Hellbent

Hellbent
Bab 144: Lab yang Benar-Benar Rahasia


__ADS_3

Brak! Brak! Brak!


Ketukan berubah menjadi dobrakan. Ck, siapa? Sekarang, hanya ada empat orang yang berada di tempat ini, kalau tiga yang lain ada di kantornya, maka cuma orang bodoh lah yang tidak dapat menarik kesimpulan kalau dialah yang mengisi kamar mandi.


“Eve? Eve!” Ah, Duke Frost.


Sekarang pria itu berani memanggilnya tanpa embel-embel kehormatan, hah?


Meskipun Eve telah terikat janji jiwa yang membuatnya tidak bisa lagi melihat memori l masa lalu Ava, ia tidak pernah dilarang untuk mengobservasi situasi secara langsung. Jadi, berbekal suplai mana yang banyak dan skill yang berhasil dimodifikasi, Eve dapat berbagi panca indra. Apa yang dilihat, didengar, diraba, dan dikecap oleh Ava, bisa dirasakan oleh Eve juga.


Dan menurutnya, Ava bersikap terlalu lunak kepada orang-orang di sekitarnya.


“Eve, kau tidak apa-apa?” Termasuk dan paling utama, Duke Frost. Pertunangan yang ia anggap sebagai formalitas dan hiburan semata berubah menjadi obsesi tidak sehat dari pria tersebut. Mengganggu. Untung saja keturunan Frost itu ada gunanya, kekuatan militer bagian Utara, kekayaan yang menandingi harta milik keluarga kerajaan, serta kepatuhan tanpa batas menaikkan status Duke Frost sebagai benteng dalam papan catur yang ia mainkan. Namun ditinggal sebentar saja, pria itu sudah kehilangan kendali, bahkan kini ia berani memperlakukannya dengan enteng? Dia pantas untuk ditampar.


Sayangnya, Eve tidak memiliki waktu untuk mengeluh.


Dia membuka pintu yang bergetar keras karena dobrakan Duke Frost, terancam jatuh dari engselnya kalau saja Eve sedikit terlambat. “Oh, aku mencium bau darah—!“


“Bersihkan itu.” Tanpa menghiraukan ekspresi tercengang dan panik Ellijah, Eve melangkah keluar dan segera menuju sudut kantornya, di depan rak buku yang terdiri dari berbagai


ilmu pengetahuan.


“Ah, kau tidhak boleh—“


“Kerikil kecil, jangan ganggu mama sekarang.” Siwon yang semula mengucek mata karena masih mengantuk, seketika terbangun dengan panggilan yang familiar. Hanya mama yang memanggilnya “kerikil kecil”. “Mama?”


Baru setelah Eve menyentuh punggung-punggung buku dengan urutan tertentu, sebuah panel muncul di hadapannya. Akan tetapi kepalanya tiba-tiba mengalami pusing hebat, berdenyut-denyut dan seakan mau pecah.


Argh, Ava tetap menjadi orang yang paling merepotkan saat ia tangani.


Beruntung, ia berhasil menyelesaikan prosedur identifikasi jiwanya, satu-satunya cara ia membuka pintu kedua untuk menuju lab rahasianya.


Ia kembali ke alam bawah sadar.


***


“Hei!”Belum-belum Eve disambut dengan teriakan geram Ava.

__ADS_1


“Kau harus memperbaiki cara bicaramu, seorang putri kerajaan tidak akan berteriak seperti itu.”


“Persetan! Darimana saja kau?”


“Aw, apa kau ketakutan saat kutinggal? Takut akan kegelapan atau takut sendirian? Ternyata kau punya sisi yang imut juga.”


Ava hanya bisa menganga tidak percaya terhadap omong kosong yang dimuntahkan Eve. Suasana hatinya sedang baik atau apa, aneh sekali. “Lupakan saja, yang terpenting saat ini adalah dimana tiga hal yang—“


“Kau akan melihatnya sendiri nanti.”


Hah? Apa yang dia bicarakan?


Namun sebelum ia bertanya lebih lanjut, kesadarannya ditarik kembali ke realita.


***


Bukan keramik kamar mandi yang ia lihat saat membuka mata, melainkan jajaran buku dan judul yang dituliskan dengan huruf kursiv. Selanjutnya, wajah campur aduk dari Siwon


yang sekarang berwujud balita manusia. Alisnya mengerut khawatir, tapi bibirnya tersenyum senang.


Benar, ia lagi-lagi mengalami glitch. Kali ini tidak pada malam bulan ungu.


Apa penyebabnya?


