
Dalam dua bulan terakhir ia sudah diculik tiga kali. Tiga kali.
Hal yang paling ia benci adalah ketika situasi berjalan tidak sesuai dengan kehendaknya.
Jadi penculikan berada di urutan paling bawah, ditulis dengan tinta darah, dari daftar kegiatan yang akan ia lakukan.
Ava membuka perlahan kelopak matanya yang berat sembari menghembuskan napas panjang, dan hal yang pertama keluar dari mulutnya adalah, "Pasangan gila."
Tentu saja kutukan tersebut ditujukan untuk Eve dan Ellijah, ketidakwarasan mereka membuat keduanya serasi.
Omong-omong, dimana Ava sekarang?
Pertama kali Ellijah membawanya, pria itu menggunakan sebuah skrol teleportasi. Artifak langka yang sangat mahal, meskipun seseorang memiliki uang, belum tentu ia mampu membeli satu skrol saja, karena hak untuk berpindah tempat jarak jauh secara instan merupakan hak eksklusif yang dimiliki oleh para keluarga kerajaan, setidaknya untuk negara yang menerapkan sistem pemerintahan monarki. Jadi kepemilikan skrol teleportasi hanya bisa didapatkan jika seseorang memiliki uang banyak, status tinggi, dan koneksi terhadap royalti.
Yah ..., Ellijah memiliki semua itu.
Ava menggerutu ketika ia membangunkan tubuhnya yang masih lemas, tanda bahwa serbuk bius yang ia hirup masih tertinggal dalam tubuhnya.
Dosisnya tidak manusiawi.
Entah Ellijah ingin membuatnya pingsan atau sekalian mati.
Ketika ia melihat kebawah, Ava baru menyadari kain sutra yang membalut lembut lekuk badannya. Pakaiannya sudah diganti.
... Pria itu sebaiknya menyuruh salah satu pelayan perempuan untuk mengganti bajunya, atau Ava akan memotong bagian tubuh kebanggaannya sebagai laki-laki.
Ava memperhatikan sekelilingnya. Kasur ukuran raja dengan empat tiang penyangga kanopi yang menutupi pandangan Ava dengan kain beludru merah. Gadis itu segera menarik tali yang terjulur di sampingnya, seketika beludru merah tersebut tersingkap, menampakkan kamar mewah penuh pajangan perhiasan dan deretan karangan bunga warna-warni, membuat ruangan itu lebih mirip seperti kebun daripada kamar tidur.
Kaki Ava turun dari ranjang, langsung disambut oleh sepasang sandal dengan bulu hewan asli. Lalu ketika ia menghampiri jendela, ia berdecak kesal.
Pemandangan berbingkai yang ia lihat hanyalah langit biru dan gumpalan awan.
Ava ada di angkasa.
Lebih tepatnya istana melayang kerajaan Edodale.
"Ah, merepotkan saja."
__ADS_1
***
Edodale dari yang ia baca merupakan negara paling maju dalam bidang pengetahuan, teknologi, dan militernya. Sebagai pusat inovasi dan tempat berkumpulnya para ilmuwan serta peneliti, Edodale pun diberkahi dengan artifak-artifak buatan yang menandingi artifak asli yang muncul dari gate, sebuah sumber besar untuk pertahanan dan penyerangan mereka. Tidak lupa juga Edodale merupakan daratan benua terbesar yang hanya memiliki satu kerajaan, yaitu kerajaan Edodale, sama seperti nama benuanya, kepadatan penduduk mereka diimbangi oleh banyaknya petarung-petarung berbakat yang mendaftar di sekolah yang didirikan oleh keluarga kerajaan. Melimpahnya kelebihan kerajaan Edodale dari negara lain juga tidak sedikit mengundang minat dari orang-orang luar. Bahkan terdapat pepatah populer, "Sukses di Edodale artinya kau sukses dimanapun". Karena memang kenyataannya begitu, banyak peluang tetapi juga banyak kompetitor.
Semua orang berusaha mewujudkan mimpi besar mereka di Edodale.
Dan tentu saja, Ava harus memiliki wajah yang sama dengan putri kerajaan yang oh sangat makmur tersebut.
Lalu, jika dia berada di istana, artinya Ava akan segera bertemu dengan keluarga Eve, benar?
Keluarga Eve ....
Ingatan terawal Ava adalah ketika ia berada di depan panti asuhan ketika sedang bersalju, dari kecil ia adalah yatim piatu.
Dan apabila Eve adalah dopplegangger-nya, apa itu berarti keluarga Eve akan memiliki wajah yang sama dengan keluarga Ava sebenarnya?
Mengingat Ellijah yang persis sekali dengan Alex, kemungkinan tersebut tidaklah kecil.
Namun Ava tidak bisa memutuskan harus bersikap seperti apa di hadapan mereka jika memang benar, pada muka orang-orang yang sudah membuangnya.
... Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu singkat, Ava menjadi sedikit emosional.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Tuan Putri." Ah, benar. Mereka sekarang mengira kalau Ava adalah Eve. Kemungkinan kamar yang ia tempati juga merupakan kamar si Putri kerajaan ini. Jadi seorang pelayan akan mendapat hukuman jika sembarangan masuk ke kamar keluarga kerajaan tanpa ijin. "Masuk."
Tiga perempuan yang terlihat seumuran dengan Ava langsung terlihat begitu pintu terbuka, karena itu juga Ava sempat melihat dia prajurit berzirah besi di kedua sisi pintu luarnya. Penjaga, sial.
"Kami akan segera menyiapkan bak mandi, Tuan Putri."
Akan tetapi Ava mempunyai agenda lain selain mandi. "Dimana Duke Frost?"
Ketiganya segera menghentikan langkah, saling melirik dengan mata yang membelalak kaget. "Sepertinya memang benar, Tuan Putri masih marah." Ava menangkap bisikan lirih mereka dari telinganya yang tajam.
"Jawab." Berhubung ia berada di posisi dengan status tinggi, Ava akan menggunakannya dengan baik selagi masih bisa.
__ADS_1
"A-anu, Duke Frost menginap di salah satu kamar tamu, mungkin sekarang sedang berbincang dengan Pangeran Marvin di taman kaca."
... Marvin?
Seorang pamgeran? Artinya ... saudara laki-laki Eve?
Hm.
Ava ingin segera mengkonfrontasi Ellijah, tapi tidak mungkin ia keluar kamar dengan pakaian tipis seperti yang sedang ia pakai. "Lanjutkan pekerjaan kalian."
Tiga pelayan tersebut langsung buru-buru hilang dari hadapannya. Tanpa menunggu waktu yang lama, bak yang lebih mirip seperti kolam renang mini penuh dengan air hangat dan berbagai peralatan mandi mahal di sampingnya. Saat mereka dengan hati-hati menghampiri Ava, gadis itu langsung menolak. "Sampai sini saja, keluar." Ia tidak mau dimandikan oleh orang asing.
Meskipun sempat bingung, ketiganya segera pamit dari kamar mandi. Ava membasahi tubuhnya, memilih botol yang isinya paling terlihat seperti sabun cair, mengabaikan minyak mawar, krim susu, dan lulur putih.
Saat dia keluar, pelayan-pelayan tadi menunggunya dengan serangkaian gaun yang langsung membuat Ava mengedutkan alis. "Pilih yang lebih sederhana." Mungkin menganggap kalau tuan yang mereka layani sedang buruk nuansa hatinya, mereka langsung sigap mengganti gaun yang ada. "Sekarang, keluar."
Setelah memakai pakaian tipis pendek yang difungsikan sebagai pakaian dalam, Ava tidak berniat menggunakan korset dan langsung menelusupkan tubuhnya ke gaun santai ringan berwarna hijau. Ketika ia membuka pintu kamar, gadis itu langsung dicegat oleh penjaga pintu. "Anda butuh pendamping jika ingin pergi kemanapun, Tuan Putri."
Ava diam-diam mendengus, "Kalau begitu kalian antar aku ke taman kaca."
Namun baru selangkah, Ava sadar kalau dia tidak tahu arah. "Salah satu dari kalian memimpin di depan."
"Tapi seorang prajurit tidak boleh mendahului Tuannya."
Agh, ribet sekali.
"Aku mengijinkan, cepat."
Setiap lorong yang Ava lewati sangatlah mewah, terdapat pajangan mahal di setiap sudutnya, tidak lupa juga lampu kristal besar yang lebih terlihat seperti berlian. Semua yang ia lihat jelas-jelas meneriakkan uang jika Ava mencuri satu atau dua benda dari sana.
Setelah berjalan jauh melewati lorong-lorong panjang, istana mereka terlalu besar, Ava akhirnya sampai di kubah kaca berisi taman bunga dengan pemeliharaan yang teliti.
Tidak susah mencari keberadaan Ellijah, eksistensi pria bersetelan gelap itu sangat mencolok di antara warna-warni bunga yang cerah. Hanya saja ada satu orang lain juga di sana.
Mungkin dialah yang dimaksud para pelayan tadi. Pangeran Marvin.
Rambut Marvin sekelam rambut Ava maupun Eve, cuma manik matanya yang berbeda, bukan hitam arang yang dalam tetapi abu-abu jernih.
__ADS_1
"Berani-beraninya kau membuat kakakku tidur dengan obat bius! Lalu membawanya yang tidak sadar dengan skrol teleportasi? Kau seharusnya lebih bijak bertindak, Duke Frost." Kalimat pembuka yang membuat Ava mempunyai firasat kalau dia akan menyukai Marvin.