
Ava cukup cepat menerima kenyataan. Yah, dalam dunia fantasi tidak akan aneh jika ia menemukan seorang anak yang bukan hanya termasuk dalam spesies naga, dia juga bisa mengendalikan orang mati. Ava pernah melihat orang yang mengendalikan elemen layaknya kartun Avatar, River bisa memunculkan monster dari udara kosong serta memperlakukan mereka layaknya hewan peliharaan, ditambah lagi Dom yang tidak pernah malu menyembunyikan proses transformasi mereka dari manusia menjadi seekor cheetah. Jadi, Siwon tidaklah janggal. Meskipun literasi Ava mengenai ras naga masih belum mencukupi, ia cukup paham kalau spesies reptil itu memiliki bakat dalam sihir, termasuk langka, dan sering dipuja-puja.
Lagipula yang paling aneh di sini mungkin Ava sendiri, orang dari dimensi lain. Gadis itu bahkan belum menemukan alasan eksistensinya dibawa ke dunia ini.
Setelah mayat kobra raksasa tersebut berhenti berdenyut, Siwon barulah menghilangkan pasukan tengkoraknya. Pemandangan puluhan tulang belulang dengan sekejap berubah menjadi debu yang menyatu dengan tanah hanya Ava angguki paham.
"Mama, lihath! Teman barhu!" Si bocah naga itu berseru girang. Terbang ke arah tubuh ular yang tidak bernyawa, Siwon meletakkan kedua kaki depannya di dahi monster tersebut. Lingkaran rune gelap sempat melayang beberapa detik, kemudian melesat masuk ke dalam badan mungil si naga kecil, terserap di jantungnya. Sisik serta daging si kobra meleleh dengan cepat, seperti es yang dituangi oleh air mendidih. Satu menit selanjutnya, hanya kerangka ular yang tersisa.
Dan Ava sudah menyiapkan hati ketika tulang tersebut bergerak sendiri, bukan, lebih tepatnya mengikuti lambaian Siwon.
Sayangnya, Rose belum siap. Pelayan itu langsung pingsan. Ava mengkode Ellijah yang dari tadi sampai untuk menggotong Rose ke perkemahan mereka.
Sekarang, akting.
"Kau baik-baik saja?" Siwon terkikih geli, menyukai ketika badannya diangkat tinggi. Tanpa luka, bahkan debu tidak berani menempel. Walaupun begitu, Ava tetap memasang wajah khawatir. "Masih kuath!"
"Tapi lokasi kita akan semakin berbahaya," Ava dengan sengaja memberi jeda, memandangi rembulan yang sinarnya menjadi satu-satunya sumber pencahayaan, "Masih tengah malam juga." Dan, waktunya! "Apakah Siwon tidak tahu tempat lain yang bisa ditempati? Yang tertutup dan lebih aman?" Lab rahasia Eve kalau bisa.
"Oh, aku tahu! Aku tahu!"
Berhasil?
"Siwon tahu?"
Seorang anak yang sedang asyik-asyiknya, dipenuhi dengan adrenalin, lebih cenderung bersikap impulsif.
__ADS_1
"Kantornya mama!"
"Iya?"
"Ya! Ikuthi aku!"
Namun sayangnya, Siwon sadar.
"Oh!" Kepakan sayapnya terhenti, tubuh kecilnya lalu mendarat di tanah, nyaris terjungkal. Kepalanya menoleh ke belakang, menatap Ava yang masih dalam mode manipulatifnya. "Kenapa?"
"A-anu ...." Anak kecil itu sadar kalau dia telah berbuat salah.
"Kenapa, Siwon?" Ava bertanya lagi, "Ayo cepat, kita pindah saja ke kantor mamamu," menekan.
Jadi, manipulasi lah jalannya.
" Kalau begitu kami sebaiknya pergi saja dari sini."
"... Hah?"
Ava berbalik dengan dingin, sama sekali tidak menoleh. "Akan kuhubungi kapten kapal untuk segera menjemput."
"T-tunggu dulu!"
Ava terus berjalan, ia mendengar kepakan sayap yang terburu-buru.
__ADS_1
"K-alian tidhak mau lagi menginap?" Suara Siwon bergetar, dengan basah yang mengendap. Dia menahan tangis.
Iya, Ava tahu, yang dia lakukan kejam. Namun apa boleh buat, dia dikejar waktu.
Siwon kemudian terbang di depan Ava, sejajar dengan kepalanya. "Misi! Kalian ke shini karena sebuah misi, kan?" Benar, menemukan lab Eve.
"Tapi keadaan terlalu berbahaya jika diteruskan."
Akhirnya mereka sampai di gubuk Siwon. Untungnya Rose sudah siuman. "Kemasi perlengkapan kita." Meskipun bingung, pelayan itu tidak mau menanyakan perintah majikannya.
Siwon semakin panik.
"Kulindungi! Janji! Kalian akan kulindungi!" Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut seorang bocah rasanya campur aduk.
"Aku tidak mau membebani Siwon yang masih kecil." Walaupun levelnya di atas 100, Siwon memang masih di bawah umur. Bergantung kepadanya hanya membuat Ava merasa payah.
"Ta-tapi--!"
Desakan memang efektif untuk membuat seseorang mengambil keputusan buruk.
"Oke! Akan kuantar kalian ke kantor mama!"
Ava menahan diri untuk tidak mengangguk puas.
"Tapi jangan menyentuh apaphun! Mama akan marah nanthi!"
__ADS_1