
Perjalanan Ezra menuju kerajaan Berloi tidak memiliki hambatan yang berarti. Ia masih menyayangkan Rina, aset tak ternilai dengan potensi yang bahkan tidak terukur lepas dari genggamannya. Tapi awal petualangannya tidak buruk juga. Meskipun belum dapat merekrut herbalis berambang alkemis dan penjinak monster, dia sudah menggaet seorang priestess yang memiliki skill penyembuhan ajaib. Al serta Roy yang merupakan sepasang assassin juga tidak pernah meninggalkan sisinya sebagai pelayan setia.
Mungkin waktunya mencari petarung jarak jauh, jarak menengah, atau tanker, kelas reproduksi juga lumayan berguna.
Tapi dia tidak akan menolak jika ada berlian jenis lain yang sukarela bergulir kepadanya.
Ezra menyeruput teh lemon hangat dalam diam, menyaksikan taburan bintang menemani kesendiriannya ketika berpikir. "Apakah Tuan puas dengan minuman yang keponakan saya buat?"
Air muka Ezra tidak berubah walaupun jantung dalam dadanya sempat ingin melompat keluar. Kemampuan umum seorang assassin memang mengendap-endap, kehadiran mereka akan sulit dideteksi jika seseorang tidak memiliki skill khusus atau indra yang tajam. Lebih dari tiga belas tahun sudah Al menemaninya, tapi aura pria itu memang sangat tipis sampai sering mengagetkannya sampai sekarang. "Sedikit terlalu manis untuk seleraku," Ezra membalas tenang.
Roy di sisi lain, meskipun sejak bayi sudah dilatih menjadi pembunuh bayaran ataupun pelayan, dia tidak sepenuh hati menjalankan perannya atau Roy hanya tidak memiliki bakat dalam bidang-bidang tersebut. Ezra sudah tahu kalau Roy sebenarnya tidak cocok dengan gaya hidup seperti itu, tapi dia sedang membutuhkan personel dalam pasukan yang ia buat, jadi si pangeran tidak menyarankan apapun kepada Al, membiarkan Roy menjalani hidupnya yang dipaksa lebih lama lagi, setidaknya sampai Ezra aman menduduki tahta.
"Besok kita akan sampai di Berloi," gumamnya sembari menerawang jauh.
Seperti biasa Al menjawab datar, "Benar, Tuan."
Berloi, meskipun dalam benua Meridianam yang sama, negara tersebut memiliki lingkungan yang berbanding terbalik dengan Igoceolon yang dipenuhi hutan dan berhawa sejuk. Berloi adalah kerajaan Padang pasir yang selalu mengilirkan angin kering. Selain objektif mencari seseorang dengan potensi tinggi untuk direkrut, Ezra juga berniat memecahkan masalah yang terjadi dalam salah satu kota besar di Berloi, seperti yang diduga, kekeringan.
Dia tidak memiliki seribu mage beratribut air untuk membuat sumber mata air, tapi dia memiliki artifak turun temurun dari sisi ibunya, Ratu Kedua, yang diharapkan dapat membantu, sekaligus menambah kredit skor yang akan ia dapat.
__ADS_1
Ezra hanya berharap ia tidak berpapasan dengan saudaranya yang lain, terutama Christopher, pangeran pertama, yang paling tua di antara empat bersaudara sekaligus yang paling kotor caranya.
Chris yang paling dulu lahir dan berasal dari Ratu Pertama selalu merasa kalau tahta adalah hak miliknya seorang, saudara busuknya itu terus saja berkeliling istana seolah dia sudah menjadi raja. Meskipun begitu Chris tidak memiliki bakat yang dapat menfondasi kepercayaan dirinya itu. Semua orang juga tahu betapa tidak kompetennya dia, akan tetapi tidak ada yang lantang menyatakan hal tersebut karena Chris juga terkenal akan hukumannya yang tidak masuk akal. Bersin di depan Chris, cambuk lima kali. Berbicara sambil menatap matanya langsung, penjara. Tidak cukup membungkuk, seret dengan kuda. Tentu semua itu hanya ditujukan pada rakyat lapisan menengah atau bawah, para pelayan atau prajurit dari latar belakang penduduk jelata atau bangsawan berstatus rendah. Chris cukup pintar untuk tidak mencari masalah dengan orang yang berhubungan dengan Count atau di atasnya.
