Hellbent

Hellbent
Bab 30: Inovasi!


__ADS_3

Ava mengelilingi Englerock bersama dengan River yang mengikutinya seperti biasa. Ia mencari seorang pandai besi yang bisa membuat power bank yang disederhanakan. Banyak penduduk desa yang merekomendasikan tempat di belakang pasar, jadi ia mencoba pergi ke sana.


"Berhenti membuat sampah!" Belum-belum Ava disambut dengan raungan marah seorang pria tua.


"Sampah?!" Kali ini suara perempuan yang tidak kalah kerasnya menyahut, merasa terhina. "Ini penemuan terbesar abad ini! Orang tua berbau tanah sepertimu tidak akan mengerti!"


"Bau tanah?! Kau mendoakan kakekmu segera mati begitu?! Durhaka sekali!"


"Argh! Bukan begitu! Tapi kau selalu saja berpikiran sempit!"


"Kau yang keras kepala! Sudah berapa kali ini terjadi?! Kau seharusnya belajar membuat senjata!"


"Diam saja kau, Kakek tua!"


Ava dan River mematung di depan pintu. Ragu untuk masuk setelah mendengar semua itu. "Kurasa kita tidak seharusnya mendengar ini," River berbisik di atas telinganya. Ava pun setuju. "Sebaiknya kita kembali lain waktu saja," Ava buru-buru menambahkan, pasalnya ia mendengar langkah kaki yang dengan cepat menuju tempat mereka berdiri.


Namun terlambat, pintu depan menjeblak terbuka, menampakkan seorang gadis yang seumuran dengan Ava. Kulitnya yang terlihat terbakar dibubuhi bintik-bintik, begitu pula wajahnya yang kotor dengan debu dan coretan hitam. "Oh!" mata coklat gadis itu membelalak, rambut merahnya yang dikepang terkibas ketika ia menoleh marah ke belakang punggungnya, "Kau punya pelanggan, Kakek tua!"


Sosok yang identik dengan gadis di depannya muncul dari balik dinding. "Eh, selamat datang!" Meskipun wajah pria itu terlihat hampir meledak, ia masih menyapa mereka dengan ramah.


Kalau diam suasananya akan semakin canggung bukannya? Jadi Ava tersenyum, "Saya punya komisi." Sekalian saja menyelesaikan keperluannya saat itu juga.


"Ah! Saya dapat membuatkan Tuan muda dan Nona senjata yang kalian inginkan! Kuat? Indah? Sebutkan saja!" Pria yang sebagian rambut merahnya beruban itu langsung mempromosikan diri. Ava melirik gadis yang segera melarikan diri dari sana.


"Tapi saya tidak menginginkan senjata." Namun pernyataan Ava membuat gadis tersebut berhenti.


Si pria tua menukik kedua alis tebalnya, lebih terlihat seperti marah daripada bingung pada muka garangnya. "Lalu apa yang ingin Nona buat?"


"Power bank." Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh pada kata asing yang muncul dari mulut Ava.

__ADS_1


"Maaf? Power bank?" Berbanding terbalik dengan River dan kakeknya yang terheran-heran, si gadis berkepala merah hampir melompat dari duduknya, matanya berbinar-binar, nyaris menyeruduk saat ia dengan semangatnya menyongsong Ava. "Boleh kulihat rancangannya?!"


"Hei!" Si pria tua menyentak cucunya, memperingati. "Maafkan cucu saya yang berperilaku tidak sopan." Meskipun membungkuk, pria tua itu membersut ganas pada belakang kepala cucunya. Jika saja ia dan River tidak ada di sini, Ava yakin pria itu akan memukuli darah dagingnya tersebut.


Namun Ava tidak tersinggung sekalipun. Jadi dia mengeluarkan gulungan kertas dari ranselnya, membeberkannya pada meja terdekat.


Rancangan itu ia kerjakan semalaman, berusaha mengingat bagian-bagian yang ada dalam power bank ataupun sumber listrik pada umumnya. Baterai di dalamnya bisa ia gantikan dengan batu mana petir. Colokan USB bisa menyesuaikan charger yang ia bawa. Kabelnya bisa dibuat dari tembaga. Masalahnya hanya cara mengatur aliran voltase yang ada agar tidak terjadi overload atau korslet.


"Oh, batu mana petir! Tembaga memang bagus untuk mengalirkan petir! Lalu apa ini? Uesbi? Ah, kita bisa mencoba menghunakan modul yang kubuat pada bagian ini!"


