
Setelah kedua pertarungan selesai, penonton dengan cepat bubar. Ada yang menggerutu karena kalah taruhan, ada juga yang menyoraki gembira para pemenang.
Namun ketika Yong menghampiri Ava bersama Rai yang tersenyum layaknya rubah, gadis itu mulai was-was. Adrenalinnya masih belum turun.
"Aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan teknik pedang dari keluarga Gu." Ava tidak menyukai pandangan yang diberikan oleh Rai kepadanya, seolah dia adalah sekotak hadiah.
"Hao sangat dipengaruhi oleh emosinya tadi, aku hanya memanfaatkannya." Setiap gerakan yang ditunjukkan Hao tadi memang terlihat terlatih, tapi karena itu juga Ava dapat memprediksi polanya. Selain itu, Hao tidak benar-benar berniat bertarung, Ava berasumsi kalau duel ini hanyalah alasan agar dia lebih dekat dengannya.
"Tapi gaya bertarung Nona tetap saja impresif, saya rasa rumor mengenai Nona benar adanya," Yong mengimbuhi.
Ava nyaris melangkah mundur sebagai refleks saat Rai makin mendekat. "Karena itulah kami ingin merekrutmu ke dalam Guild kami."
"Ah, begitu juga dengan Tuan River." Dua carik kertas dengan bordir elegan jatuh ke tangan Ava dan River, kartu nama yang berisi ID.
Gadis itu menggerutu dalam hati. Argh, ini lagi.
"Maaf, tapi saya tidak berniat untuk bergabung ke kelompok manapun saat ini." Meskipun Rai masih bersikap informal kepadanya, kesopanan yang terus ditunjukkan Yong membuat Ava memutuskan untuk menolak dengan hormat.
"Ap--"
"Nona bisa menyimpan kartu nama kami terlebih dahulu. Jika Anda berubah pikiran, Nona bisa menghubungi kami," Yong membalas dengan santun, pengertian, menyela Rai yang bersikap sebaliknya, tidak terima. Pria itu langsung tutup mulut, walaupun kipas sakuranya digerakkan kasar dan kencang.
"Terima kasih atas kemurahan hati, Tuan Yong."
Selesai dengan gadis tersebut, perhatian mereka beralih pada si penjinak. River yang mendadak menjadi pusat fokus pun berkedip panik, lalu tiga detik setelah bergumam patah-patah, dia akhirnya membungkuk tepat 90 derajat.
Semuanya mengangguk paham.
***
Ava memutuskan untuk membeli lagi stok tanaman herbalnya, mungkin saja dia akan mendapatkan barang gratis seperti kemarin. Setelah mandi, River langsung jatuh tertidur setelah badannya berada di kasur. Wajar saja, mana pria itu pasti terkuras habis, jadi meskipun secara fisik dia tidak lelah, mentalnya terkena dampak signifikan. Sehingga kali ini Ava dapat menjelajahi pasar Oranera dengan bebas.
Akan tetapi kebebasan sepertinya membuat Ava lupa waktu, tahu-tahu langit sudah gelap tanpa bulan atau kerlip bintang setitik pun di langit.
... Tunggu dulu, ada yang tidak beres.
Seasyik apapun Ava berbelanja, tidak mungkin hari sudah malam. Maksimal waktu yang sebenarnya masih lah senja. Tidak ada orang yang terlihat. Sekelilingnya juga hitam tanpa warna.
Ava familiar dengan tempat seperti ini, sama ketika Eve membawanya ke alam bawah sadar.
Namun ... dia tidak pingsan?
Apakah Eve bisa memaksanya masuk?
Lalu kenapa dopplegangger-nya itu tidak muncul-muncul? Biasanya dia sudah nampak bersama lampu sorot di tengah kegelapan ini.
Ava segera memfokuskan seluruh indranya untuk menangkap stimulasi sekecil apapun.
Dag! Dig! Dug!
Detak jantungnya sendiri mendominasi, seolah berdetak tepat di telinga. Namun Ava mendengar pula ritme debaran yang tidak selaras dengannya. Lima orang.
"[Inventory]." Satu botol bius tidur serta belati beracun berpindah ke genggamannya. Inventori masih bisa digunakan, artinya ini bukan alam bawah sadar.
Ava diperangkap.
__ADS_1
"Jadi kau yang macam-macam dengan bawahanku."
Wush!
Tang!
Dua pisau terpental, menolak kehadiran masing-masing, Ava berhasil menangkis serangan di tengah udara. Mereka duluan menyerang, jadi Ava buru-buru memakai maskernya.
"Oh, kau punya refleks yang bagus." Lima orang dengan seragam gelap muncul, melebur penuh dengan sekeliling mereka yang hitam.
Ava segera menggunakan skill observasinya. Mulai dari yang tengah, yang berbicara.
