Hellbent

Hellbent
Bab 36: Lautan


__ADS_3

Tidak ada yang benar-benar tahu seberapa dalam sebuah samudra. Cahaya matahari hanya menyinari permukaannya saja. Selain kegelapan, orang tidak akan ada yang tahan dengan tekanan air semakin jauh mereka menyelam.


Lautan meskipun dengan ombak yang tenang, seringkali menyembunyikan kehadiran monster yang tidak diketahui.


Sebutan lain lautan, "Neraka biru dunia."


"Tenang saja, Nona. Kami sudah melewati rute ini berpuluh-puluh kali, dan masih selamat!" salah satu staf menyanggah girang.


"Dari seberapa sering kalian menaklukan gate di rute ini?"


"Tidak pernah!" Tidak sadar dengan maksud Ava, staf tersebut lagi-lagi menimpali dengan ceria.


Gate pada hukumnya bersifat acak, Ava belum pernah membaca ada alat yang dapat memprediksinya. Kemudian mengingat tujuh puluh persen dunia ini ditutupi dengan air, kemungkinan adanya gate di bawah lautan sangatlah besar. Dan penaklukannya masih belum terorganisir secara efektif.


Seperti kejadian di kota Englerock minggu lalu, outbreak bisa terjadi kapan saja karena gate yang tidak terurus.


Lalu bayangkan jika sebuah gate di dasar laut mengalami outbreak berkali-kali tanpa ada yang sadar. Batas level yang semakin tinggi menghadirkan monster yang berlevel tinggi pula.


Karena itulah berlayar di tengah samudra sebenarnya sangat beresiko.


Namun sepertinya belum banyak orang yang berpikiran seperti itu.


Kapal yang tengah berlayar di tengah kegelapan malam menyalakan semua lampu yang mereka miliki, mungkin karena kehadiran figur-figur penting yang ada di lantai atas, lantai VIP. Namun di sisi lain, kapal penumpang ini menjadi target yang sempurna jika saja ada monster bawah laut yang sedang lapar.


Atau mungkin ini hanya paranoia Ava yang berbicara.


"Kenapa wajahmu mengerut begitu? Ada kecoak di makananmu?" Dom bertanya karena penasaran, padahal Ava hampir siap untuk berargumen lagi dengan pria itu apabila dia berniat menyindirnya. Sepertinya, pasangan adik-kakak tersebut pernah mengalaminya sendiri.


"Kalian sadar kalau kita tidak bisa kabur jika ada monster yang menyerang kita sekarang?"


"Oh, Nona sok pintar ketakutan?" Ava akhirnya mendapat jatah sindiran per jamnya, persisten sekali pria satu ini.


"Aku tidak akan membantumu jika kau diserang nanti," nada Ava sama sinisnya.


Dom sudah menyahut saja, "Memangnya kau bisa apa? Menaburkan bubuk bius yang terkenal itu? Kalau aku yang malah tertidur nanti bagaimana?"


"Itulah kenapa aku membuat masker gas, Tuan hidung besar," saking kesalnya Ava sampai menjurus pada body shaming.


"Hidung yang besar menandakan kekuatan!"


"Tidak ada korelasinya!"

__ADS_1


"Kalian sangat akrab, ya," tiba-tiba River menyela, pernyataannya sangat mendadak dan sepenuhnya jauh dari kenyataan.


"Yeay! Kakak akhirnya punya teman!" Lorah juga menambahkan, tidak sadar dengan ekspresi Dom yang semakin menggelap.


Menjadi teman Ava tidak seburuk itu.


"Hey, akulah yang seharusnya merasa tidak terima di sini," Ava menodong Dom dengan jarinya, cemberut.


Dom langsung menampik jarinya, lalu menggeram. Yang diikuti oleh tatapan setajam pisau Ava yang seolah menembus kepala.


"Uh, um, apa kalian tahu siapa yang ada di lantai atas?" Usaha bagus bagi River untuk mengalihkan pembicaraan.


Ava melirik raut bingung River, lalu menghela napas. Emosinya mulai berlari liar. "Kudengar salah satu dari mereka adalah seorang marquess kerajaan Berloi bersama ranker yang mereka sponsori."


"Jadi cuma petinggi yang mengandalkan uang mereka." Dom memutar mata.


"Yah, uang adalah salah satu bentuk kekuatan," kata Ava, secara ringan menyebutkan rahasia umum tersebut. "Lagipula, kau seharusnya fokus pada ranker-nya kalau kau memang sebegitu pedulinya dengan kekuatan."


