
Kepala Ava masih belum sepenuhnya berpikir secara benar.
Setelah diracuni oleh mimpi buruk yang menyakiti setiap titik rawan di hatinya, dia langsung diterjunkan ke dalam situasi yang tidak masuk akal walaupun setengah otaknya sudah menerima logika dunia fantasi ini.
Ava setengah bingung, setengahnya lagi menyerah ... atau putus asa?
Gadis itu bahkan tidak mengerti perasaannya sendiri.
Jadi dia berpegangan pada satu-satunya hal familiar yang bisa ia gapai, wajah Ellijah. Yang Ava sayangkan hanya manik biru Duke Frost, karena Alex memiliki iris coklat madu yang hangat.
Tangannya mengelus dada tunangan (palsu)-nya tersebut. "Aku baik-baik saja sekarang," bisik gadis itu menenangkan Ellijah yang jelas-jelas masih terguncang dengan apapun yang ia lihat.
Ava tidak berbohong. Yah, setidaknya secara fisik.
Meskipun sekujur tubuhnya dibasahi oleh darah dan rasa sakit yang ia rasakan pada awal proses membuat Ava lebih memilih untuk dicincang langsung, fenomena glitching selalu meninggalkan dirinya dengan sensasi segar yang mengisi kembali energi yang hilang.
" ... Baik-baik saja?" Namun Ellijah memandang Ava seolah gadis itu menumbuhkan bibir lain di wajahnya, omong kosong total. "Apa kau tahu apa yang baru saja aku lihat?! Kulitmu mengelupas-- Bukan! Seluruh badanmu berubah seperti pasir dan bergerak kesana-kemari! Darah deras! Dan astaga! Tiba-tiba menyatu lagi!"
Mendengar deskripsinya saja Ava meringis pahit. Ouw, apakah memang semengerikan itu prosesnya? Ava sebenarnya tidak pernah sempat melihat langsung, terlalu fokus untuk menjaga kewarasannya agar tetap utuh ketika tubuhnya mengalami glitching.
"Tapi semua itu sudah berlalu, aku baik-baik saja sekarang."
Usaha gadis itu dalam menenangkan Ellijah sama sekali tidak mempan. Tawa singkatnya lebih sarat akan frustasi daripada humor. "Kau sama sekali tidak paham perasaanku."
Bagaimana jantung Ellijah nyaris berhenti berdetak ketika gadis pujaannya tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri.
Bagaimana ia ingin sekali berteriak untuk meminta bantuan tapi kemudian ingat kalau Eve memintanya agar menjadikan ini rahasia.
Bagaimana pikirannya termakan oleh rasa khawatir saat cairan merah membasahi tubuh keduanya.
Bagaimana dia hanya bisa membisikkan nama tunangannya ketika pemandangan paling menakutkan terjadi langsung di depan matanya.
"Apa-apaan itu tadi?!" Kutukan? Efek dari skill seseorang?
__ADS_1
Ava sendiri tidak tahu, tapi sejak pertama kali melihatnya ia menyebutnya "glitching", karena tubuhnya yang berubah menjadi layar biru tersebut mirip sekali dengan glitch dalam komputer. Namun tidak mungkin menjelaskan hal tersebut tanpa mengambil jalur memutar jauh agar tidak menyinggung dimensi asalnya, sayangnya mental Ava terlalu lelah sekarang untuk dipakai berpikir. Jadi dia mengambil jalan pintas. "Kau sudah tahu kalau jantung manaku bocor, bukan?"
"Kau bilang itu akan sembuh dengan sendirinya?!" Ellijah berseru, nyaris menuduh. Kasus jantung mana yang bocor saja jarang sekali ada, apalagi proses pengobatannya. Dengan kata lain, pria itu tidak tahu apa-apa, yang mana hanya mengobarkan amarah panas yang melelehkan apa yang tersisa dari akal sehatnya.
"Memang, tapi begitulah prosesnya."
"Jangan --"
"Astaga, Rina!" Kepala keduanya tersentak ke arah asal suara. River berdiri dengan ekspresi horor di wajahnya, tidak jauh juga dari sana terdapat Ratu Isabel dengan kening mengerut cemas.
Pasangan itu memang sengaja diberi waktu berduaan, tapi berjam-jam tanpa kabar tentu saja menumbuhkan perasaan paranoid, terlebih mereka sedang berada di dalam labirin yang dipenuhi monster.
