
"Saya tidak mengalami hilang ingatan," Ava membantah.
"Aduh, saya kasihan dengan Duke Frost yang terlupakan," Rai masih saja berangan-angan kosong.
"Saya tidak kenal dengan siapapun yang Anda sebut Duke Frost," lagi-lagi, Ava menyangkal.
"Meskipun wajah Tuan Putri jarang terlihat, tapi kisah cinta kalian sangatlah populer." Rai jelas-jelas tidak mendengarkan, telinga pria itu seolah terbuntu oleh khayalannya sendiri.
Ava sebenarnya bisa saja meninggalkan Rai begitu saja, membiarkan dia menciptakan skrip teater drama dalam pikirannya. Namun, jika identitas Eve memanglah seorang putri kerajaan Edodale, semua tindakannya akan diikuti oleh masalah yang lebih kompleks dari yang seharusnya.
Pertama, Ava tidak tahu, tidak ingin tahu, dan tidak ingin mendapatkan limpahan tanggung jawab serta kewajiban sebagai keluarga royal.
Kedua, meskipun Ava dan Eve memiliki wajah yang identik, belasan bekas luka lama pada tubuhnya tidak akan cocok ditemukan dalam sekujur tubuh si Tuan Putri.
Ketiga, Ava memang ahli berakting, akan tetapi sepenuhnya mengubah jati diri sebagai orang lain tentu tidaklah mudah, akan ada banyak lubang yang ditangkap oleh orang dekat Eve seperti sikap, memori, dan selera yang tidak sama antara mereka berdua. Lagipula, dia ragu Eve akan sukarela membantunya dalam berpura-pura.
Keempat, memikirkannya saja lelah, walaupun kehidupan yang menjamin kemewahan sebagai bagian dari keluarga kerajaan amat menggoda.
Terkahir, Ava tidak mau membuang waktu lebih lama di dimensi ini,
"Nama saya adalah Rina Hoffman, pemburu biasa dari desa kecil Kerajaan Igoceolon."
"Tentu, tentu." Meskipun mengangguk, Rai terlihat sama sekali tidak berubah, tetap memegang teguh keyakinan bohongnya.
Kalau bertahan tidak mempan, Ava akan mulai menyerang. "Melihat Anda yang bisa salah mengenali orang, sepetinya Anda dan si Tuan Putri ini tidak terlalu dekat."
Untuk sejenak, Rai berhenti bergerak, benar-benar tidak menyangka pernyataan itu. "A-apa?"
"Tuan Putri ini sepertinya orang dengan status tinggi, jadi bisa saja cuma Anda yang merasa dekat dengannya."
"Y-yah, untuk itu, aku memang tidak pernah berbicara langsung, kau tidak salah." Tiba-tiba menggunakan subjek aku-kau?
"Lalu kenapa Anda sok kenal dengan saya?"
__ADS_1
"U-um." Ava telah memecahnya.
"Selain itu, bukankah akan berbahaya jika Anda ketahuan berbicara dengan seorang Tuan Putri seolah dia hanyalah pameran utama sebuah drama? Kemudian, atas dasar apa Anda menyimpulkan ini-itu tanpa memastikan kebenarannya? Bukankah pencemaran nama baik keluarga kerajaan ada hukumannya?"
Hanya desiran angin yang disertai dengan gesekan daun yang memenuhi suasana kecanggungan beku tersebut. Akhirnya, Rai mendengarkan, dan apa yang ia katakan pun dicerna.
"Saya bukanlah orang yang Anda kira. Saya juga tidak mengenal Anda. Saya tidak terkena amnesia."
"Amnesia?" Istilah itu tidak ada dalam dunia ini rupanya.
"Lupa ingatan, maksud saya. Omong-omong, Anda tidak pernah mengenalkan diri, benar?" Ava sudah tahu, tapi dia bertanya hanya untuk menghindari kecurigaan mengenai skill-nya.
Kedua tangan Rai bersidekap, bibir pria itu tertekan membentuk garis tipis, sedangkan sudut matanya menajam. Kapas pria itu terbuka, menutupi wajahnya dari dagu hingga hidung. Defensif. Sikap Rai berbanding terbalik dengan apapun yang ia lakukan tiga menit lalu.
"Jika kau bukanlah Tuan Putri, lalu apa gunanya kau hidup?"
Wow, Ava paham kalau Rai kini kesal padanya, tapi untuk kalimat seekstrim itu?
