
Partisipan yang ditarik secara paksa.
Pemecahan misteri yang tidak segera berjalan.
Kematian seorang peserta.
Dan kini, mereka disambut oleh pengumuman yang mendesak orang-orang yang berkumpul di meja bundar tersebut.
Semua kalangan bangsa semakin gelisah karena tidak adanya kabar mengenai pembunuh yang mengakhiri nyawa raja mereka. Rakyat menuntut keadilan bagi sang almarhum monarki.
Batas waktu: 24 jam
Benar, sekarang terdapat garis akhir untuk memutuskan siapa pengkhianat di antara mereka. Seolah membuat mereka semua bekerja sama saja belum cukup sulit.
"Aku masih berpikir kalau kita harus mengungkapkan peran masing-masing~" Asmo yang membuka diskusi terlebih dahulu. Namun bukannya mengukur reaksi di orang-orang lain, pandangan iblis itu hanya berfokus pada Ava.
Ia mengartikan tatapan Asmo sebagai tantangan, mengingat tolakannya atas sugesti tersebut kemarin malam. Namun ada sesuatu yang lain. Ava mengenali kilat kesenangan pada iris tipis tersebut, Lucifer membakar gambaran itu di retinanya. Seakan-akan iblis tersebut telah menang dalam permainan yang tidak tahu Ava ikuti.
Akan tetapi, tidak ada kejadian aneh yang terjadi, kecuali ...
__ADS_1
Ellijah.
Ava memusatkan perhatiannya kepada tunangan palsu yang masih duduk membungkuk karena masih mabuk. Dirinya hampir melompati meja untuk mencekik Asmo ketika ia menangkap seringai iblis itu di periferalnya.
Namun sebelum Ava dapat melakukan impuls-nya, Dion terlebih dulu menjawab. "Sa-saya juga setuju! Setidaknya, dengan begitu kita mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas apa."
"Kau ingin menuruti kata iblis?!" si pria tua seperti biasa berteriak tanpa sungkan.
"Walaupun begitu, jendela status kita masih terkunci, dia sama saja dengan manusia biasa di sini!"
Dengan logika tersebut, tidak ada yang bisa membantah, karena [Sistem] dianggap sebagai eksistensi yang Maha bisa, bahkan bagi seorang iblis sekalipun.
... Mungkin perasaan jengkelnya berasal dari sifat picik, jadi meskipun pertemuan ini masih berjalan sesuai rencana (untuk sebagian besarnya, sebab ia harus mengurus Ellijah nanti), Ava nyaris tidak dapat menghentikan dorongan untuk mencakar wajah sombong Asmo.
Teman Dion, dengan mata merah dan bengkak akibat terlalu sering menangis, walau masih terlihat tersesat dan bingung, sepertinya cukup mempercayai Dion untuk memutuskan, dia pun juga setuju.
Dengan begitu, sudah terdapat lima orang yang merespon positif.
Iris tipis iblis tersebut seolah mengejek Ava.
__ADS_1
Gadis itu ingin sekali membantah sampai akhir, hanya untuk menantang Asmo. Untungnya Ava telah memutuskan saat rasionalitasnya masih mendominasi, dan ia akan mengikuti rencana yang telah ia buat meskipun harga dirinya menjadi korban.
Sebab, mengikuti mayoritas akan menguntungkannya.
Tidak hanya ia dapat mengetahui peran orang lain, Ava pun bisa mencocokkan nama dan situasi yang ditimpakan oleh [Sistem] dalam cerita misteri ini.
Tahap dua dalam rencananya juga dapat dijalankan.
Meskipun Ava terus membayangkan kalau ia mencongkel bola mata iblis itu, putri palsu tersebut mengikuti arus diskusi.
"Seperti yang kubilang kemarin, aku adalah permaisuri raja."
Kalimat pertanda ketundukannya akhirnya terlontar. Meskipun Ava sudah bertekad, hal tersebut tidak membuat proses ini menjadi lebih mudah.
"Ouh~ Aku adalah kepala pelayan~" Ava hanya bisa mengeratkan rahang walau Asmo mengangkat dagu dengan pongah.
Ava kira Asmodeus adalah iblis jelmaan nafsu, bukan kesombongan. Atau keangkuhan hanyalah sifat dasar para iblis semua.
Ugh.
__ADS_1
Setidaknya kini, permainan mencari pengkhianat pun dapat dimulai dengan benar.
Dan Ava yakin akan menang.