River langsung berlari, meninggalkan Ratu Isabel yang seharusnya ia jaga. Namun untungnya sang ratu tidak bisa menyalahkan si penjinak monster.
Gadis itu terlihat ... buruk, istilah ringannya.
Di sisi lain, Ellijah mengeratkan dekapan, berbalik, menunjukkan punggungnya kepada River yang menyongsong mereka dengan panik.
Terkejut dengan kalimat yang seolah terdengar seperti peringatan, River meledak, menunjukkan sisi tegasnya yang tidak sering muncul. "Jangan peluk dia terlalu erat! Apa kau tidak lihat seluruh tubuhnya yang berdarah! Bagaimana dengan lukanya jika bertambah parah?!"
"Kau tidak tahu--"
"Agh, aku baik-baik saja!" Terjebak di antara dua laki-laki yang saling berteriak hanya membuat Ava kesal. Ia mendorong dada Ellijah, memisahkan badan mereka. Gadis itu kemudian berdiri tegap, kokoh. "Lihat!"
Dengan hembusan kasar, Ava terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua, berjalan menuju Ratu Isabel yang masih terpaku di posisinya. "Yang Mulia, maafkan atas penampilan saya yang berantakan ini. Namun apakah saya boleh meminta tolong untuk meminjam kemampuan Yang Mulia untuk membersihkan diri?"
Sang ratu awalnya hanya diam, lalu melepaskan kecemasan yang merayapinya lewat udara. Gadis di hadapannya setidaknya terlihat tidak memiliki masalah dalam bergerak ataupun merasakan sakit. Tanpa kata, mana dengan atribut air dan angin menyelimuti Ava dari ujung kepala hingga kaki. Tidak lama kemudian, Ava bersih dan kering.
Dan benar, tidak ada luka yang terlihat dari kulit yang terekspos.
Isabel lah yang memecah kesunyian panjang di antara mereka berempat. "Sebaiknya kita bergabung dengan yang lain, tempat berkemah kita sudah siap dari tadi."
Mengangguk, Ava mengikuti langkah sang ratu.
__ADS_1
Ellijah tidak suka saat dia dicampakkan oleh Eve, tapi setidaknya si penjinak diperlakukan sama.
Dia tersenyum, mengambil hal tersebut sebagai kemenangan mental.
***
Sayangnya, Ava tidak memiliki kapasitas kesabaran yang cukup untuk menghadapi Raja Dion. Tidak saat emosinya masih tidak stabil.
"Ini tempat tidurku seorang! Hanya aku yang boleh tidur di sini!"
Pertemuan dua kelompok mereka menyebabkan pertumbuhan anggota yang mendadak. Kini terdapat 10 orang termasuk Ava di dalamnya. Jumlah yang tidak sedikit tersebut otomatis membutuhkan ruang yang lebih besar untuk dijadikan tempat perkemahan mereka. Menggunakan kayu dari peti hadiah serta pakaian-pakaian lusuh, Ava berhasil membuat kasur darurat sebagai tempat tidur mereka. Tidak cantik dan kurang nyaman, tapi itulah hal terbaik yang bisa Ava buat dari material yang terbatas.
Pada mulanya, banyak bangsawan yang protes. Namun mereka langsung diam ketika gadis tersebut menyahut tidak peduli, "Kalau begitu kalian bisa tidur langsung di atas tanah, aku tidak melarang." Mereka lalu menirukan tutorial yang ditunjukkan Ava.
Yah, mereka semua diam, kecuali satu.
Raja Dion. "Ranjangku seharusnya lebih besar, lebih empuk. Aku raja di sini!"
Ingin sekali Ava menyumpal mulut sang raja dengan kain kotor di genggamannya. Kenapa tingkah laku raja tidak berguna itu semakin tidak tertahankan?
Kemudian, apa reaksi Ava?
Ia hanya berbalik. Sekali lagi, tidak peduli. Bukan masalahnya.
Putri palsu tersebut lebih memilih untuk bermain bersama Siwon daripada menangani orang tua cerewet yang tidak tahu diuntung.
Ellijah memandangi gadis itu dengan mata lebar. Sebelah sudut bibir Ava terangkat membentuk seringai, "Bagaimana kau menangani dia kemarin-kemarin?"
"Um ..., kami tidak pernah tidur?"
Sepenuhnya menjelaskan kenapa ada kantung hitam di bawah mata Ellijah.
Tunggu dulu, jadi usahanya untuk sabar selama ini sia-sia?!
__ADS_1