Nama : Jeder Bulugan
Ras : Manusia
Level : 59
Koin : 82726288
Kekuatan : 7
Kecepatan : 14
Kelentukan : 13
Mana : 6
Elit. Empat lainnya juga berada di atas 40-an. Melawan monster berlevel 80 memang bisa dia lakukan, tapi itu ketika yang ia hadapi cuma satu. Ava tidak bisa menjamin akan keluar dengan kemenangan apabila menghadapi 5 orang berlevel medium sekaligus.
"Balas dendam." Warna hitam di sekitar mereka bergetar.
Balas dendam?
Si--
Oh!
Ava ingat seragam yang mereka pakai, seragam tersebut sama dengan yang dikenakan oleh assassin yang mengincarnya kemarin malam.
Mengingat kondisi parah luka mereka saat Ava pergi, tidak mengejutkan atasan mereka akan marah.
Lima orang itu tersentak ketika Ava yang duluan bergerak, tapi dengan sigap mereka menghindar. Berbeda dengan penjahat kelas teri seperti tadi malam, yang ia hadapi kali ini pembunuh profesional sejati.
Mereka kembali melebur dalam kegelapan, mengingatkan Ava dengan seekor katak sialan.
Wush!
Satu orang menyerang, Ava menangkis keras sampai percikan tercipta dari gesekan pisau mereka. Diam-diam gadis itu juga menyebarkan serbuk bius ke udara.
Sosok lain berniat menusuknya dari belakang, beruntung Ava bergerak ke samping, berhasil menghindar sekaligus menggores lawannya dengan pisau beracun paralisis.
Kali ini dua orang menyongsong bersamaan, Ava menunduk. Kakinya menyapu lantai, sayangnya kedua musuh tersebut melompat untuk mundur sementara.
"Jadi yang mereka katakan benar, kau bukan sekedar bard yang kerjaannya cuma bernyanyi."
__ADS_1
"Kurasa seorang penyanyi tidak akan mampu memotong anggota badan bawahanmu, benar?"
Orang yang hampir menembus level 60 itu tersenyum kejam, "Ah, benar, semuanya luka permanen, jadi unit kami pun kekurangan pekerja," diakhiri dengan tawa sadis, Jeder akhirnya ikut dalam pertarungan 5 lawan 1 tersebut.
Cring!
"Tindakanmu akan kumaafkan jika kau masuk ke dalam unit kami!" Serangan pria itu berat, tapi Ava mampu menangkis dengan poin status kekuatan yang sudah belasan.
Meskipun begitu, ada masalah yang belum terselesaikan, stamina.
Poin status yang tinggi membuatnya mudah lelah, tidak lupa juga tadi ia baru berduel dengan Hao, lalu dilanjutkan dengan berbelanja tanpa istirahat.
Ava tidak akan bertahan lama.
Kali ini tiga orang sekaligus menerjang maju, ia pun melempari wajah mereka dengan serbuk bius.
"Ah! Apa ini? Racun?" Pecahan kaca menggores pipi lawannya, wangi lavender dari bubuk yang ada juga semerbak di udara. Tiga orang yang terkena langsung diam di tempat, pusing dan tidak berani bergerak karena kesadaran mereka yang terancam terlepas.
Dua yang tersisa masih bersiap maju meskipun lebih hati-hati. Namun mereka masih tidak menyadari kalau udara yang mereka hirup sedari tadi juga mengandung bius tidur. Pergerakan mereka melambat.
Swish!
Sebilah pisau terlempar, Ava menghindar, membuat belati tersebut mengenai kawannya sendiri.
"Ah!"
"Kenapa kau tidak bergerak?!"
Satu terjatuh lemas. Dua terpaku karena bius. Ada yang terkena racun paralisis, hanya tinggal menunggu efek.
Cuma pimpinan mereka yang belum terluka, tapi Ava juga sudah lelah, terlebih masker yang ia pakai menyulitkan ia untuk bernapas.
Sekali lagi, warna hitam di sekita mereka bergetar, lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Bunyi gedoran juga terdengar keras, menggema dari dinding-dinding hitam.
"Ada yang berusaha membobol barrier kita!"
Oh, Ava kira itu cuma taktik intimidasi tadi.
Tidak lama retakan muncul, lapisan tipis hitam yang melingkupi mereka berenam terkikis menampakkan lingkungan di luar, langit senja.
Jeder terlihat sibuk mengutak-atik artifak di tangannya, masih berniat untuk memperbaiki. Namun kehancuran barrier mereka lebih cepat.
Prang!
Bunyinya seperti jendela kaca yang pecah.
"Lumpuhkan mereka." Seorang pria tinggi berdiri membelakangi matahari yang tenggelam, gagah dan berang ketika memerintahkan orang-orang yang entah datangnya dari mana.
Namun Ava mengenal wajah tersebut.
Seharusnya dia tidak ada di sini.
Seharusnya dia ... sudah tidak ada.
"Alex?"
__ADS_1