Igoceolon memiliki tiga ratu. Ratu pertama dengan Chris sebagai anak tertua. Ratu ketiga lebih dulu melahirkan seorang putra sebagai anak kedua. Kemudian, Ratu kedua, Esmeralda, ibu kandungnya, tentu saja memiliki pangeran ketiga, Ezra sendiri, dan seorang putri yang baru bisa berlari bulan lalu.
Ibunya pernah melarang Ezra untuk ikut campur dalam politik kerajaan, namun dengan begitu sama saja menyerahkan Igoceolon ke tangan seorang tiran. Dia akan meringis setiap kali membayangkan Chris sebagai pemegang tahta, negara hanya akan menjadi berantakan. Selain itu, Chris yang melihat saudara-saudara lainnya hanya sebagai rintangan, meyakinkan Ezra bahwa dia akan berusaha menyingkirkan mereka setelah kekuasaannya dipastikan absolut.
Masa depan yang buruk, benar-benar buruk.
Ezra sebenarnya juga tidak terlalu suka terjerumus dalam pelik konflik politik, akan tetapi pangeran kedua, Garret, sama sekali tidak memiliki niatan untuk secara serius mengikuti Upacara Maturite. Garret adalah penggila sejarah, dia lebih memilih untuk menggali bukti peradaban jaman dahulu daripada menjadi raja. Saudara perempuannya juga masih terlalu muda. Sehingga, tinggal Ezra yang dapat menanggung kehidupan seluruh rakyat Igoceolon agar tidak terjatuh dalam kesengsaraan.
Sebuah beban berat.
Namun, kehidupan tidak selalu berjalan seperti apa yang diinginkan.
"Selamat datang, Saudaraku tercinta!"
Ezra hanya menarik sudut bibirnya guna memaksa senyum.
__ADS_1
Chris ada di hadapannya, menyeringai sembari membuka lebar lengannya, seolah mengajak Ezra untuk berpelukan, padahal mereka berdua tidak pernah sedekat itu.
Dan sepertinya Chris tidak memiliki niat untuk menyembunyikan identitasnya sebagai pangeran kerajaan sebelah, dilihat dari puluhan prajurit berarmor besi padahal suhu di gurun tersebut dapat menggoreng telur mentah di pasir, malangnya mereka terpanggang dalam seragam pelindung mereka sendiri. Selain itu, terdapat juga belasan orang yang berpakaian dengan jubah biru.
Omong-omong, dalam pelaksanaan upacara Maturite, petualangan para pangeran dan putri kerajaan diharuskan secara sembunyi-sembunyi, sehingga tidak ada pemanfaatan status ketika mereka ingin mengumpulkan skor. Tapi Ezra tahu peraturan tersebut tidak akan bisa sempurna dipatuhi, dari histori yang ia baca banyak kandidat yang melakukan berbagai persetujuan dengan status keluarga kerajaan sebagai modal, Ezra juga tidak begitu suci dengan menekan Rina ataupun River untuk mengikutinya sebagai anggota awal regu perebutan tahtanya. Namun belum ada yang segamblang Chris.
"Kalau boleh saya bertanya, siapakah ini, Yang Mulia?" Pria yang hanya mencapai pundak Chris dengan lingkar perut empat kali lebih besar menyahut semangat, meskipun keringat deras mengalir dari kepala botaknya.
"Ah, ini adikku! Yang ketiga!" Ezra sudah terbiasa mengabaikan nada mengejek setiap kali Chris merujuknya sebagai "yang ketiga". Berhubung identitas asli mereka sudah diketahui, setiap anggota kerajaan juga seharusnya tetap bersikap formal di hadapan subjeknya ataupun orang lain yang masih belum akrab.
Chris memang terkenal tidak mematuhi peraturan.
"Oh, Pangeran Ezra! Salam kenal! Senang bertemu dengan Anda!" Baru setelah itu, si botak gendut menyapanya dengan mata yang rakus.
"Senang bertemu dengan Anda juga. Saya berbicara dengan tuan siapa?"
"Ya ampun, dimana sopan santun saya? Perkenalkan, nama saya Phillip Nielsen, seorang saudagar."
Ezra mengenal nama tersebut. Phillip Nielsen, menyebutnya sebagai saudagar memang tidak salah, tapi nama itu juga terkenal sebagai ketua Guild Nielsen. Guild yang mendapat peringkat 15 dalam ranking guild sedunia, yang juga terkenal hanya menerima mage sebagai anggotanya.
__ADS_1
Mage berjubah biru, atribut air?
Darimana Chris memiliki uang sebanyak itu untuk menyewa belasan mage?