
Bystander, pihak ketiga yang memilih tidak bertindak pada suatu kejadian. Alasan dibaliknya bermacam-macam, entah karena mereka tidak tahu cara yang benar pada saat kejadian tersebut, menggantungkan tanggung jawab yang akan datang selanjutnya kepada orang lain, atau khusus dalam kasus ini, gadis asing itu tidak ingin menjadi pelaku ataupun dijadikan musuh oleh warga desa yang lain.
Tindakan pengecut.
Kalau air mata sebanyak itu ia keluarkan untuk menyesali perbuatannya, lebih baik dia menolong lebih awal.
Setelah mendengar cerita tadi, Ava tidak mau menyisihkan rasa kasihan kepada gadis asing tersebut.
Sekarang ....
"Aku mohon biarkan aku ikut dengan kalian! Aku mohon!" Ia berlutut masih dengan wajah yang basah, tapi Ava hanya memandangnya dengan dingin.
Sejujurnya, tidak ada untung yang diberikan jika mereka menerima gadis asing itu ke dalam kelompok mereka. Dia hanyalah perempuan desa biasa yang terseret ke dalam gate, artinya tidak ada kemampuan yang bisa dimanfaatkan. Meskipun level serta status Ratu Isabel, River, dan Siwon tereset, mereka masih memiliki skill berkelas tinggi yang dapat digunakan untuk menyerang atau bertahan, tidak lupa pengetahuan dan pengalaman bertarung mereka.
Namun tentu yang paling utama, dia tidak bisa dipercaya.
Dia ingin ditolong tapi tidak mau menolong
Tanpa ada jaminan kalau gadis tersebut tidak akan meninggalkan mereka mati diserang oleh monster, atau bahkan mengkhianati, Ava menolak untuk menerimanya.
__ADS_1
Apalagi ketika persediaan makanan mereka semakin habis. Mana Ratu Isabel masih satu digit, Ava tidak bisa terus-terusan bergantung kepada skill Midas yang dimilikinya.
Tapi masalahnya, Ratu Isabel yang tadi secara impulsif menolong gadis itu, terlihat tidak mau dipandang sebagai penguasa yang egois selama ia merasa ditonton oleh orang lain. River, tentu saja, terlalu segan bahkan saat dia hanya ingin bertanya, apalagi menolak permohonan putus asa itu. Siwon di sisi lain diam, lebih karena menyerahkan semua keputusan kepada para orang dewasa.
Jadi, hanya Ava yang bisa menjadi penjahat di sini.
"Kau berbicara dengan tidak formal dari tadi." Selain sebagai si jenius alkemi, Eve juga terkenal sebagai putri kerajaan yang tidak berperasaan.
"M-maaf?" tidak menyangka pintanya disahut dengan datar, gadis asing itu terkejut, berhenti terisak untuk sesaat.
"Sepertinya desamu tidak pernah membaca koran. Atau jangan-jangan mereka tidak bisa membaca?"
Sengaja, Ava mengeraskan decakan lidahnya, "Kau tidak tahu siapa aku?"
" ... Apa aku--"
"Eve Weinhamer, putri kerajaan Edodale. Dan beliau," Ava menunjuk hormat wanita di sampingnya dengan kedua tangan, "Yang Mulia Ratu Isabel. Cih, aku tidak menyangka harus memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada rakyat jelata sepertimu."
"Rin-- Um, Putri Eve, Anda sepertinya terlalu--" Ava melirik River tajam, memperingatinya agar tidak ikut campur. Lagipula, sang ratu tidak menahannya, artinya tindakan Ava disetujui.
__ADS_1
Tetap saja, rasanya ganjal berpura-pura menjadi Eve yang dingin di hadapan Ratu Isabel yang sudah tahu identitas aslinya, River yang mengenalnya sebagai Rina si herbalis, dan Siwon yang memandang Eve sebagai figur ibunya.
Tapi keputusan ini akan lebih baik untuk rencana mereka ke depannya.
Wajah gadis asing itu seketika pucat, sadar sepenuhnya bahwa dia mengakui kejahatan tidak langsungnya di hadapan keluarga kerajaan. Penampilannya tidak rapi, bahkan bicaranya tidak sopan. Habislah dia! "Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia! Maafkan saya!"
"Tapi aku tidak ingin membuang-buang tenaga, jadi akan kuhitung sampai 10. Satu."
10?
Untuk apa?
Kebingungannya tercampur aduk oleh rasa panik. Apa yang tuan putri inginkan darinya?!
Jadi, dia mengikuti insting. Dan insting pertamanya menyuruh dia untuk berlari kabur.
"Tujuh."
"Maafkan saya, Tuan Putri! Maafkan saya, Yang Mulia!"
__ADS_1
Gadis asing itu akhirnya angkat kaki seribu langkah.