
Disela-sela keriuhan tepuk tangan, Ava menangkap beberapa isak tangis dari berbagai sudut lantai restoran. Sepertinya lagu yang ia bawakan dapat menyentuh emosi sensitif bagi yang mendengarkan, kemungkinan besar karena topik yang ... cocok dan baru saja terjadi.
"Terima kasih, terima kasih," Ava membungkuk hormat, secara resmi mengakhiri pertunjukannya di atas panggung. Meskipun pembukaan yang ia katakan tadi hanyalah sebuah candaan, banyak yang melemparkan koin kepada Ava. Sekali lagi, banyak.
Satu keping mengenai keras punggung tangannya, sehingga membuat Ava bingung kalau mereka benar-benar menyukai performanya atau membencinya setengah mati.
Yah, apapun itu ia mendapatkan koin.
Saat dirinya berusaha berjalan menuju meja asal, untuk suatu alasan yang belum ia ketahui, orang-orang berlomba-lomba berjabatan tangan dengan Ava. Yang mengangetkan lagi malah ketika keramaian tiba-tiba sunyi. Badan yang jauh tinggi dan dua kali lebih besar dari lebar tubuh Ava menghalangi jalur gadis itu.
"Nona, Count Livero ingin menemui Anda," meskipun perawakan sangar, pria yang ada di hadapannya berbicara dengan nada yang sopan.
Argh, bangsawan. Ava sebenarnya malas menghadapi Karen versi mewah, tapi dia juga tidak mau menolak ajakan untuk naik ke lantai atas ketika kapal secara penuh berfungsi.
Ava membayangkan akan banyak orang yang dapat ia jilat ataupun barang yang bisa ia curi. Selain itu memanggil Ava setelah konser musik bisa diartikan ia akan mendapatkan uang tip dari orang yang disebut Count Livero ini.
"Dengan senang hati," Ava membalas dengan senyum bisnis.
Baru beberapa hari yang lalu Ava berlarian di lantai atas, lelah, berdarah, dan dengan tujuan yang berbeda tentu saja. Namun kini dia dengan senang hati menyambut sensasi kain beludru dari tangga yang ia pijak, ia juga tidak mempermasalahkan lampu gantung mewah yang bersinar dengan kilau emas.
Aroma parfum mahal yang menusuk juga menandakan kalau Ava benar-benar masuk ke wilayah VIP.
Ia digiring menuju sebuah meja di tengah lantai, dengan berpasang-pasang mata yang tidak malu dan segan mengamati Ava seolah dia adalah sebuah pajangan berjalan. Meja yang ditutupi taplak sutra tersebut dikelilingi oleh tiga orang. Pria pertengahan 40-an tahun dengan setelan gaya Victoria lama berwarna biru, dengan nama belakang Livero dari hasil observasi diam-diamnya. Wanita yang terlihat jauh lebih muda, mungkin awal 30-an, yang juga memiliki nama belakang yang sama. Suami-istri? Dan yang terkahir, tapi tidak kalah penting, si kakek merak. Pakaian pria tua itu masih sama norak dan sama mencoloknya dari yang Ava lihat kemarin-kemarin. Namun kenapa kakek itu ada di sini? Namanya adalah Woodrow Brewer. Brewer, bukan Livero.
"Selamat malam, Count dan Countess Livero, serta tamu undangannya. Sebuah kehormatan saya diundang oleh Anda di sini," Ava sudah memulai taktiknya, menyapa dua orang yang memang penting, dan hanya menganggap si kakek merak sebagai tamu tanpa nama. Melihat seberapa jauh pasangan Livero itu memposisikan kursi mereka dari Kakek Brewer, dia adalah undangan yang tidak mengenakkan.
"Selamat malam juga, Nona Hoffman, benar?" Countess yang pertama menyapa balik Ava dengan antusias. Kontras dengan sisi meja yang sunyi dan kaku dari si kakek merak.
