mendapatkan donasi besar ketika pihak publik ataupun kerajaan ingin meminjam salah satu personel priest mereka, begitupula seorang healer yang diperebutkan oleh guild.


Karenanya, Ava berniat untuk mencari sendiri bahan-bahan yang akan ia butuhkan, lebih hemat.


“Rina!” Ava menoleh pada suara yang familiar, tangannya melambai-lambai agar keberadaannya lebih mudah dilihat. River langsung berlari ke bangku yang ia duduki.


Tiba-tiba gadis itu merasakan sikutan di tulang rusuknya. Terkejut, Ava mendapati Selena yang tersenyum jahil, “Pria itu tampan juga, kekasihmu?”


Ia kira seorang priest diajarkan untuk menjauhi kenikmatan dunia?


“Teman perjalanan,” Ava menjawab datar.

__ADS_1


“Kamar sudah kupesan, menu makan malam nanti sup daging dan jamur, kuharap kau tidak memiliki alergi.” Gadis itu mengangguk sembari menggumamkan kalau ia tidak memiliki alergi pada makanan apapun. Lagi, ia merasakan kalau pahanya dicolek, Selena.


Paham, akhirnya Ava mengenalkan mereka berdua, “River ini ....” Tunggu, meskipun Ava sudah tahu nama wanita itu, Selena masih belum mengenalkan dirinya secara resmi bahkan kepadanya, “seorang healer yang membantuku,” lanjutnya setelah jeda beberapa detik.


“Salam kenal! Namaku Selena,” wanita tersebut berdiri dengan antusias, sehelai rambut khayalan ia tarik ke belakang telinganya, bulu mata peraknya yang lentik ia kedip-kedipkan genit, selain itu tubuh bagian bawahnya tidak bisa diam, bergoyang ke kanan dan ke kiri.


“Oh, namaku River. Salam kenal juga.” Mungkin tidak biasa dengan rayuan seorang perempuan, River menyahut dengan kikuk.


Ava melihat kejadian di depannya dengan sebelah alis yang terangkat.


“Woah, kebetulan sekali bertemu dengan kalian lagi di sini.” Kali ini, meskipun itu suara yang ia ketahui, tubuhnya menolak untuk menoleh, bibirnya menipis membentuk sebuah garis.


Kebetulan yang banyak sekali.


Tidak lama kemudian pria bangsawan berambut pirang beserta kedua pelayannya muncul di depan mereka. Selena membungkuk, berbisik dengan girang kepada Ava, “Kenalanmu tampan-tampan semua!”


“Ah, nona ini ...?”


“Selena!” wanita itu memekik sembari mengenggam erat tangan Ezra walau gestur pria itu tidak berniat untuk bersalaman, meskipun begitu pangeran itu membalas dengan senyuman.


Ava sudah tahu pandangan pria itu saat ini, ia yakin kalau Ezra sedang menghitung keuntungannya sekarang, menemukan pion baru yang bisa digunakan.


Senyum Ava mekar, dengan begini ketertarikannya pada Ava maupun River akan bisa teralihkan.

__ADS_1


__ADS_2