
Boom!
Asap hitam mengepul di kamar Ava, ramuan double EXP yang gagal meledak di wajahnya. Meskipun tidak ada luka yang serius, suara yang keras dan asap tebal yang senada arang membuat situasi terlihat lebih serius dari yang sebenarnya.
"Rina!" River yang berseberangan kamar dengannya segera menggedor panik. Ava langsung ditarik keluar begitu ia membuka pintu, River hampir menyeretnya jika saja gadis itu tidak mengerem dengan kekuatan yang status poinnya lebih tinggi.
"Tidak ada api, hanya asap, tenang saja," meskipun Ava sudah menenangkannya, River masih belum melepaskan genggaman eratnya.
Gadis itu pun menggandeng River untuk memasuki kamarnya yang penuh asap, lalu membuka semua jendela yang ada. Tidak lama kemudian kabut hitam semakin menipis, menampakkan meja yang kacau dan pecahan kaca botol reaksi di lantai.
"Tanganku juga cuma tergores, diberi pengobatan sedikit saja besok sudah sembuh." Tetap diam, River memungut serpihan-serpihan kaca di atas sapu tangan yang ia keluarkan, tentu akan membuangnya di tempat yang tidak akan melukai siapapun nantinya. Pria tersebut juga mengelap bersih meja yang ternodai dengan cairan legam yang masih hangat dan berbau gosong.
"Ada apa?! Ada apa?!" Selena menerobos masuk ketika Ava akan mengambil sapu dari tangan River, diikuti oleh Roy dan Ezra di belakangnya.
"Eksperimen yang gagal," Ava menjawab singkat. Priest wanita itu menghampirinya, segera melihat jari Ava yang memiliki garis merah, lalu langsung menyembuhkannya.
"Kau seorang ... ahli kimia?" kali ini Ezra yang bersuara. Mungkin sebelumnya menganggap Ava sebagai warrior atau kelas petarung lainnya. Namun setelah beberapa detik, ia mengangguk mengerti, "Dipikir-pikir lagi, kemarin kau bertarung menggunakan serbuk ajaib yang membuat lawan tidak sadarkan diri." Roy mengangguk-angguk setuju.
"Tapi kau belum bergabung bersama kami kan saat itu terjadi," River yang masih tidak tahu, mempertanyakan Roy. Perannya saat itu adalah pimpinan bandit, jadi ia tidak seharusnya mengindikasikan keberadaannya yang sedang menyamar. "Aku yang menceritakannya," Ezra menyahut sigap, tidak membiarkan pelayannya yang payah berakting menjawab dengan gelagapan.
__ADS_1
River hanya bergumam "Oh", tanpa curiga. Si pangeran dan para pelayannya masih saja berusaha membodohi mereka.
Setelah membisikkan terima kasih kepada Selena, Ava menodongkan sapu yang ia pegang kepada semua orang yang ada di ruangannya, "Sekarang, kalian semua keluar, aku akan bersih-bersih."
"Eh, biar kubantu," Selena membalas riang, mengibaskan rambut perak panjangnya yang tidak tertutupi tudung.
"Aku juga," River sudah berniat seperti itu dari tadi.
"Um, Tu-- Ah, maksudku Eza, sepertinya kau dipanggil paman tadi, biar aku yang membantu mereka bersih-bersih." Sepertinya pelayan si pangeran itu tidak mau tuannya menyentuh debu sedikit pun.
Meskipun tidak rela, berdebat tentang hal ini hanya akan membuka kesempatan untuk membongkar identitas mereka, maksudnya Roy yang bahkan sudah gagap pada kalimat pertamanya tadi, menimbang hal tersebut Ezra pun menurut dan keluar setelah melihat intens apa saja yang ada di meja Ava.
"Hanya percobaan kecil," jawab Ava, menghindar. Dan River tidak menekannya lebih jauh, mungkin sudah maklum dengan sikap Ava yang tertutup, kalau ia memang berniat memberitahunya, cepat atau lambat pasti ia akan paham.