__ADS_1
"Tadi itu performa yang sangat menyentuh, Nona Hoffman! Sampai-sampai saya menangkapnya di bola perekam ini, saya harap Nona memaafkan perilaku saya yang lancang," Count Livero menambahkan semangat seraya mengisyaratkan salah satu pelayan agar memberi Ava kursi untuk diduduki.
Bola perekam? Maksud si Count adalah bola perekam yang satu saja bernilai lima digit koin hanya untuk menyimpan satu video? Bola perekam yang itu?
"Saya merasa tersanjung, Count Livero."
Hanya ada satu orang yang terlihat tidak bahagia di meja mewah tersebut.
Oh, Ava ingat dengan satu hal yang akan membuat si kakek merak semakin tidak senang.
Jika dia kehilangan tongkat emasnya.
Benda yang menggoda Ava untuk segera ia sambar itu tersandar di tepi meja, sangat mudah untuk diraih.
***
Di atas kasur yang seprai dan bantalnya terkoyak, telentang seorang pria tanpa atasan yang menatap kosong langit-langit bermotif dekoratifnya. Bagian belakang kepalanya dari tadi berdenyut nyeri, kelopak pria itu berat, bola matanya juga dipenuhi dengan garis-garis merah yang menjalar hingga pupil, ditambah dengan kantung hitam pada wajah pucat membuat dirinya lebih mirip dengan mayat hidup.
Tok! Tok! Tok!
Terdapat ketukan pada pintu mahagoni berukir di kamar yang menyedihkan tersebut. Tidak mendengar penolakan, seorang pelayan tua masuk, langsung mengernyit dengan bau menyengat campuran bunga, rempah, dan setitik kayu yang memenuhi ruangan itu.
Opium.
Tuannya lagi-lagi mengonsumsi opium.
"Duke, Anggrek Ungu memiliki berita yang mungkin akan menarik bagi Anda," tapi dia adalah pelayan profesional, jadi kebutuhan tuannya yang paling utama. Prioritas master menjadi prioritasnya juga.
__ADS_1
"Anggrek Ungu?" Suara rendah yang serak menjawab, sedikit kesal. "Kau benar-benar menggangguku hanya untuk sebuah gosip yang dibicarakan oleh para bangsawan sialan itu?!"
Anggrek Ungu, adalah sebuah fungsi dari [System] yang secara khusus hanya bisa diakses oleh pengguna berbayar. Sebagian isinya memang kebanyakan cuma rumor ataupun fitnah yang disengaja. Tapi dengan membayar 3000 koin per bulannya, Anggrek Ungu juga menjadi situs dalam [System] yang dijadikan standar untuk prestige mereka, terutama para bangsawan. Mampu membayar koin sebanyak itu setiap bulannya pada langganan majalah gosip yang tidak berguna juga membuktikan kekayaan yang seseorang miliki. Sebagai ajang harga diri.
"Kali ini bukan gosip, melainkan sebuah gambar berjalan yang dimasukkan oleh Count Livero dalam Anggrek Ungu."
"Apa bagusnya gambar berjalan ini?" Mengakses setiap postingan dalam Anggrek Ungu juga berbayar, jadi 50 koin tiap kali satu video diputar, setara dengan menginap selama satu hari satu malam lengkap dengan sarapan, makan siang, dan makan malam. Hanya untuk satu kali putar.
"Saya percaya, subjek dalam gambar berjalan ini adalah Nona Weinhamer."
Prak!
Segelas wine merah serta pecahan gelas ikut mengotori karpet di bawah kaki pria tersebut.
Weinhamer?
Nona Weinhamer?
Eve Weinhamer?
Tanpa membuang waktu lagi ia segera membuka jendela statusnya, lalu menekan ikon ungu mencolok di antara layar transparan biru. "Apa judulnya?" pria itu buru-buru bertanya.
""Performa musik di atas kapal", nama pengguna Walter Livero."
Dan ketika ia baru saja melihat gambar awal dalam postingan tersebut, hatinya meledak-ledak tidak terkontrol dalam dadanya. Lebih dipengaruhi oleh opium yang ia konsumsi, tapi juga rindu.
Di sana, secara jelas, wajah Eve Weinhamer, tunangannya.
__ADS_1