"Diam saja kalau kau tidak tahu apa yang kau bicarakan!"


"Kakek tua, faktanya aku tahu! Ini jelas-jelas berhubungan dengan inovasi yang kubuat!"


"Inovasi?! Apa yang kau buat tidak ada gunanya, mana bisa dipanggil ini inovasi!"


River terus terang merasa tidak nyaman dengan dua orang yang saling berteriak di muka masing-masing. Ava pun menghentikan pertengkaran mereka sebelum argumen yang ada lebih memanas, "Lebih baik kita bicarakan masalah ini dengan sikap yang tenang," selanya dingin, memutus balasan yang lebih kejam yang bisa saja dilemparkan sepasang kakek-cucu tersebut.


Ava menurut ketika tubuhnya secara praktis diseret menuju bengkel yang berantakan. River dan si kakek buru-buru mengikuti keduanya.


Gadis itu membuka laci-lacinya, mengangkat berbagai kerangka besi dari alat-alat asing yang pertama kali Ava lihat, menyingkirkan tumpukan kertas serta buku yang menggunung, hingga akhirnya, "Aha!"


Dia membawa sirkuit listrik hijau ke hadapan Ava. Sejujurnya Ava tidak menyangka akan melihat benda berteknologi maju seperti itu dalam dunia fantasi ini. "Darimana kau mendapatkan ini?"


"Ini hasil tiruanku dari komponen salah satu hadiah artifak yang kudapatkan saat menaklukan gate beberapa bulan yang lalu!"


Jadi masih ada penghubung antara dimensi asalnya dengan dimensi ini?


Hal ini butuh penyelidikan lebih lanjut pastinya.

__ADS_1


"Kurasa inilah yang Nona butuhkan untuk membuat alat yang disebut power bank itu! Artifak asalnya juga membutuhkan tenaga petir, tapi belum banyak alat yang bersumberkan elemen petir, jadi imitasiku belum bisa digunakan. Namun kali ini pasti bisa, dengan item yang kubuat dan rancangan Nona!"


"Panggil saja aku Rina." Ava harus tetap dekat dengan gadis ini.


"Ah, saya-- maksudnya, aku Bia!"


"Mohon kerja samanya, Bia," Ava menyeringai dalam hati. Satu orang lagi yang bermanfaat.


Bia yang hanya bersemangat tanpa memikirkan arti dibalik senyum manis perempuan di depannya, mengangguk kuat-kuat dengan hati yang berdebar dalam dada. "Mari kita buat item baru yang mengguncang dunia!"


***


Bia cepat tanggap dan mata coklatnya terus saja berkobaran api. Gadis itu juga cerdas, genius bahkan. Ava mengeluarkan secuil pengetahuan dari dimensi asalnya, Bia mengikuti dengan lancar bahkan menambahkan teorinya sendiri, mencatat semua hipotesisnya dalam secarik kertas yang buru-buru ia robek dari buku kosong.


Ava juga diam-diam menanyakan asal-usul sirkuit listrik yang dijadikan sebagai komponen power bank barunya, yang dengan menggebu-gebu dijelaskan panjang lebar oleh Bia.


Gate berlevel 35 dari desa tidak jauh dari Englerock memiliki pemandangan yang tidak biasa, bangunan yang meskipun sudah roboh masih saja setinggi rumah bangsawan, pecahan kaca bertebaran dimana-mana. Ada juga belasan gerobak besi di jalan, Ava mengerti dari deskripsinya kalo itu adalah mobil. Gate itu terlihat seperti kota yang telah terkena bencana.


Monster yang berkeliaran ialah Bloodhound, anjing berkulit merah yang suka memakan daging mentah, termasuk manusia jika levelnya cukup tinggi. Misi Bia dalam gate itu hanyalah selamat selama seminggu, dan yang paling menantang adalah keterbatasan stok makanan yang dibawa, karena meskipun inventori dapat diakses, toko [System] tidak terbuka.


Namun setelah berhasil, Bia mendapatkan item yang baru pertama kali dilihatnya.


Saat itulah, Ava dikagetkan dengan apa yang ada di hadapannya.


Kipas portable, meskipun sudah dibongkar kemudian dirakit kembali dengan ceroboh komponen-komponen yang ada, Ava familiar dengan benda tersebut.


Jadi benar, gate menghubungkan dimensi asalnya dengan dimensi ini.


Tapi gedung yang hancur? Mobil yang ditelantarkan? Monster anjing?

__ADS_1


Apa yang terjadi?


__ADS_2