
Ava jadi harus mengarang alasan. “Sayang sekali jadwal kami selalu saja sibuk atau waktunya saja tidak tepat.”
“Benar, kaum barbar di daerah Utara terus saja mencari masalah, Putri Eve juga seringkali melakukan penelitian yang membutuhkan konsentrasi penuh. Dan saya paham dengan hal tersebut,” Ellijah yang sedari tadi diam akhirnya membantu Ava menghadapi lawan bicaranya.
Dengan begini mereka menang. Sekarang tugas Ava adalah menutup pembicaraan mereka dengan serangan telak. “Ah iya, bukankah kalian sudah dua tahun menikah? Apakah masih belum ada kabar baik?” Mereka masih belum dikaruniai anak. Dari lima istri sebelumnya pun, Count Wildingham juga tidak pernah menimang bayi. Sudah seharusnya pria tua itu sadar kalau dirinya mandul, waktunya untuk mengadopsi. Namun tentu saja sebagian besar masyarakat lebih tertarik untuk merendahkan pihak wanita dalam masalah ini dalam kegagalan mereka mengemban tugas sebagai perempuan. Ava yakin sudah banyak hinaan yang Countess terima sebab absensi anak dalam kehidupan mereka.
Dan tentu saja, Count dan Countess Wildingham memerah karena geram.
__ADS_1
Sayang sekali keduanya tidak dapat membalas karena kehadiran snag raja dan ratu, yang juga merupakan tanda resmi pembukaan pesta dansa. “Sambutlah Raja Edodale ke-22, Dionu Mast Frasier Weinhamer dan Ratu Isabel Gabriella Keaton Weinhamer.” Dengan seragam resmi yang mewah dan megah, raja Dion dan Ratu Isabel segera mencuri perhatian para undangan yang membungkuk secara otomatis. Setelah sambutan singkat, alunan musik dari band yang disewa memenuhi ruangan yang luas tersebut. Saatnya untuk tarian pertama.
“Maukah Anda berdansa dengan saya, Tuan Putri?” Ellijah dengan alami mengulurkan tangannya, secara adat memang pasangan pesta menjadi pasangan dansa pertama. Jadi Ava tidak memiliki alasan untuk menolak, “Dengan senang hati, Duke Frost.”
Waltz bukan tarian yang kompleks sebenarnya, hanya enam langkah dasar, tantang sebenarnya berada pada pengaplikasian bagaimana enam langkah tersebut nampak tangkas sekaligus halus serta lembut. Tugas sebagian besar tentu saja jatuh pada pihak pria yang diharuskan membimbing dansa mereka, akan tetapi pihak wanita juga wajib mengimbangi dan mengikuti arahan untuk menciptakan sinergi yang elegan.
Ellijah dan Ava menyapu lantai dansa dengan seketika. Keduanya langsung menarik perhatian puluhan mata yang memandang, selain karena status mereka yang tinggi, keserasian pasangan tersebut tidak terbantahkan malam itu. Putri Eve dan tunangannya, Duke Frost, sebenarnya lebih termasuk ke dalam pasangan yang tertutup, diluar rumor perjuangan keras Duke Frost dalam mendekati sang putri, batang hidung mereka jarang nampak di event-event sosial seperti ini. Jadi, fakta bahwa keduanya turun ke lantai dansa merupakan pertunjukan yang menarik bagi sebagian orang.
__ADS_1
“Akan sangat membahagiakan jika kau lebih sering menerima ajakanku untuk berdansa,” Ellijah berbisik tepat di telinga Ava.
Oh, artinya selama ini Eve menolaknya? Kalau memang begitu, kenapa Marvin bersikeras untuk mengajarinya waltz kalau memang Eve jarang sekali menari? Namun dia merasa perubahan seperti ini tidak terlalu drastis, bukan? “Mungkin saja, jika kau lebih banyak bersikap baik kepadaku.”
Mendengar hal tersebut, Ellijah memberanikan diri untuk mengelus bagian terbuka dari gaun yang dipakai Ava, hampir membuat gadis itu bergidik karena sentuhannya. “Apakah ini artinya kau menginginkan sesuatu dariku?”
Senyum bisnis termanis Ava terlihat, “Bisa saja, satu atau dua hal.”
__ADS_1
Dua puluh persen yang ia dapatkan selama berpura-pura menjadi Eve merupakan haknya. Ava tentu saja berencana untuk memanfaatkan klausa itu dengan semaksimal mungkin.