Hellbent

Hellbent
Bab 66: Bounty


__ADS_3

Setelah mencapai daratan dan urusan logistiknya terselesaikan, Ava langsung memprioritaskan kegiatan malam, berburu untuk menabung status poin.


Hembusan dingin angin malam tidak pernah gagal membuat Ava menggigil karena kesensitifannya, jadi dia merangkap hingga tiga lapis pakaian kali ini. Bukan keputusan yang cocok ketika ingin menangkap monster, namun gadis itu lebih memilih pergerakan yang sedikit terhambat daripada terkena hipotermia.


Dia sudah membawa belasan pisau, setengahnya berlumur racun jika saja Ava bertemu dengan monster berlevel tinggi. Meskipun orang-orang di penginapan terus mengatakan kalau hanya akan ada tikus tanah sebesar kucing yang bisa diburu di tempat hutan tersebut, Ava tidak akan menurunkan penjagaannya di dunia fantasi ini, karena jujur saja masih banyak hal yang tidak ia ketahui maupun terima dalam jalan logikanya.


Rasa takut yang tidak bisa dihilangkan adalah rasa takut pada hal yang tidak diketahui atau tidak kita pahami.


Indra yang sangat peka tidak hanya memberi Ava rasa mual dan sakit kepala, salah satu sisi baiknya kini dia dapat melihat lebih jelas dalam remang cahaya rembulan merah, yang sama seperti berminggu-minggu malam yang lalu, membuat apapun yang Ava lihat sepuluh kali lebih mengancam. Hasilnya, setiap objek yang bergerak akan gadis itu lempari dengan pisau, maupun itu daun yang gugur atau monster kecil yang ia cari.


Ava melintas lebih jauh ke dalam hutan dengan kedua telapak yang menggenggam pisau, jantung berdetak keras, dan napas yang secara sadar ia atur. Derikan jangkrik menemaninya dalam setiap langkah pelan Ava ditelan deretan pepohonan.


Jadi, dalam pertahanannya, gadis itu merasa tidak salah saat ia melayangkan pisau beracun ke arah suara yang mengagetkannya, "Rina!"


Wush!


Tang!


Namun, untung saja Hao adalah ahli pedang yang sigap, seketika belati tersebut terpental ke arah semak-semak tanpa melukai pria penguntitnya tersebut.


"Mengikuti seorang gadis yang sendirian ke hutan malam-malam seperti ini bukan cara ampuh dalam merayu, kuharap kau tahu itu," Ava berucap datar, nyaris mencibir.


"Ah, River berkata kau tidak ada di kamar, dan orang-orang di penginapanmu memberitahuku kalau kau menuju hutan untuk berburu," Hao berusaha membela diri.


Jadi orang penginapan yang menyebarluaskan lokasinya, begitu saja? Ada yang janggal, tapi Ava lebih terdistraksi oleh suara renyah daun kering yang terinjak tidak jauh dari posisi mereka. Setelah Hao berhasil menyelinap di belakangnya tanpa terdeteksi, Ava memfokuskan pada pendengaran daripada penglihatan.


"Omong-omong, kau dan River memiliki kamar yang sama? ... Apa hanya ada satu ranjang di kamar itu?"


"Shhh, diam." Bukan kebetulan, langkah bergemerisik mereka menjadi satu-satunya fokus Ava. Jarak mereka lama-kelamaan menipis.

__ADS_1


Semakin dekat.


Dekat.


Di sisi lain, Hao tidak dapat mengendalikan debat jantungnya yang liar. Telapak tangan Rina menutup mulutnya. Sedangkan wajah mereka berdua sangatlah dekat, sampai-sampai Hao bisa mengukur bulu mata lebat wanita pujaannya itu. Tiga lapis pakaian yang dipakai Rina tidak menjadi pertimbangannya saat memutuskan bahwa hangat yang terpancar dari wanita tersebutlah yang membuat badannya panas.


Kalau saja perempuan di hadapannya tidak berancang-ancang untuk melempar sebuah belati dengan wajah serius, Hao pasti sudah menganggap kalau mengikuti Rina ke dalam hutan adalah katalis dalam hubungan mereka.


Wush!


"Argh! Sial!" Pekikan yang bercampur dengan rasa kejut dan lenguhan sakit seketika terdengar.


Pisau Ava mengenai seseorang.


Merasa kalau persembunyian mereka telah terbongkar, lima orang dengan pakaian serba hitam dari ujung kepala hingga kaki melompat keluar dari semak-semak.


