Hellbent

Hellbent
Bab 37: Badai Hitam


__ADS_3

"Untuk keamanan, sebaiknya kalian diam saja di kamar," Ib menyarankan kepada mereka. Pria itu langsung hilang di tengah kerumunan yang sibuk bergerak.


"Pehatian! Perhatian! Semua penumpang harap kembali ke kamar masing-masing! Badai besar akan datang! Diulangi lagi, semua penumpang harap kembali ke kamar masing-masing! Badai besar akan datang!"


Dari jendela kapal, hanya kegelapan total yang terlihat, tidak ada cahaya keunguan bulan yang seperti Ava lihat ketika pertama kali ia datang di dimensi ini. Cuaca yang ada malam itu buruk sekali.


River menarik tangan Ava, sedangkan Lorah digendong oleh Dom, merasa bahwa massa yang panik tidak akan aman bagi dua gadis tersebut.


"Permisi, ingin lewat. Permisi." Berbeda dengan River yang masih saja menjaga tata krama, Ava mendengar jelas sumpah serapah di belakangnya dari Dom yang tidak sabaran, diikuti lenguhan protes dari orang-orang sekitar, "Minggir sana ah! Kalian menghalangi jalan! Minggir kubilang!"


"Kau yang harusnya minggir, dasar binatang buas!" Satu komentar menonjol dari yang lainnya, otomatis membuat Ava menoleh, membuat River juga berhenti. Argh, tentu saja, si kakek merak. Pakaian laki-laki tua itu masih sama noraknya dari yang sebelumnya.


Seperti yang diduga pula, Dom tidak mengalah, "Kau masih belum belajar apa-apa dari kejadian tadi, Kakek keriput."


"Jika bukan karena interupsi kapten kapal, kau pasti sudah menjilati sepatuku!"


"Persetan dengan kapten kapal! Kalau kau ingin bertarung ayo, kuladeni!"


"Dom."


Pertama kali mendengar namanya dipanggil oleh Ava dengan benar, dia langsung sadar. "Bukan waktunya bertengkar."


Sudah bisa tercium bau hujan yang mendominasi aroma asin laut, badai kian mendekat.


"Kau sebaiknya tidak muncul di depanku lagi, kakek tua, atau akan kugigit kepalamu," dengan peringatan terakhir, mereka berempat kembali berlari menuju kamar.


Setelah sampai, Ava langsung membungkus barang-barang mereka dalam selimut, kemudian memasukannya secara hati-hati dalam peti yang terpaku di dalam kamar. Dengan begini, kalaupun jika nanti kapal bergoyang, tidak akan ada objek yang berterbangan dan dapat menghantam mereka.


Hantaman air dan angin perlahan-lahan kian kencang raungannya. Dinding kamar mereka yang terbuat dari kayu sudah lembab, tinggal menunggu waktu untuk kamar kecil itu meneteskan air.


Apakah masih belum ada artifak yang mendeteksi hal-hal semacam ini? Mungkin saja insting seorang pelaut atau ilmu navigasi mereka yang cuma mengandalkan arah angin, bintang, atau apapun itu. Apa saja!


Ava, River, Dom, dan Lorah duduk di ranjang bawah masing-masing, dengan tegang merasakan badan mereka yang berayun karena ombak dan badai. Lorah melompat setiap kali suara petir menyambar nyaring, seolah sebuah cambuk raksasa digunakan untuk membelah langit itu sendiri.

__ADS_1


Dan ...


Pet!


Generator mana yang digunakan untuk menyalakan lampu terputus. Gelap. Teriakan Lorah yang memang sedari tadi ketakutan tidak membantu.


River dengan sigap mengeluarkan lilin dan korek api yang disiapkan di laci kamar, setidaknya kamar mereka tidak sepenuhnya dilahap kegelapan.


Perasaan Ava yang sudah buruk, kini kian menyesakkan dada, ia ingin berteriak juga. Frustasi.


Dia terjebak dalam tempat yang sempit dan muram, tanpa ada jalan kabur karena ia berada di atas kapal di tengah lautan.


Eve. Penculik itu sebaiknya jujur ketika ia bilang kalau Ava bisa pulang ke dunia asalnya dengan item yang sedang ia cari.


...


...


