
Setelah majoritas vote terkonfirmasi dan pernyataan mulai keluar, tidak ada yang bisa lepas dari cengkraman konformitas, kecuali jika mereka rela menjadi target karena perilaku yang tidak kooperatif tersebut. Dengan begitu, peran semua orang segera terbongkar. Semuanya kecuali orang bodoh yang arogan.
"Ah! Kenapa aku harus memberitahu kalian, hah?! Apa kalian akan menuliskan namaku sebagai pengkhianat?! Kubilang, pengkhianatnya bukan aku."
Mungkin kakek tua itu belum menyadari keseriusan situasi mereka, atau dia hanya tidak ingin diperintah oleh orang yang lebih mudah darinya. Ava tidak terkejut sebenarnya, banyak sekali ia temui lansia yang menuntut rasa hormat dari siapa saja tanpa memberikan rasa hormat kepada siapapun. Namun sayangnya, tidak ada yang memiliki kesabaran untuk meladeni tantrum orang tua tersebut, sebab korban pertama telah dinyatakan meninggal pagi tadi dan kamarnya masih belum kering akan darah. Energi di sekitar meja bundar itu mulai terasa berat, banyak yang memandangi kakek tersebut dengan sinar terkejut, jijik, dan tentu saja, curiga.
Pria tua itu akan menghambat misi Ava jika keadaannya terus begini.
Pada waktu seperti inilah memiliki iblis sinis yang hobinya mengadu domba orang malah bersinar terang dan bermanfaat.
"Kenapa kau takut sekali memberitahukan peranmu, hm~? Ah, kita juga bahkan tidak tahu nama aslimu, kan~?"
"Kenapa aku harus memberitahu kalian?!"
__ADS_1
"Eh, apa susahnya~? Atau memang karena ... kaulah pelaku yang kita cari?!" Dengan reaksi palsu, Asmo terkesiap oleh pernyataannya sendiri.
"Sudah kubilang bukan aku!" Wajah keriput kakek itu mulai memerah semakin tinggi ia berteriak dalam setiap kalimat. Alis lebat putihnya menekuk tajam, nyaris menyentuh sama lain saking dalamnya kening orang tua tersebut mengerut. "Kenapa kau tidak tanyakan saja ke dua teman pemuda yang mati tadi pagi?! Hah, terutama dia yang sok jadi pahlawan."
Bukan hanya si kakek membuat tensi dalam ruangan itu tidak nyaman, tuduhan tanpa dasarnya langsung membuat Dion (orang yang paling kooperatif sekaligus terlihat sungguh-sungguh ingin mengungkap misteri kematian temannya) membelalak tidak percaya. " ... Aku?" lirih Dion.
"Ya! Kalian terlibat cinta segitiga ya?! Makanya kau membunuh rivalmu agar mendapatkan teman gadismu!"
... Apakah dia serius? Sebab, Ava sama sekali tidak menangkap petunjuk apapun terkait hubungan romantis di antara ketiganya. Atau, kakek tua itu hanya melempar alasan random untuk mengalihkan kecurigaan terhadap dirinya.
"Atau malah kau! Kau yang selalu saja mencurigai semua orang! Kudengar-dengar kau adalah iblis! Iblis! Hanya orang bodoh yang percaya terhadap iblis!"
Ava setuju, tapi sepertinya rentetan si kakek tidak berhenti di situ.
__ADS_1
"Bisa saja dia!" Kini orang tua tersebut menunjuk Ellijah yang masih setengah sadar. "Dia melototiku seolah ingin mencekik saja!"
Atau kau hanyalah seorang pengecut.
"Dan kau! Jangan lupa kaulah yang paling mencurigakan! Kau yang terakhir kali menemui raja dalam catatan kemarin!"
Mungkin karena usia lanjut, pendengarannya tidak lagi berfungsi. Hal itu menjelaskan kenapa dia selalu saja berteriak, karena ia sulit mendengar suaranya sendiri. Juga, tidak bisa mendengar jelas saat Ava menerangkan alasan logis kenapa pengkhianat sebenarnya bukanlah dia pada pertemuan sebelumnya.
Atau dia hanya tidak ingin menerima skenario apapun yang membuat orang lain bebas dari kecurigaan dalam pikiran sempitnya.
"Lalu kalian berdua! Kenapa kalian tidur dalam satu kamar padahal kita diberi kamar masing-masing! Kalian merencanakan hal mencurigakan, hah?!" Pasangan anak-ibu di sebelahnya bahkan ikut tersembur. Jadi, bocah 7 tahunan yang ketakutan dan berada di area aneh dengan segerombolan orang asing tidak boleh sekamar dengan ibunya sendiri?
Teori konspirasi si kakek semakin liar.
__ADS_1
Pada titik ini, tidak akan ada yang percaya apapun yang dia katakan.
Sebab dia menjadikan seluruh peserta meja bundar sebagai musuh.