Dom hanya mendengus, memalingkan kepalanya. Berbeda dengan kakaknya yang ngambek karena merasa kalah berargumen, Lorah dengan polos bertanya, "Ranker sudah pasti kuat, ya?"


"Benar, seseorang disebut ranker karena levelnya yang tinggi, level yang tinggi artinya kekuatan yang besar pula," River menjelaskan, ramah seperti biasanya.


Ava juga sibuk menguping dari tadi sore karena figur yang satu ini, "Katanya, level mereka sudah melebihi 100, seorang ahli pedang dengan atribut api."


"Kubayangkan juga begitu," Ava mengangguki imajinasi gadis cilik tersebut.


"Enak dong, mereka bisa membakar daging kapan saja." Ava tergelitik dengan kalimat itu. Mendengar Lorah yang tiba-tiba saja membahas makanan, dia sepertinya sudah lapar. Omong-omong, pesanan mereka belum datang juga.


"Apiku tidak pernah dipakai seperti itu, gadis kecil, mungkin aku akan mencobanya nanti." Suara asing di belakang Ava mengagetkan seluruh orang di sekitar mereka. Ia bahkan nyaris menyambar vas di tengah meja yang digunakan sebagai dekorasi untuk melawan siapa saja yang berhasil menyelinap tanpa terdeteksi di belakangnya.


"Wah, tenang saja." Sebuah tangan besar menepuk puncak kepala Ava, mungkin menyadari sikap defensif yang aktif otomatis secara insting.


Akhirnya Ava menoleh, mendapati seorang pria paruh baya berkulit gelap yang masih berbadan bugar dan tampan meskipun jejak usia jelas di wajahnya, mengingatkan Ava pada Al.


Nama : Ib Leo


Ras : Beastman Lion


Level : 109


Koin : 9282737648399

__ADS_1


Kekuatan : 35


Kecepatan : 29


Kelentukan : 28


Mana : 43


Level setinggi itu ...? Dia adalah ranker yang baru saja mereka bicarakan?


"Aku merasa kalau kau baru saja melakukan hal yang tidak sopan kepadaku, Nona," lagi-lagi pria itu membuka mulut. Mungkin karena level yang tinggi, pria satu ini lebih sensitif dari target observasinya yang dulu-dulu, tapi untung saja skill-nya masih belum diketahui.


Dan juga ... tidak ada yang pernah berkata kalau ranker tersebut adalah seorang beastman. Atau fakta tersebut dirahasiakan?


Dalam situasi seperti ini, sebaiknya Ava bersikap bodoh. "Ah, Tuan adalah ...?"


"Perkenalkan," Ava menjabat uluran tangan pria itu, "Ib Lange, swordsman magician yang kalian gosipkan."


Lange. Nama belakang yang berbeda. Artinya pria ini memang menutupi identitasnya. Mengingat nama marga seorang beastman sangatlah khusus, orang biasa pun dapat menebak langsung spesies mereka jika memang berpengetahuan. Leo, seperti yang dikira, adalah nama ilmiah dari singa.


"Rina Hoffmann, herbalis."


"Kupikir kau seorang ahli alkemi." Bukan waktunya, Dom.


"Ah, River Doyle, penjinak," River buru-buru menyahut.


"Lorah Acinonyx. Um ..., aku belum tau," Lorah terlihat murung di akhir kalimatnya. Jadi Ava berharap bisa menenangkan gadis itu, "Kau masih kecil, jadi tidak perlu tergesa-gesa. Lagipula kelas pekerjaan seperti ini tidak resmi."


Untuk alasan yang masih tidak diketahui, Ib si ranker juga berusaha menimpali Ava guna menghibur bocah di hadapannya, "Benar, aku sendiri masih mencoba-coba sampai berumur 27 tahun."


"Oke kalau begitu."


Atensi meja pun berpindah ke Dom yang belum memperkenalkan diri. Namun orang yang menjadi pusat perhatian malah memalingkan wajah, "Aku tidak ingin membongkar identitasku kepada orang asing." Ava langsung menendang kaki pria itu di bawah meja, yang berbuah pelototan ganas dari korbannya.


"Kita mendapatkan pemuda berapi-api di sini," Ib terkekeh sendiri dengan kalimatnya.


Apakah tadi ... sebuah permainan kata?


"Aku masih tidak percaya kalau orang tau seperti--"


Namun celotehan Dom harus terpotong karena pengumuman mendadak dari staf kapal.

__ADS_1


"Pehatian! Perhatian! Semua penumpang harap kembali ke kamar masing-masing! Badai besar akan datang! Diulangi lagi, semua penumpang harap kembali ke kamar masing-masing! Badai besar akan datang!"


Ah, sial.


__ADS_2