
Berbeda dengan festival-festival yang Ava hadiri sebelumnya, perayaan 1500 tahun berdirinya kerajaan Edodale ini dilaksanakan dengan adanya pameran inovasi. Berbagai ilmuwan, ahli alkemi, dan profesional lain yang berkaitan berkumpul di ibukota Edodale, Hivea, untuk memperkenalkan temuan baru mereka untuk khalayak umum. Sebulan sebelumnya mereka telah mengumpulkan rancangan inovasi mereka untuk dinilai oleh pihak kerajaan, apabila rancangan tersebut dinilai berharga, kontrak ekslusif akan ditandatangani. Namun apabila mereka tidak lolos, ramuan, artifak, atau skrol sihir yang dibuat dapat dijual dalam festival hari ini.
Seperti yang dibilang Marvin, hanya dua atau tiga rancangan yang biasanya menarik perhatian, ribuan sisanya tidak akan dilirik, apalagi jika visi yang ada tidak cocok dengan niatan keluarga kerajaan ke depan.
Selain untuk lepas dari sesaknya suasana di istana yang setiap gerak-geriknya dinilai, Ava berencana melihat-lihat benda apa saja yang dipamerkan. Mungkin ada alat yang mirip dengan benda modern dari dimensi asalnya, seperti yang ditunjukkan oleh Bia beberapa bulan yang lalu, atau setidaknya item yang akan berguna dalam perjalanannya di kemudian hari. Meskipun begitu, Ava tidak berharap banyak.
Dan setelah tiga jam berjalan, ekspektasi gadis itu tidak salah.
Tidak ada item yang benar-benar berguna untuknya.
Pemadam lilin. Payung untuk sepatu. Ramuan anti bau badan. Hanya penemuan-penemuan tidak signifikan seperti itu yang ditawarkan. Mau tidak mau Ava mendesah kecewa walaupun sudah menduganya.
“Kau tidak mau membeli sesuatu?” suara bisikan monoton terdengar dari sisi kirinya, Ellijah benar-benar memandaatkan kesempatannya di keramaian untuk lebih dekat.
Ah, benar, dengan kedok kencan Ava memanfaatkan pria tersebut untuk keluar dari istana, akan tetapi mereka hanya melangkah tanpa adanya obrolan berarti sedari tadi. “Tidak ada yang menarik,” gumam Ava, terdengar lirih di antara keriuhan festival.
“Hm, kukira kaulah yang menjadi juri tahunan item-item ini.”
Ellijah tidak salah, dari buku panduan yang telah disiapkan Eve, menilai rancangan-rancangan untuk festival ini sebenarnya ialah tugas yang diberikan. Akan tetapi ketika itu Ava masih dalam tahap awal adaptasi di istana, ia disibukkan dengan mengumpulkan informasi serta mempelajari tata krama bangsawan, lagipula Marvin yang menjadi perwakilan kontrak pun tidak memberikan peluang bagi Ava untuk terlibat. Mungkin karena itulah kesempatan si pangeran guna berkontribusi dalam kerajaan, menggantikan kakaknya yang sebenarnya hilang. Yah, Ava tidak ingin mengurusi hal-hal yang merepotkan jika bisa. Dengan kata lain, Marvin dan Ava sama-sama diuntungkan.
__ADS_1
“Sudah waktunya Pangeran Marvin melakukan sesuatu,” jawab Ava sambil lalu. Namun sebelum Ellijah menimpali, gadis itu dengan gesit melangkah dengan tujuan pasti. Sudah waktunya ia memenuhi peran sebagai tunangan palsu, kencan yang juga bisa dijadikan sogokan untuk pria yang terobsesi dengan Eve.
Destinasi Ava adalah toko dessert. Dari yang terlihat saja, sudah terdapat belasan pasangan yang menikmati waktu romantis mereka di toko tersebut. Tempat itu pastilah memang titik berkencan.
