
Ava berolahraga pagi itu disertai dengan tatapan dari sepasang mata emas yang menusuk belakang kepalanya, meskipun ketika ditanya pangeran itu berkata kalau ia baik-baik saja, tapi Ava secara praktis dapat melihat amarah dingin yang mengendap dalam iris pria itu.
Yah, Ezra sudah tahu kalau Ava merupakan tipe pendendam, masih kemarin komentar berlebihannya dijadikan sebagai candaan ketika makan malam yang berujung pada perjudian tersebut. Pangeran itu seharusnya telah menyangka bahwa Ava akan membalas, jadi semestinya ia tidak perlu kaget.
Ezra pasti sudah mengerti kalau Ava tidak bisa dibujuk untuk berkompromi. Kalau tidak, artinya dia memang kurang peka untuk menjadi pemimpin sebuah kerajaan, tidak perlu didukung. Namun apabila secara sengaja pangeran itu tidak menyerah, yang rugi nanti hanyalah dia.
Sebuah investasi tidak perlu diteruskan jika malah berdampak buruk, waktunya untuk berpindah ke saham lainnya, contohnya Selena, seorang Priest dengan kemampuan healing yang langka, yang kegunaannya dijamin karena skill menyembuhkan dibutuhkan di manapun. Kesuksesan yang pasti.
"Aku rasa dia marah karena kalah berjudi dengan kita kemarin malam, aku ingat dia bilang kalau uangnya hampir habis," River akhirnya berkomentar setelah tiga jam berlalu.
Kemenangan Ava terakumulasi hingga 1000 koin hanya dari kekalahan Ezra, sebenarnya jumlah yang besar, namun ia yakin uang sebanyak itu tidaklah bersifat signifikan dari belasan digit yang ia punya. Kemarahan pangeran itu jelas-jelas didasari hal yang lain, rencananya yang pupus di tengah jalan.
Jika sebenarnya malam kemarin berjalan lancar, skema yang dibuat akan membuat Ava berhutang minimal satu permintaan kepada Ezra, kemungkinan besar permintaan pria itu nanti berhubungan dengan pengumpulan skor kredit dalam proses Maturite. Akan tetapi bahkan sebelum rencana yang sebenarnya dimulai, Ava memutus jalannya ketika masih dalam tahap persiapan.
"Aku bisa menawarkan untuk membayarkan makan dan penginapan mereka selama kita ada di sini," Ava menimpali lembut, mencoba menenangkan River yang ketidaknyamanannya terlihat jelas karena membuat seseorang bangkrut, meskipun alasan terbesar adalah Ava.
Lagipula, Ava ragu kalau individu dari keluarga kerajaan dengan kehormatan tinggi seperti itu akan sudi menerima bantuan uang darinya.
River lanjut mengikutinya seraya mengangguk ragu. Mereka kemudian melanjutkan rutinitas setelah berburu beberapa monster di dekat pantai, membaca buku-buku referensi di perpustakaan, kemudian membeli macam-macam material yang dibutuhkan Ava.
Kemenangan besarnya membuat Ava sekarang dapat menyisihkan uang guna membeli perlengkapan sederhana yang digunakan oleh ahli alkimia. Artinya, dia memiliki timbangan mini, gelas beker, mortar dan alu, beserta pembakar spiritus.
Dengan begini, ia bisa mencoba resep yang lebih rumit dari jurnal Eve.
__ADS_1
Ava sudah sadar sejak lama akan hal ini, jurnal yang diberikan Eve lebih seperti kumpulan hasil penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun. Apa yang ada di dalamnya tidak hanya berupa resep obat yang diketahui kalangan umum, tapi juga ramuan yang tidak diketahui publik, contohnya saja ramuan EXP ganda yang coba Ava buat. Bubuk tanduk dari horned rabbit, jus buah pyroprun, dan akar sharkodil. Untuk bahan pertama Ava sudah mempunyai banyak persediaan dari perburuan-perburuan kemarin, pyroprun sendiri adalah buah berwarna merah yang akan mengeluarkan api ketika baru saja dipetik, berharga mahal untuk setiap buahnya. Sedangkan untuk sharkodil tidak ada yang menjualnya karena tanaman tersebut dianggap tidak berguna, meskipun banyak sekali berkembang biak seperti rumput liar di sekitar daerah pantai, untuk itulah ia akan diam-diam mencabutnya sampai akar sore nanti. Dengan begini, pengeluarannya diminimalisir.