"Mungkin karena jenis pekerjaanmu sebagai seorang bard, telingamu tajam juga," orang keenam terpincang-pincang menunjukkan keberadaannya, sebuah belati menembus lengannya yang berkucuran darah.


"Ada urusan apa kalian?" Hao langsung memposisikan dirinya di depan Rina, menamengi wanita itu seandainya akan ada serangan balasan.


"Nyawa wanita itu dihargai 15000 koin, jadi kami menginginkannya." Lima orang yang baik-baik saja perlahan memperpendek jarak antara mereka dengan Hao dan River.


"15000 koin?" Baik, siapa yang kali ini Ava cari gara-gara sampai ada yang menghargai kepalanya?


Yah, ada satu orang yang muncul dari asumsinya.


Woodrow. Kakek merak yang dalam masa-masa terakhir hidupnya dihabiskan menjadi orang pahit itu tentu tidak akan melepaskan Ava setelah mempermalukan dirinya di depan publik, ditambah lagi bar HP yang tidak juga hilang setelah insiden tersebut. Artinya, kakek tua tersebut masih berencana untuk melukai Ava, dan ukuran ekstremnya, membunuh.


Tapi darimana dia mendapatkan assassin payah seperti mereka? Peraturan pertama dalam menjadi pembunuh bayaran adalah kemampuan untuk tidak terdeteksi, tapi keenam orang itu memilih jalan yang dipenuhi daun serta ranting kering untuk dipijaki. Tanpa indra sensitif pun Ava yakin orang biasa akan mendengar langkah berisik mereka jika berkonsentrasi.

__ADS_1


Lalu, 15000 koin ... Huh.


"Apa kalian mendapat uang muka dalam pekerjaan ini?" Ava bertanya, murni penasaran.


"Tentu saja, 1000 koin untuk tiap orangnya," barulah ketika pria yang lengannya tertancap pisau itu menjawab secara refleks, ia merasa janggal. Itu bukan pertanyaan yang biasanya diajukan oleh target pembunuhan.


Gadis berambut hitam tersebut kemudian maju, menjajari Hao yang masih bersiap siaga. Dalam sinar matanya yang kelam, keserakahan bersinar dan berkilau mengerikan di bawah cahaya bulan yang merah.


Enam pembunuh bayaran itu pun masih terpaku ketika Ava menerjang maju dalam sekejap. Kecepatannya bukan main!


Dalam satu kedipan, satu lengan sudah terputus dari badan pria yang paling kanan. Berikutnya, kedua otot kaki mereka terkoyak, membuat mereka tidak bisa berdiri dan terjatuh dengan suara 'debuk' yang disertai gemerisik daun kering. Melewati orang ketiga yang sudah terluka, pisau Ava menusuk paha dan bahu orang yang tersisa.


Dalam beberapa detik, kelompok mereka sudah tumbang.


"Tunggu! Tunggu! Kata klien kau hanyalah gadis biasa yang pintar bernyanyi, kami tidak punya dendam apa-apa!" orang yang terkena pisau beracun di awal sepertinya perwakilan mereka, dari tadi hanya dia yang berbicara, kini berkilah. Itulah satu-satunya alasan Ava tidak menyerang lagi pria itu.


"Kalian seharusnya memastikan sendiri tentang data target, jangan hanya percaya apa kata klien." Plak! Satu tamparan langsung menyebabkan pria itu terjungkal ke belakang.


Beberapa tusukan tidak akan memuaskan kecenderungan picik Ava ketika ada orang yang ingin membunuhnya.


Jadi untuk setengah jam ke depan, puluhan tinju, tamparan, dan gebukan membuat kelima orang berpakaian hitam tersebut babak belur, hanya menyisakan tulang tangan mereka yang bisa digerakkan.


"Ok, kalau kalian masih sayang nyawa, berikan semua koin kalian."


Cring! Cring!


"Kuulangi lagi, semua. Satu pukulan untuk setiap koin yang tersisa di status kalian," Ava menatap perwakilan mereka dengan tajam, yang dari skill observasinya terlihat masih menyimpan 100 koin. Takluk di bawah sorotan yang membuat sekujur tubuhnya merinding, akhirnya si perwakilan menjadi orang tengah yang membawa koin mereka ke hadapan Ava langsung.


Jadi gadis itu hanya duduk santai di atas batu sembari menunggu hasil jarahannya diantar oleh pemiliknya sendiri.

__ADS_1


Hao yang dari tadi hanya menonton akhirnya sadar dari keterpesonaannya. "Jika detik ini kau kulamar lagi, jawabannya pasti "tidak" ya?"


Memasang senyum bisnis, Ava menjawab ringan, "Nah, tahu."


__ADS_2