Sedangkan Selena dan Roy, yang meskipun penasaran, tidak bisa bertanya lebih lanjut karena kedekatan hubungan mereka yang pada dasarnya masih orang asing. Lagipula bertanya mengenai proses penelitian seorang ahli kimia akan dianggap tidak sopan, karena hal tersebut biasanya dirahasiakan. Produk alkimia yang ada pun pada nantinya akan dijual, jika ramuan yang dibuat berkelas tinggi dengan efek yang mujarab nantinya akan bernilai sangat mahal, yang berkualitas rendah pun masih berharga ratusan koin, jadi banyak yang berkompetisi untuk mengulik rahasia resep alkimia untuk diperdagangkan dalam bisnis. Sehingga jika seorang ahli alkimia memberitahukan resepnya, sama saja dengan menyerahkan segala hak paten dan keuntungan yang akan diraihnya nanti.
Artinya, jurnal Eve akan menjadi sumber penghasilannya yang berlimpah-limpah di masa depan.
"Jadi kau seorang ahli alkimia?" Roy mengulang lagi pertanyaan dari Ezra, memastikan.
__ADS_1
Ava diam sebentar, kemudian memasang senyum profesionalnya, "Tidak juga, karena aku tidak bisa menggunakan mana, jadi lebih tepatnya kelas herbalis?"
Herbalis adalah sub kategori perpanjangan dari ahli alkimia, secara umum seorang herbalis mengumpulkan tumbuhan serta bagian tubuh hewan serta monster yang berguna untuk dimanfaatkan dalam berbagai hal. Perbedaan dengan kelas utama ahli alkimia adalah ketidakadanya sihir yang melibatkan mana dalam proses pembuatan, ahli alkimia yang levelnya sudah tinggi dapat menggabungkan sihir dengan ramuan buatannya untuk menghasilkan efek yang lebih signifikan, kompleks, ataupun bervariasi.
"Kau tidak memiliki mana?!" Selena terkesiap. River juga meremas bahunya, membalik paksa Ava agar bertatapan langsung dengan matanya, pertama kali ia mendengar hal ini.
Ava berpikir reaksi mereka tidak akan sebesar ini, penggunaan mana untuk sihir tidak akan bisa ditutupi, jadi Ava sudah berencana untuk mengungkapkannya terlebih dahulu. Berdasarkan referensi yang ia baca, populasi orang yang tidak memiliki status tambahan berupa mana berjumlah banyak. Contoh di depannya saja sudah ada, Selena. Wanita tersebut tidak memiliki mana, melainkan kekuatan suci.
"Tapi kau punya skill untuk menyerang dan bertahan, kan?"
Kalau berbicara mengenai skill, yang ia punya hanya [Observation], akan tetapi, "Aku bisa bertahan dan menyerang tanpa kesusahan." Yang ia katakan benar, Ava memiliki kemampuan bela diri dan bertarung yang baik, ditambah dengan jumlah status poinnya yang dengan mudah ia dapatkan setiap kali membunuh monster membuat ia lebih kuat dari seseorang dengan level 40 sekalipun. Namun tetap saja semua itu bukanlah "skill".
Roy yang pertama ijin keluar setelah itu, kemungkinan melaporkan apa yang ia dengar kepada tuannya. Kemudian disusul Selena setelah wanita itu puas memandangi wajah River sembari tersenyum tidak jelas. River, tentu saja, berhasil Ava usir seusainya ia diceramahi panjang lebar mengenai perlindungan diri bagi orang yang tidak memiliki mana, hampir saja memberikan artifak pelindung jika Ava tidak menolak tegas karena hutang budinya masih banyak menumpuk.
Akhirnya Ava sendiri dalam kamarnya. Ia segera meneruskan eksperimen yang gagal tadi, kali ini tidak membiarkan satu mililiter pun lebih dari resep yang ada, menumbuk bergantian akar sharkodil, tanduk kelinci, dan bunga berapi lebih halus dari yang sebelumnya, lalu akhirnya merebus hingga mendidih. Setelah dingin, ia menuangkan ramuan yang ada ke botol silinder kecil yang ia beli. Ava bersiap, memasang kuda-kuda jika kali ini masih saja gagal. Akhirnya, ia mengocok botol tersebut secara agresif, hingga cairan yang awalnya berwarna abu-abu gelap berubah menjadi merah transparan.
Ava menunggu, mungkin ada reaksi yang terlambat. Namun tidak ada.
Berhasil.
__ADS_1
Ava kini bisa membuat ramuan double EXP.