Hellbent

Hellbent
Bab 47: Desa Suku Cheetah


__ADS_3

Butuh kemampuan persuasi yang tinggi jika seseorang harus menyakinkan bahwa apapun yang ada di kasur itu adalah "keringat merah", untungnya Ava sudah lama menjadi penipu ulung. Semuanya memutuskan untuk percaya. Begitu juga Dom, meskipun dia masih menggerutu, tapi kekesalannya lebih kepada Ava yang menempati kasur adiknya daripada betapa konyol alasan yang dilontarkan Ava.


Reputasi Ava sebagai "pejuang kapal" mempermudah gadis itu ketika ingin mengganti kasur, jika saja dia merupakan penumpang biasa, dia yakin staf kapal akan membonusinya dengan tatapan sangar.


Tapi sekarang River mempunyai topik ceramah baru. "Ramuan yang belum tentu berhasil harus diuji dulu oleh hewan percobaan. Ikuti prosedur keamanan yang ditetapkan oleh Menara Alkemis. Bagaimana bisa kau menegak ramuan yang masih belum jelas efeknya?" Ava langsung menjelma jadi boneka dashboard mobil, hanya mengangguk-angguk pada setiap kata yang diutarakan River.


"Memangnya kau ingin membuat ramuan apa?" Ib bertanya setelah ia meminum kopi hitamnya untuk sarapan.


Ava beberapa hari itu mencoba belasan resep pada jurnal Eve, sepertiganya berhasil, tapi dia malah memunculkan sebotol ramuan pengganda EXP, sekalian promosi tokonya dalam [System]. "Ini baru saja berhasil, ramuan untuk memudahkan kita menaikkan level, dua kali lebih cepat, dijamin!"


River menelengkan kepala, merasa pernah melihat botol itu. Raut wajah Ib dan Dom sarat dengan skeptisisme. Sedangkan Lorah membelalak takjub, matanya membesar dan berbinar, dalam bayangannya bahkan ramuan tersebut disoroti cahaya.


***


"Karena kaulah keluarga kita di pandang rendah oleh warga desa!" Seorang pria ramping yang tinggi berteriak berang, gadis cilik berbulu kuning dengan totol hitam yang menjadi sasarannya hanya terdiam, meromok di bawah meja dengan tubuh bergetar.


"Hey, jaga bicaramu!" Meskipun nyaris identik, pria lain yang lebih mudah secara insting memilih melindungi adiknya.


"Kau yang harus bicara dengan sopan kepada orang yang lebih tua!"


Lorah menenggelamkan wajah ke lututnya, meringkuk erat, membuat badannya yang semula sudah kecil lebih kecil lagi. Dia ingin menghilang. Dia ingin berlari.


"Bocah itu harusnya sudah bisa berubah sepenuhnya! Kenapa sampai sekarang wujudnya masih seperti itu?!"


"Lorah! Namanya Lorah! Dan adikku sangatlah normal!"


"Dia itu cacat!"


Dom langsung menerjang pria di hadapannya, kukunya keluar untuk mencakar, tapi lawannya menyerang balik. Kedua orang itu pun bergelut di lantai, satu detik Dom di atas, detik lainnya ia ditindih. Saling menggores, menggeram, dan menggigit.


Mencium bau darah, napas Lorah semakin tidak beraturan.


Dia tahu betul kalau dirinya aneh.


Anak seusianya telah berhasil bertransformasi antara manusia dan cheetah sesuka mereka, hanya Lorah yang tertinggal. Wujudnya manusia, namun ia masih memiliki ekor, bulu kuning, dan totol hitam.

__ADS_1


Tidak ada hari dimana dia tidak berlatih, setiap detiknya ia berkucuran keringat, namun hasilnya masih sama. Ia tidak bisa bertransformasi.


Mungkin pamannya benar.


Dia cacat.


Tidak berguna.


... Seorang mutan.


Jarum es terasa menusuk salah satu sudut dadanya, dingin, kosong.


Dom, yang berada pada wujud cheetah-nya, dipenuhi luka cakar, tapi ia menang, moncongnya yang dipenuhi dengan cairan merah menyeringai. Masih terengah-engah, namun dia puas. Pria brengsek yang tidak tahu apa-apa tentang adiknya itu berkomentar seenaknya. Paman apanya, dia hanyalah pria tidak berguna yang ikut-ikutan terkenal karena orang tua mereka yang sudah meninggal.