Seorang staf yang menjaga pintu masuk segera menghalangi mereka, “Maaf, Tuan dan Nyonya, apakah kalian memiliki reservasi?” Ellijah kali ini yang lebih cepat bertindak, “Belum, apakah tidak ada tempat kosong?” Mendapati respon yang agak tidak sopan, staf toko mengambil satu langkah ke belakang, mengamati secara terang-terangan. Dua orang yang sedang ia hadapi berpenampilan biasa, tidak mengetahui kalau mereka memang sengaja guna meleburkan diri. Baru ketika lima detik berlalu, staf toko akhirnya menangkap rambut perak serta mata biru pria di hadapannya. Sebagai rakyat jelata, ia tahu betul karakteristik unik tersebut hanya dimiliki oleh keturunan bangsawan daerah Frost, yang mana tahun ini hanya menyisakan penguasanya tanpa orang tua ataupun anak, sang Duke. Sadar akan kelancangannya di hadapan bangsawan berstatus tinggi, staf toko tersebut seketika membungkuk hormat. “Ah, mohon ampuni kesalahan saya, Duke Frost!” Dia sadar akan prestasi mencengangkan yang telah diraih pria tersebut, akan tetapi di sisi lain Duke Frost dikenal dingin serta tidak berperasaan, dengan enteng membunuh musuh-musuhnya dengan skill es tingkat tinggi, persis seperti yang terindikasi dari nama kebanggan penguasa utara, Frost.
Sayangnya, si staf toko membuat kesalahan lain yang tidak ia sadari. “Bukankah kau perlu memperbaiki sikapmu yang tidak tahu malu itu?!” Ellijah menghardik keras. Si staf toko langsung bersujud takut meskipun ia masih belum sadar kesalahannya. “Ampun, Tuan!”
“Sudahlah, bukannya wajar? Tujuan penyamaran kita kan memang agar tidak dikenali,” perempuan di samping Duke Frost menengahi kalem. Barulah staf toko tersebut mendongak perlahan, mencuri pandang secara diam-diam. Rambut hitam dan mata hitam, selain itu gadis tersebut dengan entengnya menenangkan sang Duke. Hanya satu orang yang bisa ia pikirkan. Putri Eve. Setelah berbulan-bulan menghilang, dikabarkan sang putri telah kembali. Dan dia belum juga memberi salam kepada putri itu. Astaga! “Maafkan kesalahan saya, Tuan Putri!”
Ava tidak menyukai situasi ini. Kericuhan yang disebabkan oleh staf toko ketika meminta ampun untuk pertama kalinya telah mengundang perhatian orang-orang sekitar, apalagi ketika Ellijah mengkonfrontasi untuk memperpanjang masalah ini, padahal mereka hanya bertanya apakah ada meja kosong yang tersedia. “Iya, iya,” dirinya membalas setengah hati, “Jadi, tempat ini sudah penuh?”
Sekali lagi Ava membuka mulut, “Apakah ada meja kosong untuk kami berdua?”
Untung saja manajer yang satu ini cepat tanggap, berbeda dengan bawahannya yang sudah nampak akan rubuh jika ada yang meniup tubuh gemetarnya, “Tentu! Tentu saja! Kami menyediakan ruangan pribadi bagi Tuan dan Nyonya.”
Akhirnya. Dalam langkah mereka yang dibimbing langsung oleh si manajer, Ava masih menangkap desas-desus di sekitarnya, berbagai respon muncul.
“Sepertinya bangsawan berstatus tinggi.”
__ADS_1
“Eh, bukannya itu Duke Frost? Artinya wanita di sampingnya ... Putri Eve? Kukira hubungan mereka tidak baik.”
“Astaga, tampan sekali!”
Tidak ada yang penting. Jadi Ava mengabaikannya. Setelah duduk, gadis itu segera memesan lima menu yang paling populer dan jus stroberi, sebaliknya Ellijah hanya meminta satu cangkir kopi panas.
Ditinggal oleh manajer yang lari terbirit-birit, Ava dan Ellijah pun kini berdua saja. Ia memandang dalam wajah datar namun rupawan tersebut.
Kemiripannya dengan Alex tidak bisa diabaikan.
“Apa kau keberatan jika kupanggil Elli?”
Daftar menu yang dipegang pria itu robek menjadi dua, saking tersentaknya, sama sekali tidak menyangka.
Semenjak kepergiannya empat bulan yang lalu, Eve sudah banyak berubah, agak asing memang. Akan tetapi jika perubahan tersebut mengarah positif terhadap kedekatan mereka berdua, Ellijah tidak keberatan sama sekali.
“Boleh saja, asalkan mulai saat ini aku secara resmi diperbolehkan memanggilmu Eve,” timpalnya, suara monotonnya kali ini bernada semangat.
Yah, tanpa disetujui pun Ellijah sudah memanggil Ava dengan nama depan doppleganggernya itu, jadi bahunya terangkat, “Setuju.”
__ADS_1