Hellbent

Hellbent
Bab 158: Sendirian


__ADS_3

"Ava!" Teriakan yang bercampur isakan tangis. "Bangun, kumohon!"


Merah menyala.


Pipinya basah, tapi seluruh tubuhnya seolah terbakar.


Panas


Amat sangat panas.


Ava sekuat tenaga membuka mulut, " ... Lexa?" Bisikannya tertutupi oleh derak api yang berkobar-kobar.


Untung, Lexa melihat manik hitam Ava yang mulai terbuka. "Ava! Bangun, kumohon, aku tidak bisa mengangkatmu!"


Ava tidak tahu apa yang Lexa ucapkan. Pandangan buramnya hanya menangkap bibir temannya yang bergerak.


Entah kenapa, berisik sekali di sini.


Berbagai suara menggema di telinganya. Ia pun bingung.


Apa yang terjadi?


Badannya lemas dan tidak bisa digerakkan, Ava tidak kuat.


Omong-omong, dadanya mulai sesak.


Kenapa ia sulit sekali bernapas?


Sekalinya menarik napas, paru-parunya seolah dipenuhi oleh api dan asap.


...


Api?


Astaga, api!


"Kebakara-- Akh!" Seketika itu kepalanya berdenyut sakit, rasanya seperti ada orang yang memukul tengkuknya dengan palu.


Ah, benar.


Ava dan Lexa baru saja keluar dari perpustakaan, kemudian dihadang oleh empat anak panti yang suka sekali mengusik.


Mereka lalu berkelahi.


Kemudian, jatuh ke boiler bawah tanah.

__ADS_1


Ava lah yang menggunakan kayu terbakar untuk membela diri.


Selanjutnya, pingsan.


...


Apakah api dari kayu yang ia bawa menjalar sampai menyebabkan kebakaran ini?


Hah ....


Ava, kau membuat masalah lagi.


Apakah dia akan dikeluarkan lagi dari panti asuhan?


Padahal, di sini ia suka memiliki teman seperti Alex dan Lexa. Si kakek direktur itu juga tidak buruk juga.


"Ava! Kumohon, ayo!"


Tubuhnya diangkat oleh Lexa, tidak berhasil. Lexa yang sudah lemah dari awal jelas-jelas kesusahan mengangkat badan Ava. Mereka jatuh dari anak tangga yang ketiga.


"Aw!"


Di antara asap, Ava mencium bau yang baru. Rambutnya terkena api, ya?


Meskipun Ava tidak dapat bergerak, Lexa menjejak-jejak keras lantai di atas kepalanya, segera memadamkan api agar tidak memanggang seluruh rambut dan wajahnya.


Hm.


"Kau ... pergi saja dulu. Huuh, aku ... nanti menyusul," pinta Ava lirih di tengah kekacauan tersebut.


Untuk kebaikan mereka berdua.


Inilah keputusan yang terbaik.


Lagipula tidak ada tempat yang akan mau menerimanya.


Dibuang orang tua.


Terus saja dikeluarkan dari panti asuhan.


Dan Ava yakin catatan perilakunya tidak akan membuatnya diadopsi oleh keluarga manapun.


Dia biang masalah.


Dia bukan anak yang penurut.

__ADS_1


... Dia juga tahu kalau suatu saat nanti si kembar juga akan meninggalkannya.


Sejak awal, mereka bergantung satu sama lain. Lexa yang pintar, Alex yang kuat.


Ava hanya gadis kesepian yang tiba-tiba menyelinap di antara mereka.


Ava ....


Hah, setidaknya ia senang bisa pergi dengan sebuah nama.


Apakah setelah mati ia akan ke neraka? Mengingat selama ini dia selalu nakal.


Tapi Lexa selalu bilang kalau konsep surga dan neraka itu omong kosong setiap kali ditanya.


Jadi mungkin ... kegelapan kosong?


Hm.


Yah ... Ava sudah terbiasa sendiri.


Karena itulah, dengan tangan bergetar, masih berdesir perih, Ava sekuat tenaga mendorong bahu Lexa.


Lagi-lagi mereka terjatuh.


Ia terkapar lemas, tapi pandangannya tajam menusuk, "Pergi sana."


Lexa tidak bisa mendengar, tapi perasaan buruk yang semakin besar mencekik lehernya, lebih menyesakkan daripada asap yang memanggang dadanya. "Tidak" ia berteriak tanpa sadar.


Ava terpejam.


"Tidak!"


Detik itulah--


"Lexa! Ava!"


Alex!


Dari tenggorokannya yang kering dan serak, "Alex!" Lexa menjerit.


"Kakek! Mereka di bawah!"


Duk! Duk! Duk!


Seseorang menuruni tangga dengan cepat. Tidak lama, dua tubuh bocah itu digendong dengan mudah.

__ADS_1


Pipi Ava bersandar pada kulit yang lembab.


__ADS_2