"Sebaiknya kau bicara dengan hati-hati denganku," Rai memperingati dingin.
"Saya terus berbicara dengan formal, Tuan." Benar. Ava sampai sekarang memilih kata baku dan formal, intonasinya juga sopan, hanya saja konten dalam pernyataannya yang perlu diperhalus.
Tapi Rai tidak dapat menunjuk hal tersebut sebagai bukti sumber kemarahannya. Karena ia mulai percaya kalau kemungkarannya tidaklah berdasar. Memang benar dia langsung melompat pada kesimpulan kalau gadis di depannya adalah Eve Weinhamer. Memang benar gadis itu terus saja meyakinkan kalau dia hanya salah paham. Memang benar dia tidak terlalu dekat dengan si Tuan Putri, wajahnya yang jarang terlihat di pesta kerajaan juga hanya sekali saja ia lihat, mungkin Rai hanya mengingat karakteristik penampilan Putri Weinhamer secara umum, rambut hitam pendek dan mata kelam hitam. Jadi ... dia mungkin salah. Egonya terluka dengan kesimpulan tersebut. Dia, pria 30 tahun, bertengkar dengan perempuan 10 tahun lebih muda darinya karena masalah ini?
Apapun itu, Ava berhasil menghasut Rai.
Dia hanya berharap topik ini tidak akan muncul lagi. Namun sepertinya hampir mustahil mengingat wajah mereka yang identik. Akan jauh lebih susah meyakinkan orang lain yang mengenal baik Eve si Tuan Putri Edodale, bukan kenalan jauh seperti Rai.
"Lalu untuk apa kau masuk ke hutan malam-malam seperti ini?" Menghindar tanpa meminta maaf? Ava tidak keberatan.
"Berburu, sedikit olahraga. Jika Anda belum mendengar, baru kemarin tubuhku patah diremukkan oleh katak raksasa. Perban membuat saya kaku." Jawaban normal. Dan membosankan berdasarkan standar Rai.
"Kemudian, apa yang telah kau lakukan terhadap Hao? Sampai-sampai dia sakit hati hingga mabuk berat."
__ADS_1
"Oh, saya juga bertanya-tanya, karena suatu hari dia datang, lalu langsung melamar."
"Melamar?!" Ini baru Rai dengar.
"Mungkin jika saya tidak menolak dia terlebih dahulu, saya yakin Hao akan melakukannya. Pria itu sudah berlutut dengan satu kaki di hadapan saya." Tentu Ava sedikit berlebihan, tapi Rai sepertinya menyukai ide tersebut.
"Bocah itu jatuh hati dengan cepat dan serius, hah?" gumam Rai pada dirinya sendiri, diam-diam memasukkan informasi itu ke dalam daftar olokan yang ditujukan pada Hao.
Ava menangkap perubahan dalam ekspresi Rai. Dia tidak lagi dongkol.
Sudah Ava duga, pria itu menyukai gosip dan cerita dramatis.
Jadi dia akan menyuapi imajinasi Rai dengan kisah menarik. "Hao kalau mabuk juga sangat ... liar, untung saja tidak ada banyak orang di sekitar sini."
"Ah, benar, benar, bocah itu sama sekali tidak bisa mengendalikan temperamennya, apalagi saat mabuk."
"Dan juga, meskipun Hao dengan sangat berani menyatakan perasaan saat hari pertama bertemu, dia sama sekali payah dalam merayu, tubuhnya selalu mematung setiap saya menyentuhnya."
Tawa lirih dapat Ava dengar dari balik kipas sakura. "Betul sekali, setahuku kau adalah wanita kedua yang pernah Hao sukai."
"Kedua?"
"Ah, ada satu lagi, gadis pirang yang ia temui di gate dan di bar ketika kami ada di Englerock. Tapi kisah romansa satu ini harus pupus karena Hao tidak dapat menemui wanita itu lagi, jadi tenang saja."
Tunggu, gadis pirang yang ia temui diingat dan di bar kota Englerock? Bukankah itu ... Ava ketika dalam penyamaran?
"Eh, kenapa diam saja? Cemburu?"
Cemburu apanya? Dengan diri sendiri? Ava menggeleng sembari tersenyum, "Hao malang, sudah dua kali patah hati."
Rai menyukai senyum Rina, seolah gadis itu mencemooh perasaan Hao dari segi pandangnya.
Dia tertarik dengan perempuan yang satu ini.
__ADS_1