Hellbent

Hellbent
Bab 141: Berputar-putar


__ADS_3

Siasat Ava berhasil.


Namun karena ia beralasan lingkungan yang tidak aman untuk mendesak Siwon menunjukkan lokasi "kantor mama"-nya, jadi tidak masuk akal apabila Ava bersikeras untuk pindah saat itu juga, menyusuri hutan yang gelap saat berbagai monster sedang aktif-aktifnya. Sayangnya, keputusan tersebut malah membuat Siwon cemberut, merasa tertipu, sebab ia mendapatkan firasat kalau Ava tadi sangatlah siap untuk angkat kaki dari hutan, berlayar, dan meninggalkan Siwon sendirian. Lagi.


Tentu saja gadis itu menggeleng prihatin, menyembunyikan seringai. Pasalnya, kalaupun ia memanggil sebuah kapal untuk menjemput mereka sekarang, kapal tersebut baru akan tiba nanti pagi.


Untung saja, Siwon tidak menarik ucapannya. Mereka akan dipandu menuju lab rahasia Eve.


Tapi terlebih dahulu, mereka melanjutkan tidur.


Rose menata kasur serta selimut yang berantakan, sedangkan Ellijah memasang lagi alarm peringatan, barangkali masih ada monster yang berani mengincar mereka. Artinya, tunangan (palsu)-nya itu sama sekali tidak beristirahat. Konsekuensi yang harus pria tersebut tanggung karena sangatlah kaku untuk tidak membiarkan penjaga lain ikut dalam perjalanan mereka.


Kemudian, mungkin sebagai bentuk pembalasan kecil, Siwon menuntut untuk tidur di dekat Ava, dekat sekali sampai-sampai mereka terlihat berpelukan.


Ava tidak bisa terlelap kalau begini, tubuhnya terlalu sensitif. Tapi ia biarkan saja Siwon berbuat semaunya, sebagai permintaan maaf juga karena telah memanfaatkan kepolosan bocah tersebut.


Jadi ada dua orang yang mendengarkan semilir angin semalaman.

__ADS_1


***


Seperti yang direncanakan, mereka berangkat ke tempat tujuan yang asli. Namun ternyata Ava meremehkan luasnya pulau yang dipenuhi pohon tersebut. Bagaimana bisa mereka lagi-lagi berjalan selama berjam-jam?! Seberapa besar pulau ini?!


Satu hal lain lagi yang Ava kurang cermati kemarin, Siwon yang penuh rasa penasaran. Crimsonwood memanglah hutan merah seram yang langsung membuat orang-orang senggan untuk menapakkan kaki mereka, selain karena suasana yang pantas dijadikan setting film horror, monster yang berkeliaran pun tidak dapat diremehkan. Namun tidak semua monster bersifat memusuhi, terdapat makhluk kecil yang ramah dan tidak berniat menyerang, tentu saja mereka pastilah dalam posisi paling bawah dalam rantai makanan di ekosistem brutal. Contohnya, kupu-kupu pollen. Monster serangga indah yang sebesar dua telapak tangan Ava tersebut sesekali terlihat berlalu kesana-kemari, saat itulah rasa penasaran Siwon terpicu. Tidak hanya satu atau dua kali si naga kecil itu mengikuti jalur kupu-kupu yang ia lihat, menyebabkan Ava dan rombongannya melenceng dari arah tujuan.


... Atau mereka dengan sengaja hanya dibuat berputar-putar? Apakah Siwon berniat mengerjai mereka?


Kalau memang benar ... Ava tahu ia tidak berhak mengkritik, tapi ... picik sekali!


Naga mungil itu malah cemberut, pipi gembulnya mengembang dan bibirnya maju satu centi, dia bahkan tidak mau bertatapan dengan mata kesal Ava. "Thapi aku boshan!"


... Ah, anak kecil tetaplah anak kecil. Manusia ataupun naga, sama saja. "Kemarin kau tidak begini."


"Karena kukirha mama shudah kembalhi!" Ava tidak bisa menerima tuduhan tidak langsung yang ia terima. Bukan salahnya Siwon memilki span perhatian pendek seperti bocah pada umumnya


Argh, bagaimanapun, masalah ini harus diselesaikan.

__ADS_1


Bosan, ya? Akan Ava hilangkan kebosanan itu dengan cara yang cukup mudah.


"Kalau begitu bernyanyi saja." Lagu, dengan lagu fokus seorang anak kecil bisa dikontrol. Bukan tanpa alasan kurikulum taman kanak-kanak dipenuhi oleh pembelajaran bermelodi.


Ava mengeluarkan smartphone-nya, memilih lagu yang akan dengan mudah anak kecil ikuti, irama tradisional dengan ritme yang meningkatkan semangat mengalun.


"Akan ada seorang prajurit, yang membawa pedang yang perkasa. Dia akan menghancurkan kotamu. Oh lei, oh lai, oh tuan. Oh lei, oh lai, oh lei, oh tuan~"


Siwon sempat tersentak, tidak mengira kalau Ava akan benar-benar menyanyi. Matanya membesar kagum, terpukau sekaligus tidak percaya. Tapi tidak butuh waktu lama untuknya menggeleng-geleng seru.


"Akan ada seorang penyair, senjatanya adalah rangkaian kata. Dia akan membunuhmu dengan lidahnya. Oh lei, oh lai, oh tuan. Oh lei, oh lai, oh lei, oh tuan~" Pada momen itu, Siwon sudah bisa menyanyikan kalimat terakhir pada bait yang didendangkan Ava, lirik yang terus diulang-ulang dan melekat di telinga.


"Akan ada penguasa, yang alisnya diletakkan pada duri. Diolesi dengan minyak seperti David. Oh lei, oh lai, oh tuan. Oh lei, oh lai, oh lei, oh tuan~"


Naga mungil tersebut mengepakkan sayap dengan riang, terbangnya zig-zag, lincah seolah mengendarai angin. Meskipun begitu, kini ada yang Siwon nikmati selama perjalanan, suara merdu Ava. Untungnya, tidak ada lagi yang bisa mendistraksi si bocah naga.


Setelah itu, perjalanan mereka diteruskan dengan lancar.

__ADS_1


__ADS_2