Namun Ava tidak sempat berpikir karena Siwon yang berteriak tepat di depan wajahnya. “Mama! Mama! Pinthunya terbuka! Yey!”


Pintu apa?


Oh. Bukan kamar mandi, Ava tergeletak di sudut kantor, dan ia dihadapkan dengan lorong terbuka remang-remang yang tidak ada sebelumnya. Sebuah rak buku besar bergeser memperlihatkan pintu masuk tersembunyi layaknya di film-film misteri.


Jadi ini yang dimaksud Eve? Apakah Siwon yang membukanya?


... Tapi bagaimana bisa Ava berakhir di sini?


Sesuatu yang mencurigakan telah terjadi.


Apapun itu, Ava bergegas ke kamar mandi, membersihkan dirinya dari darah yang nyaris kering. Prioritasnya sekarang ialah menelusuri jalur rahasia yang baru saja terlihat. Berhubung Siwon dan Ellijah sudah bangun, mereka mendesak untuk mengikutinya. Rose ditinggal karena masih tidur, kalau nanti dirasa perlu Ava akan

__ADS_1


membangunkan pelayan itu.


Tangga yang ada cukup curam, ditambah lagi licin karena udara yang lembab sebab mereka berada di bawah sebuah danau. Ava dapat mencium antiseptik bahkan di pintu masuk.


Mereka turun satu-persatu dengan hati-hati.


Semakin ke bawah, semakin pekat bau rumah sakit yang membuatnya tidak nyaman. Ia pun menurunakan sensivitas indranya hingga 1 persen.


Apa yang ia lihat selanjutnya membuatnya terkekeh.


Dinding berlumut dengan cipratan darah, tabung kaca berisi cairan hijau dan organ-organ manusia, Ava bahkan menyaksikan janin bayi yang masih memiliki tali pusar, ada juga berbagai bekker dan gelas reaksi dengan ramuan berwarna-warni, di sampingnya kotak besi yang seukuran tubuh manusia, dan di sisi paling dalam terdapat layar besar dengan barisan keyboard kecil serta tombol merah besar.


Wah, ternyata imajinasinya dengan Eve tidak berbeda jauh.


Tempat seperti inilah yang baru bisa dinamakan lab rahasia.


Hah, Ava seharusnya mempertanyakan moralnya. Sebab ruangan itu merupakan bukti kuat atas rumor-rumor percobaan gila serta ilegal yang dilakukan oleh si genius ahli


alkemis terhadap manusia ataupun ras lain yang jelas sekali melanggar hukum internasional, negara, dan norma masyarakat.


Tapi apa hubungannya hal itu dengan dia sekarang?


Tujuannya ke sini adalah mencari tiga benda.


Orang mati atau keadilan bukanlah urusannya.


Tidak butuh waktu lama untuk menemukan resep ramuan penawar wabah zombie, jurnal yang identik dengan apa yang Ava bawa berada pada meja dimana berbagai peralatan alkemi ditata. Isinya, seperti yang ia kira adalah macam-macam resep herbal dan alkemi, cara pembuatan yang tertera memang sedikit lebih sulit dari jurnal sebelumnya, tapi yang terpenting resep tersebut sudah berada di tangannya, artikel berjudul “Penawar wabah yang berasal dari Uflaria” tertulis di bagian tengah buku.


Untuk artifak anti-anarkisme, mereka membutuhkan sedikit waktu. Karena ketiganya harus meneliti cetak biru satu persatu. Ah, coret bertiga, maksudnya berdua. Siwon hanya memandang satu lembar rancangan dengan pandangan bingung dari tadi, sama sekali tidak mengerti. Ava tidak mengharapkan apa-apa dari bocah naga itu.


Total terdapat tiga cetak biru yang sepertinya bisa digunakan kalau dilihat dari deskripsi prototipe-nya. Ava tinggal melimpahkan pekerjaan dalam membuat item-item tersebut kepada Bia, pistol sihir dan power bank yang dibuatnya sudah memenuhi harapan tinggi Ava terhadap kemampuan inovator tersebut. Namun tentu saja, sebagai jaga-jaga, Ava mengambil kertas-kertas rancangan yang bisa ia muat ke dalam tas ransel hingga penuh. Tidak ada jaminan Ava tidak akan membutuhkannya di kemudian hari.


Sekarang yang terakhir, Necklace of Genesis. Dimana benda itu? Dia tidak melihat item berupa kalung di mana-mana.


“... Siapa kau?” Ava terlonjak. Matanya bergetar hebat mengawasi sosok yang melayang di atas meja.


“Kau itu yang siapa?!”

__ADS_1


__ADS_2