Hellbent

Hellbent
Bab 194: Another One Bite The Dust


__ADS_3

Yang menyebalkan dari paranoia adalah hal itu tidak pernah benar-benar hilang.


Malam Ava berlalu lambat. Selain dahi yang sesekali terlipat kesal dan jantung yang berdebar cemas, hanya kebisuan menemani gadis tersebut.


Pagi pun menjelang.


Sayangnya, embun serta kabut fajar hanya memperparah pikiran Ava yang abu-abu. Apalagi kabar yang ia terima saat sarapan.


***


Dion, Ava baru mengetahui nama remaja yang terlalu antusias membahas pembunuhan kemarin, berdiri tegang di samping temannya yang menangis tersedu-sedu. Yang lain melihat mereka dengan canggung, tidak lupa juga tatapan was-was yang menaikkan tensi dalam ruangan tersebut.


Cecil, remaja putri teman Dion, menemukan sahabatnya bersimbah darah tergeletak kaku di ranjang kamar.


Satu tusukan letal di dada.


Sama dengan penyebab terbunuhnya raja yang sedang mereka selidiki.


Saat itulah semuanya sadar, kematian raja bukanlah satu-satunya kasus yang harus mereka pecahkan.

__ADS_1


Dan mungkin ... jatuhnya korban tidak akan berhenti sebelum mereka menyelesaikan misi.


Bukannya Ava tidak menyangka kejadian ini. Gadis itu terbiasa menyusun berbagai skenario hidup yang pasti membawanya ke dalam lubang neraka cepat atau lambat saat suatu peristiwa buruk terjadi. Karena ia terlahir cemas, dan alarm bahaya di sudut otaknya tiap tahun semakin sering berbunyi.


"Kalian pasti tahu siapa yang membunuh temanmu!" Seolah si kakek pemarah tidak mencium bau duka cita yang kental di udara, kalimatnya membebani suasana yang dari awal sudah pekat akan kemurungan. Apalagi, nadanya yang menuduh malah memperkeruh mendung di atas kepala mereka.


"A-a-aku ...." Cecil tidak mampu menyelesaikan jawabannya, terpotong oleh lolongan pilu yang membuat sekitarnya mengerutkan kening, isakannya bertambah kencang dan menyayat hati.


Di lain sisi, Dion sangat tersinggung dan siap menerjang kakek itu kalau saja dirinya tidak disibukkan dengan Cecil yang masih terguncang. "Kami belum tahu," katanya, pahit dan panas.


Setelah pertemuan singkat yang disertai simpati canggung tersebut, tidak ada yang menolak sugesti Ava untuk mencari petunjuk, usaha yang sebelumnya hanya ditekuni dua atau tiga orang kini menjadi usaha bersama.


Klak! Klak! Klak!


Derap kaki dengan cepat menggapai Ava. "Eve," Ellijah memanggil, terdapat ketergesa-gesaan dalam suaranya.


Ava berbalik setelah berhenti melangkah. "Apa kau menemukan petunjuk, Elli?"


Dua detik keragu-raguan sudah cukup menjelaskan. Ellijah hanya ingin menempel padanya, seperti yang sudah-sudah. Namun Ava ingin sendirian, mengisolasi diri agar gemuruh lava panas dalam dadanya lebih cepat dingin, agar tremor pada ujung-ujung jarinya berkurang. Sebelum ia lagi-lagi melakukan hal impulsif yang akan dirinya sesali bertahun-tahun ke depan.

__ADS_1


"Akan lebih baik kalau kita berpencar dalam mencari petunjuk." Tanpa memberikan kesempatan Ellijah untuk membalas, Ava sudah ingin pergi, tapi telapak tangan besar menahan lengan atasnya. "Kau akan kutemani, biar lebih aman."


"Aku akan baik-baik saja meskipun sendirian."


"Tidak, kita masih belum tahu siapa pengkhianatnya. Dan aku sama sekali tidak percaya dengan para orang asing tadi, apalagi wanita yang selalu memojokkanmu." Asmo. Ava juga membenci si iblis.


Gadis itu menarik diri dari Ellijah, sepenuhnya sadar akan tatapan para pelayan yang mencuri-curi pandang ke arah mereka. Ava merapikan kusut imajiner pada lengan gaunnya, berbisik pelan agar hanya pria di depannya yang dapat mendengar. "Kau ingat misi kita? Mencapai "akhir cerita". Artinya, kita sebagai pemain adalah karakter yang memainkan peran dalam cerita tersebut. Dan sebagai permaisuri yang suaminya baru saja meninggal, kurasa tidak pantas untuk kita terlihat berdua saja." Ava sengaja tidak menghiraukan rahang Ellijah yang menegang saat ia mengatakan kalimat itu.


Oh--


Ia baru sadar. "Omong-omong, apa peran yang kau dapat?" Ellijah belum memberitahunya.


"Tidak mau."


Ava merespon sedetik lebih lambat, "Apa?"


"Aku tidak mau memberitahumu!"


Drap! Drap! Drap!

__ADS_1


Sebelum ia dapat mencerna apa yang terjadi, Ellijah telah menghilang di balik lorong istana.


... Apakah Ellijah baru saja membantahnya?


__ADS_2