Ayah dan ibu mereka merupakan prajurit kebanggaan desa, pasangan terkuat sekaligus tercepat yang bisa diandalkan. Sayangnya pada outbreak yang terjadi dua tahun lalu, "kecelakaan" terjadi, merenggut nyawa keduanya.


Saat para prajurit desa melawan monster minotaur setinggi 5 meter, kawanan orang dari suku beruang tiba-tiba menyerang. Suku beruang memang dari minggu-minggu yang lalu sering mencari gara-gara, tapi mereka menyerang tepat ketika para prajurit sudah kewalahan sibuk mempertahankan diri. Dan satu-satunya orang yang selamat dari insiden itu adalah paman mereka.


Beruntung? Omong kosong. Dom masih percaya kalau si keparat ini pastilah bersembunyi dalam hutan ketika semuanya bertarung, atau lebih buruk lagi bekerja sama dengan suku beruang untuk menyerang sukunya sendiri.


Tentu pria itu merasa tidak aman.


Setiap cheetah menjunjung tinggi kehormatan mereka.


Jelas dia memiliki motivasi kuat untuk menyingkirkan kakak kandungnya.


Tapi pamannya itu cerdik, langsung setelah pemakaman dilaksanakan, dengan air mata buaya yang mengalir deras, dia menyatakan akan mengasuh kedua anak yang pasangan itu tinggalkan di depan warga desa yang terisak haru mendengarnya.


Namun tinggal dengan pamannya terasa tinggal dengan sesosok iblis dalam satu atap. Ada saja keluhan yang dikeluarkan pamannya itu dengan bentakan keras. Mereka berdua, terutama Lorah, diperlakukan layaknya budak, disuruh ini itu, mereka dilarang menolak. Membantah artinya cambukan.


Mengingatnya saja membuat dada Dom panas, ia ingin berteriak.


Dia dan Lorah harus secepatnya keluar dari neraka ini. Untungnya, selama bertahun-tahun itu Dom mengumpulkan sedikit demi sedikit uang guna membekali mereka untuk kabur.


Setelah itu tidak ada lagi paman yang suka menindas mereka saat bosan.

__ADS_1


Dan tidak ada lagi warga desa yang berkata, "Berterimakasihlah kepada pamanmu, sudah baik ada orang yang mau menampung mutan seperti adikmu."


Persetan. Mutan apanya?! Lorah adalah adik yang manis, penurut, dan penyayang. Dan dia normal!


Setelah tenggelam dalam amarah, kini Dom mulai tenang, jantungnya berdetak teratur, wujudnya kembali menjadi manusia. Akan tetapi, hatinya mencelos saat menoleh. Adiknya tergeletak tidak sadarkan diri di bawah meja dapur.


"Lorah!" Dom langsung menyongsong, hampir tersandung karena karpet sialan. "Lorah!" Mata adiknya terpejam, napasnya pendek dan berantakan, dengan dentuman dada yang terlalu cepat. Tangan Dom juga basah karena keringat.


Sudut tergelap dalam pikirannya berbisik, adiknya akan mati. "Tidak! Kau tidak boleh meninggalkan aku juga!"


Dom mendekap badan kecil Lorah seerat mungkin, bergoyang maju mundur, persis seperti menimang.


Tempat inilah yang menyakiti adiknya.


Mereka harus kabur. Sekarang.


Saat itu juga Dom mengambil asal baju-baju di dalam lemari mereka, memenuhi inventorinya dengan makanan. Setelah itu keluar dari desa tersebut sekencang wujud manusianya berlari, dengan badan panas Lorah dalam pelukan.


Sayangnya, dunia luar tidak lebih baik daripada kehidupan di desa.


Setiap orang cerewet meributkan ras mereka yang berbeda dari manusia.


Jalan seorang beastman tidaklah mudah.


Mereka sering dianggap sebagai makhluk rendahan oleh manusia.


Dom dan Lorah hanya tahu satu orang beastman yang secara publik dipuji-puji.


Itu karena status mereka sebagai ranker.


Seorang dengan level tinggi.


Kalau seisi dunia mengataimu, kau hanya perlu menjadi kuat untuk membuat mereka bungkam sendiri.


Jadi jika yang Ava katakan benar, jalan mereka untuk menjadi ranker akan dipermudah.

__ADS_1


__ADS_2