Dia benar-benar butuh pengalihan pikiran. Tapi Ava tidak mungkin menghancurkan barang-barang mereka atau memukuli dinding. Jadi, meskipun baterai teleponnya hanya bersisa 7%, ia memasang lagu dari daftar putar yang Lexa beri judul "Chill vibes. Breath, Darling".


Genjrengan gitar yang ceria mengalun, hampir teredam oleh lolongan laut ganas, Ava menyetel volume terkeras dari teleponnya, mengarahkan speaker tepat di telinga, lalu memaksakan diri menyanyikan lirik yang diucap oleh penyanyi dalam benda tersebut.


River yang mulai familiar dengan kebiasaan ini, menganggukkan kepala mengikuti melodi yang disuarakan Ava.


Di sisi lain, Dom memandang gadis di depannya dengan aneh, namun melihat adiknya yang sekarang tenang dan sibuk memperhatikan, bahkan bergumam kecil, dia memilih tutup mulut.


Lagu berganti. Ava bernyanyi dengan lebih lantang, sedikit lepas. Lorah dan River ikut menepuk-nepuk tangan seiring ritme musik, Dom pun malu-malu mengikuti. Wajah kaku Ava perlahan meleleh.


Pada lagu keenam, pijar kuning kecil yang berasal dari lilin menyinari ekspresi Ava yang cocok dengan suasana lagu yang ia tembangkan, gesturnya juga dinamik, sepenuhnya menampilkan performa yang pantas dilihat di atas panggung.


Teleponnya mati sebelum menyelesaikan lagu ke sepuluh, namun Ava masih dengan semangat meneruskan hanya dengan dengan tepukan dari ketiga penontonnya.


Setelah tamat, Ava terengah-engah. Akan tetapi ia berseri-seri, dengan senyum yang mencapai matanya, bukan seringai ataupun senyum bisnis.

__ADS_1


Dengan begini, emosinya akan stabil paling minimal hingga tiga hari ke depan. Setelah itu, Ava hanya bisa berharap kalau pesanan power bank-nya sudah selesai. Terkadang ia juga direpotkan dengan dirinya sendiri.


Kapal mereka sudah tidak lagi bergoyang, hanya rintikan hujan yang teredam dibalik dinding mereka. Namun lampu masih belum menyala. Batang lilin mereka juga hampir habis, menyisakan satu yang masih ada dalam laci.


"Kita--" suara Ava sudah patah-patah, hampir dipastikan suaranya besok akan serak karena berani menantang badai, "Ehem, kita harus minta lilin lebih."


Namun Ava ragu ingin meminta orang lain selain dirinya untuk pergi. River, dia notorius sebagai penjinak monster, staf kapal bahkan bersikap tidak sopan kepadanya, dia juga terlalu penurut, Ava takut saat pria itu dijelek-jelekkan River malah tetap diam dan tidak membela diri meskipun badannya besar. Berbanding terbalik dengan Dom, satu saja kata yang salah akan berujung pada perkelahian, dia cepat sekali mengangkat tangan. Ava juga tidak tega mengirim Lorah, gadis cilik itu hanya akan dijadikan objek hinaan karena penampilan yang masih belum ia kendalikan, berbeda dengan kakaknya.


Jadi meskipun suaranya hampir habis, Ava lah yang berangkat.


"Hati-hati, Rina, lantainya licin."


"Iya, Kak. Hati-hati."


"Kalau tidak ada yang mau memberikan lilin, bogem saja wajah mereka."


Ava menelusuri lorong yang gelap berbekal lilin sepanjang kepalan tangan, berjinjit-jinjit menghindari corak basah.


Namun ia tidak berhasil menemukan siapapun. Kamar-kamar yang ia lewati pun sunyi senyap, Ava mengira ia setidaknya akan mendengar riuh rendah dari masing-masing kamar.


Mengandalkan ingatan peta yang dia hapalkan dari papan setelah pintu masuk, Ava akhirnya sampai di kantor pegawai. Tidak ada yang menjawab, meskipun dia sudah mengetuk beberapa kali.


Ada apa ini?


"Orang-orang menghilang."


Ava refleks mengayunkan tangan bebasnya, yang langsung ditahan oleh sosok misterius asal suara tersebut.


"Wah, tenang, ini aku," Si ranker melepaskan lengan Ava yang ia pegang. "Mungkin inilah fenomena yang sedang marak terjadi sekarang."


"Fenomena apa?"


"Badai hitam."

__ADS_1


__ADS_2