Mengingat susahnya menaikkan level ketika sudah pada tingkatan tertentu, ramuan ini dipastikan akan menjadi populer, uang di inventorinya akan segera membengkak.
Tapi tentu saja itu pun jika yang ia lakukan berhasil, dan resep yang ditulis dipastikan autentik.
Jadi Ava membutuhkan kelinci percobaan, bukan River pastinya, pria itu sayang sekali dikorbankan jika saja resep yang ada merupakan jebakan ataupun ia gagal membuatnya.
"Wah, Rina!" River terperanjat, memekik. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang memerah. Pasalnya, Ava melepas pakaian luarnya tanpa peringatan, meskipun ia masih memakai kaus beserta celana pendek. "Pakai bajumu!"
"Aku tidak telanjang kok," Ava menangkal seraya melakukan pemanasan.
"Tapi--"
Setengah jam kemudian, Ava memutuskan untuk cukup sampai di sini saja. Air laut saat musim gugur menghilangkan panas tubuhnya, ia menggigil. River langsung menghampiri Ava dengan sehelai handuk yang ia tarik dari inventori, alis pria tersebut menukik, "Berenang ketika suhu dingin seperti ini bukanlah ide yang bagus," tegasnya.
Setelah mendapatkan setumpuk tanaman sharkodil yang dimasukkan dalam inventori, Ava dan River kembali ke penginapan, disambut oleh pandangan serakah dari Ezra yang ditemani Al dan Roy di sebelahnya. Tidak jauh dari mereka Selena duduk manis seraya menyeruput jus tomat dengan mata yang fokus pada wajah-wajah di depannya, tersenyum senang. Langit sore yang emas kemerahan memang menonjolkan kerupawanan mereka, tapi juga memberi kesan berbahaya yang tidak terlalu Ava sukai, karena impulsivitasnya akan lebih susah dikendalikan.
"Aku tidak menyarankan permainan kartu untuk malam ini," Ava memperingatkan.
Ezra terlihat tidak senang dengan usulannya, ia pun segera berdebat, "Kenapa tidak? Aku ingin mendapatkan lagi uang dari kekalahanku kemarin."
Pura-pura lelah, Ava menarik napas panjang, "Apa kau tau teori sunk cost fallacy?"
__ADS_1
Pangeran itu menaikkan sebelah alisnya, tertarik sekaligus bingung dengan istilah yang pertama kalinya ia dengar, "Apa itu?"
"Dikatakan bahwa seseorang terkadang memilih setia pada pilihan awalnya meskipun pilihan tersebut tidak menguntungkan lagi atau sudah merugikan mereka. Perjudian kemarin bisa dibilang seperti itu, " Ava menjelaskan, lalu ia melirik ke arah Selena yang masih terlena, "Jadi kau lebih baik mencari cara yang lain untuk mengembalikan uang yang hilang daripada menantang untuk berjudi lagi."
Arti lain yang Ava sampaikan adalah berhenti mengikuti, ganggu Selena saja.
Ezra terdiam sesaat, walaupun raut pria itu masih sama muramnya, Ava dapat melihat rasa curiga yang muncul di manik emas cerahnya. "Tapi bagaimana jika pilihan awal adalah yang terbaik pada akhirnya?"
"Memang siapa yang dapat memprediksi masa depan dengan akurat? Orang dengan kemampuan meramal saja masih setengah benar. Pikiran seperti itulah yang menyebabkan fenomena sunk cost fallacy sering terjadi," Ava sigap menyahut.
"Jadi menyerah?"
"Kusarankan untuk memilih jalan yang lebih aman," senyum bisnis Ava keluar. Melihat si pangeran yang hanya terpaku, begitu juga dengan Al serta Roy yang mengikuti kebisuan majikan mereka. Ava mengangkat bahu, kemudian berjalan melewati mereka untuk kembali ke kamar sewanya.
Melihat kepala berambut hitam pendek yang menghilang di balik tangga, Al akhirnya berbisik tepat di telinga Ezra yang masih terdiam.
"Dia sepertinya sudah tahu, Yang Mulia."
"Benar, kan?"
Berbeda dengan ekspektasi Ava, minat Ezra padanya malah semakin tinggi. Pandangan panasnya berakhir pada ujung tangga.
"Bukankah itu artinya dia memiliki skill yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat, seperti yang kumiliki?"
__ADS_1
"Kemungkinan besar seperti itu, Yang Mulia."